PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Internet memang punya satu kebiasaan yang sulit dibendung: kalau ada yang janggal, cepat atau lambat pasti ketahuan. Kali ini, perhatian publik tertuju pada situs resmi promosi pariwisata Indonesia, indonesia.travel, yang diduga menggunakan foto promosi milik brand busana asal Malaysia, Amar Amran.
Perbincangan itu bermula ketika sejumlah pengguna media sosial membandingkan tampilan foto di kedua situs. Mereka menemukan kemiripan yang dinilai terlalu mencolok untuk dianggap kebetulan. Mulai dari pose model pria, busana kurung yang dikenakan, hingga sudut pengambilan gambar dan komposisinya terlihat nyaris identik.
Temuan tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memicu diskusi panjang. Tak sedikit warganet mempertanyakan bagaimana foto yang diduga berasal dari materi promosi sebuah merek fesyen Malaysia bisa muncul di portal resmi promosi pariwisata Indonesia.
Yang menarik, respons publik Indonesia tidak berjalan dalam satu suara. Sebagian warganet justru menyatakan mendukung apabila pihak Amar Amran atau pemilik sah foto tersebut memilih menempuh jalur hukum ataupun mengirimkan somasi kepada pemerintah Indonesia, apabila nantinya terbukti penggunaan gambar dilakukan tanpa memperoleh izin dari pemegang hak.
Di sisi lain, ada pula kelompok warganet yang memilih menahan diri dari mengambil kesimpulan. Mereka mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata, agar segera memberikan penjelasan resmi terkait asal-usul foto tersebut. Menurut mereka, klarifikasi diperlukan agar polemik yang terus bergulir di media sosial tidak berkembang menjadi spekulasi yang semakin liar.
Hingga kini, Kementerian Pariwisata belum menyampaikan keterangan resmi mengenai sumber maupun status lisensi gambar yang ditampilkan di situs indonesia.travel.
Karena belum ada penjelasan dari pihak berwenang, dugaan pelanggaran hak cipta atas penggunaan foto tersebut masih belum dapat dipastikan kebenarannya. Publik pun masih menunggu klarifikasi resmi untuk mengetahui apakah foto tersebut memang digunakan berdasarkan izin, lisensi yang sah, atau justru terjadi kesalahan dalam proses pengelolaan materi promosi digital.
Sampai ada pernyataan resmi dari pihak terkait, polemik ini masih berada pada tahap dugaan dan belum dapat disimpulkan sebagai pelanggaran hak cipta.







