Menu

Mode Gelap
Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

Sejarah

Raden Suprapto: Sahabat Soedirman yang Hidupnya Berakhir Tragis di Lubang Buaya

badge-check


					Kisah Raden Suprapto, sahabat dekat Jenderal Soedirman yang karier militernya cemerlang namun berakhir tragis di Lubang Buaya dalam peristiwa G30S/PKI.(Foto: Istimewa) Perbesar

Kisah Raden Suprapto, sahabat dekat Jenderal Soedirman yang karier militernya cemerlang namun berakhir tragis di Lubang Buaya dalam peristiwa G30S/PKI.(Foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT – Kalau dengar nama Raden Suprapto, ingatan kita langsung loncat ke daftar Pahlawan Revolusi. Sosoknya muncul dalam film Pengkhianatan G30S/PKI digambarkan sebagai tentara berdedikasi tinggi yang bahkan ketika sakit kepala masih sempat bikin sketsa Museum Perjuangan. Ironisnya, beberapa jam setelah itu, hidupnya direnggut dengan cara paling tragis: diculik, ditembak, dan jasadnya dibuang ke Lubang Buaya.

Dari Purwokerto ke Dunia Militer

Suprapto lahir di Purwokerto pada 20 Juni 1920, dari keluarga priyayi Jawa. Pendidikan awalnya ditempuh di HIS, lalu lanjut ke MULO dan AMS Yogyakarta. Otaknya encer, semangatnya militer banget, sampai akhirnya masuk Koninklijk Militaire Akademie (KMA) di Bandung. Sayang, Jepang keburu datang, akademi bubar, dan Suprapto nggak sempat lulus.

Di masa pendudukan Jepang, ia sempat ditawan. Tapi hidupnya mirip drama laga: bukannya pasrah, ia berhasil kabur. Di Purwokerto, ia bertemu dengan seorang guru sekolah yang kemudian jadi Panglima Besar: Soedirman. Pertemuan itu bukan cuma pertemanan biasa, tapi persekutuan dua jiwa pejuang yang sama-sama pengin negeri ini merdeka beneran, bukan cuma ganti penjajah.

Aktif Merebut Senjata Jepang

Pasca Proklamasi 1945, Suprapto nggak buang waktu. Ia aktif merebut senjata dari Jepang, lalu dipercaya Kolonel Soedirman jadi Kepala Bagian II Divisi V TKR. Ia ikut terjun dalam Pertempuran Ambarawa pertempuran yang sampai sekarang dianggap titik balik lahirnya kekuatan militer Indonesia.

Kariernya menanjak cepat: pernah jadi ajudan Soedirman, lalu Kepala Staf Teritorium Diponegoro, hingga akhirnya duduk di kursi Wakil KSAD. Suprapto juga dikenal akrab dengan tokoh-tokoh besar macam Nasution dan Gatot Subroto. Bahkan, ia ikut mencicipi riuhnya politik militer Indonesia lewat Peristiwa 17 Oktober 1952.

Hidup Sederhana, Berakhir Tragis

Meski karier militernya cemerlang, Suprapto dikenal sederhana dan tegas. Bukan tipe pejabat yang sibuk cari panggung. Sayangnya, semua dedikasi itu harus berhenti pada 1 Oktober 1965. Pasukan Tjakrabirawa menyeretnya dari rumah. Ia ditembak, lalu jasadnya dilempar begitu saja ke Lubang Buaya bersama enam jenderal lain.

Beberapa hari kemudian, tepat pada 5 Oktober 1965 bertepatan dengan Hari ABRI jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan. Sejak saat itu, nama Raden Suprapto resmi dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.

Hidup Raden Suprapto seperti jalan berliku: dari anak priyayi Jawa, sahabat dekat Soedirman, sampai pejabat tinggi militer. Tapi akhirnya, sejarah menuliskannya sebagai korban tragedi politik paling kelam bangsa ini. Ironis, tapi di situlah simbol pengorbanan: bahwa cinta tanah air kadang dibayar dengan nyawa.

Penulis : Ris Tanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Skandal Sum Kuning: Dari Korban Jadi Tersangka, Saat Hukum Tunduk pada Kuasa

26 April 2026 - 23:45

Benarkah Firaun Tewas Tenggelam? Temuan Ilmiah Ini Malah Berujung Jadi Bahan Candaan

6 April 2026 - 10:46

Mengenang Tragedi Mudik 2016 di Brexit, Macet Ekstrem yang Berujung Duka dan Pilu

26 Februari 2026 - 11:56

Perang Tanpa Peluru: Agus Salim, Baswedan, dan Diplomasi yang Menyelamatkan Republik

28 Desember 2025 - 12:41

Kenapa Toraja Kristen Sedangkan Tetangganya Islam? Ini Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui

2 Desember 2025 - 15:31

Trending di Sejarah