PRABA INSIGHT- Pagi itu, embun masih menggantung di pucuk-pucuk daun, sementara kabut tipis menyelimuti desa kecil di lereng bukit. Darma duduk di tepi ranjang, menatap wajah istrinya, Siti, yang masih terpejam. Di sampingnya, anaknya yang baru berusia lima tahun, Rafi, tertidur pulas dengan tangan kecilnya menggenggam ujung sarung ayahnya.
Darma menarik napas panjang. Hari ini ia harus pergi. Ke kota. Ke tempat yang katanya penuh harapan.
“Ibu titip Rafi ya, Mas,” suara Siti lirih, matanya berkaca-kaca.
Darma mengangguk, mencoba tersenyum meski hatinya berat. “Aku akan kirim uang tiap bulan. Doakan aku kuat di sana.”
Mengejar Harapan di Kota
Kota besar menyambut Darma dengan hiruk-pikuk yang asing. Asap kendaraan bercampur terik matahari membuat kepalanya pening. Tapi ia tak punya pilihan. Berbekal sedikit uang dan tekad yang besar, ia mencari pekerjaan.
Beruntung, seorang kenalan dari kampung, Warno, membawanya ke sebuah proyek bangunan di pinggiran kota. “Kamu bisa ngaduk semen, kan?” tanya Warno sambil menyulut rokok.
Darma mengangguk. Di kampung, ia sering membantu membangun rumah warga. Tak ada sertifikat keahlian, tapi tangan dan tubuhnya sudah terlatih.
Hari pertama bekerja, ia sudah harus mengangkut puluhan sak semen, mencampur pasir dan air, lalu menuangkannya ke dalam cetakan bata. Kuli bangunan tak hanya sekadar mengangkat bahan, tapi juga memahami perintah mandor, menjaga keseimbangan di atas scaffolding, dan memastikan dinding berdiri kokoh.
Gaji yang dijanjikan Rp120 ribu per hari, tapi pembayaran sering telat. Sementara itu, utangnya di warung proyek makin menumpuk. Warung Mak Narti, tempat biasa para pekerja berhutang, mencatat namanya di buku kecil dengan coretan yang semakin panjang.
“Mak, saya bayar separuh dulu ya, nanti kalau gajian lunasin semua,” ujar Darma malu-malu.
Mak Narti hanya tersenyum. “Yang penting kamu bisa makan dulu, Nak.”
Janji yang Tak Ditepati
Menjelang Ramadhan, Darma makin giat bekerja. Ia ingin mengirim uang lebih banyak untuk Siti dan Rafi. Tapi di suatu pagi, mandor proyek, Pak Joko, mengumpulkan para pekerja.
“Pekerjaan hampir selesai, jadi sebagian dari kalian harus berhenti.”
Dunia seakan runtuh bagi Darma. Ia berharap bisa bekerja sampai Lebaran, tapi kenyataan berkata lain. Namun, beberapa hari kemudian, ia mendapat kabar bahwa mandor masih membutuhkan tenaga tambahan. Darma kembali bekerja dengan harapan baru.
Sayangnya, itu hanya bertahan sebulan. Beberapa hari sebelum puasa, proyek benar-benar berhenti. Kali ini, tidak ada panggilan kembali.
Darma merasa dikhianati. “Katanya sampai Lebaran?” tanyanya pada Warno, yang hanya bisa menggeleng lesu.
Tak ada jawaban. Semua kontraktor menutup lowongan. Tak ada proyek baru. Tak ada pekerjaan.
Terjebak di Kota
Darma terkatung-katung di kota besar. Tidurnya berpindah-pindah, kadang di bedeng proyek yang sudah kosong, kadang di emperan warung. Sisa uangnya hanya cukup untuk makan sehari sekali.
Ia mencoba mencari pekerjaan serabutan. Mengangkat barang di pasar, menjadi kuli panggul di toko bangunan, bahkan menawarkan tenaganya untuk membersihkan rumah orang. Tapi Ramadhan kali ini terasa begitu berat.
Hari demi hari berlalu. Lebaran tinggal menghitung hari, tapi Darma masih tak punya cukup uang untuk pulang.
Ia duduk di trotoar, menatap langit kota yang penuh lampu. Ia ingin pulang. Ia ingin memeluk Rafi, ingin mendengar suara Siti menyambutnya di rumah. Tapi tiket bus terlalu mahal, dan uangnya bahkan tak cukup untuk makan dua hari ke depan.
“Ya Allah, beri aku jalan,” bisiknya lirih.
Keajaiban di Ujung Ramadhan
Dua hari sebelum Lebaran, sebuah telepon datang.
“Darma, ada kerjaan kecil di proyek lama. Cuma dua hari, tapi cukup buat ongkos pulang,” suara Warno di ujung telepon membuat matanya berkaca-kaca.
Tanpa pikir panjang, Darma bergegas. Selama dua hari, ia mengangkat material, memasang paving block, dan membersihkan sisa proyek. Gajinya tak seberapa, tapi cukup untuk membeli tiket bus pulang.
Malam takbiran, ia duduk di bangku bus dengan hati lega. Di kampung, Siti dan Rafi pasti sedang menunggu.
Kota besar memang penuh janji yang tak selalu ditepati, tapi kali ini, Darma tahu bahwa ia masih punya sesuatu yang lebih berharga rumah, keluarga, dan harapan yang tak pernah padam.
0Komentar