Hujan turun perlahan, menyusup ke sela-sela aspal yang retak, menyesap dalam sunyi yang tak bisa dihindari. Damar berdiri di seberang butik Zahra, memandangi kaca etalase yang memantulkan bayangannya—lelaki dengan wajah letih, rambut sedikit berantakan, dan mata yang menyimpan sesuatu yang nyaris padam.
Tangannya menggenggam erat surat putih bertuliskan satu kata yang menghantam hatinya seperti badai: Pemutusan Hubungan Kerja.
Ia menarik napas dalam, berusaha mengusir rasa ragu yang berkecamuk di dadanya. Ia harus menemui Zahra.
Zahra duduk di belakang meja kasir, mengenakan blazer hijau tua yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Ia selalu tampak berwibawa—lebih dari itu, ia selalu tahu apa yang diinginkannya. Dan mungkin itulah yang membuatnya kini berbeda.
Saat bel di pintu butik berbunyi, Zahra menoleh. Matanya menangkap sosok Damar yang berdiri di ambang pintu, basah oleh gerimis yang mulai deras.
“Kamu datang,” katanya, suaranya datar, tak lagi menyimpan kehangatan seperti dulu.
Damar tersenyum tipis, melangkah mendekat. Ia merasa kecil di ruangan ini, di antara rak-rak baju mahal yang berjejer rapi, di antara aroma kopi dan parfum yang begitu khas, di hadapan Zahra yang tampak lebih mapan dari sebelumnya.
“Aku di-PHK,” katanya, suaranya nyaris tenggelam dalam suara hujan di luar.
Zahra terdiam sejenak. Lalu, tanpa ekspresi yang jelas, ia menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Lalu, apa rencanamu?” tanyanya akhirnya.
Damar meremas kertas di tangannya. “Aku belum tahu.”
Zahra mengangguk pelan. Seolah-olah itu adalah jawaban yang sudah ia duga. Seolah-olah inilah yang ia takutkan selama ini.
Lalu, ia tertawa. Kecil, getir, seperti angin yang menyelinap melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
“Aku selalu mencintaimu, Dam,” katanya, “tapi aku takut.”
Damar menatapnya. “Takut?”
“Takut akan masa depan kita.” Zahra memainkan ujung blazernya, menghindari tatapan Damar. “Aku butuh kepastian, Dam. Aku ingin hidup yang mapan, tanpa harus khawatir apakah kita bisa membayar cicilan rumah bulan depan atau tidak.”
Damar terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, sesuatu yang membuat dadanya terasa berat.
“Aku pikir kita sudah membicarakan ini berkali-kali, Zahra.”
“Aku tahu,” suara Zahra nyaris berbisik, “tapi kenyataan tidak seindah itu.”
Damar tersenyum, getir. Ia selalu tahu bahwa keluarga Zahra tidak pernah merestuinya. Ia hanya seorang sarjana biasa dengan gaji UMR yang bahkan sudah tak lagi ia miliki sekarang. Sementara Zahra? Ia wanita mandiri, pemilik butik yang sukses, bergelar S2 dan Haji. Mereka berasal dari dua dunia yang berbeda—dan kini, dunia itu semakin menjauh.
“Kau ingin aku pergi?” tanyanya akhirnya.
Zahra menggeleng. “Aku tidak ingin kita berpisah, tapi…”
“Tapi kau juga tidak yakin ingin aku tetap tinggal.”
Zahra tak menjawab. Dan itulah jawaban yang sebenarnya.
Hujan semakin deras ketika Damar melangkah keluar dari butik. Langit Jakarta muram, seakan ikut meratapi sesuatu yang akan patah, sesuatu yang tak lagi bisa dipertahankan.
Di belakangnya, Zahra berdiri di ambang pintu, memandangi punggungnya yang perlahan menjauh.
“Damar,” panggilnya pelan, suaranya nyaris tertelan oleh derasnya hujan.
Damar berhenti. Ia tak berbalik.
“Aku mencintaimu,” bisik Zahra.
Damar menutup matanya, membiarkan kata-kata itu meresap dalam kesadarannya. Ia ingin percaya, ingin sekali percaya bahwa cinta saja cukup untuk melawan dunia.
Tapi ia tahu, tidak ada gunanya berjuang sendirian.
Ia melangkah lagi, membiarkan hujan menyelimuti tubuhnya. Ia mendongak ke langit, membiarkan tetes-tetes air jatuh ke wajahnya, menyamarkan air mata yang akhirnya jatuh juga.
Di sudut hatinya yang pali
ng sunyi, ia tahu: cinta ini tidak mati, hanya patah di tengah jalan.
0Komentar