Menu

Mode Gelap
Fasum Kalideres Harusnya Jadi Taman, Malah Dikuasai Bangunan Liar Geger Nampan MBG Disebut Pakai Minyak Babi, Pemerintah: Tenang, Bisa Diuji di BPOM Kisruh Demo di Senayan, Nurul Arifin Janji Perjuangkan Aspirasi dengan Syarat Ini? Kado Ultah Sri Mulyani: Puluhan Karangan Bunga Protes dari Dosen ASN, Isinya Bikin Geleng-Geleng Kepala Indonesia Punya Uranium dan Thorium Segunung, tapi Rakyatnya Masih Ribut Bayar Token Listrik Solidaritas PSI Pemalang Ternyata Rungkad, Ketua DPD Diganti Lewat Pesan WA

OPINI

‎Ransel, Sepatu, dan Tusuk Gigi: Langkah Kecil

badge-check


					Kisah pebisnis sukses yang memulai segalanya dari nol pasti sering kita dengar. Tapi, pernahkah kita bertanya, seperti apa sih sebenarnya bentuk “nol” itu? Apakah harus dimulai dari ide jenius, teknologi canggih, atau suntikan dana dari investor kakap?(Foto: istimewa) Perbesar

Kisah pebisnis sukses yang memulai segalanya dari nol pasti sering kita dengar. Tapi, pernahkah kita bertanya, seperti apa sih sebenarnya bentuk “nol” itu? Apakah harus dimulai dari ide jenius, teknologi canggih, atau suntikan dana dari investor kakap?(Foto: istimewa)

Membangun Mental Wirausaha Anak Muda

‎Kita sering mendengar cerita tentang wirausaha sukses yang membangun bisnisnya dari nol.

‎Tapi, bagaimana sebenarnya bentuk “nol” itu? Apakah harus punya ide cemerlang, teknologi tinggi, atau dana investor besar?

‎Tidak selalu.

‎Kadang, “nol” itu sesederhana mengisi ransel dengan tusuk gigi, memakai sepatu yang

‎ada, men-starter motor, dan mulai mengetuk satu per satu pintu warung makan di sekitar rumah.

‎Inilah cerita tentang bagaimana tusuk gigi bisa menjadi entri point bagi anak muda untuk

‎melatih mental wirausaha, membangun kebiasaan bekerja, dan pada akhirnya membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan.

‎Modal Ransel dan Semangat Jalan

‎Dengan modal awal sekitar Rp 1–4 juta, seorang anak muda bisa membeli 500–2.000 pack

‎tusuk gigi dari distributor grosir. Tidak perlu tempat usaha, tidak perlu rak pajangan, cukup ransel yang bisa dibawa keliling. Barangnya ringan, kecil, dan mudah dibawa.

‎Harga beli per pack sekitar Rp 1.800. Dijual kembali ke warung makan seharga Rp 2.500– 3.000, menghasilkan margin sekitar Rp 700–1.200 per pack.

‎Jika sehari bisa menjual 100 pack saja, keuntungan hariannya bisa mencapai Rp 70.000– ‎100.000. Dikalikan 26 hari kerja, hasilnya setara Rp 2–2,6 juta per bulan — dan itu hanya dari satu produk.

‎Warung Makan: Pasar yang Luas dan Konsisten

‎Setiap kecamatan di Indonesia memiliki ratusan bahkan ribuan warung makan dan kelontong ‎kecil. Inilah yang jarang disadari: mereka semua butuh tusuk gigi, tisu makan, sendok plastik, dan peralatan makan lainnya setiap hari.

‎Artinya, ini adalah pasar yang tidak pernah tidur.

‎Produk habis → warung pesan lagi → kamu antar lagi → omzet rutin.

‎Dengan sedikit usaha mendata warung di sekitar, pelaku bisa membangun jaringan pelanggan tetap. Cukup 30–50 warung aktif yang rutin order, bisnis ini bisa memberi penghasilan bulanan setara atau melebihi UMR.

‎Lebih dari Sekadar Jualan: Ini Soal Mental Wirausaha

‎Model usaha ini bukan hanya tentang mencari untung. Tapi lebih dari itu: ini adalah latihan mental bagi anak muda.

‎• Melatih berani berbicara dengan orang asing

‎• Membangun kebiasaan disiplin dan tanggung jawab

‎• Belajar mengelola uang hasil kerja sendiri

‎• Belajar menerima penolakan tanpa menyerah

‎• Belajar membangun hubungan dengan pelanggan

‎Semua ini tidak diajarkan di bangku sekolah secara langsung, tapi bisa dipelajari di lapangan — melalui tusuk gigi dan warung-warung kecil di sekitar kita.

‎Dari Satu Produk ke Banyak Peluang

‎Ketika pelanggan sudah percaya, pintu berikutnya terbuka. Anak muda bisa mulai

‎menawarkan produk tambahan:

‎• Tisu makan

‎• Sendok & sedotan plastik

‎• Tusuk sate

‎• Kantong plastik kecil

‎Dengan setiap kunjungan warung membeli lebih dari satu produk, margin bertambah. Hasil bersih harian bisa meningkat menjadi Rp 100.000–150.000. Dalam satu bulan, angka itu berubah menjadi Rp 3–4 juta, bahkan lebih.

‎Dan ketika jaringan sudah cukup luas, pelaku bisa mulai merekrut mitra, membagi area, dan ‎bertindak sebagai distributor kecil. Dari yang awalnya berjuang sendiri, perlahan membangun sistem sederhana. Ini bukan hanya bertahan hidup, tapi bertumbuh.

‎Bisnis Mikro, Potensi Besar

‎Model bisnis seperti ini cocok diterapkan di kota kecil maupun besar. Ia tidak membutuhkan gedung, izin rumit, atau koneksi elite. Yang dibutuhkan hanyalah:

‎• Keberanian memulai

‎• Kedisiplinan menjaga rutinitas

‎• Kemauan untuk terus belajar dari proses

‎Bayangkan jika setiap desa atau kelurahan memiliki 2–3 anak muda yang menjalankan usaha ini. Efeknya bukan hanya pada penghasilan pribadi, tapi juga pada ekonomi lokal dan regenerasi pengusaha mikro yang nyata.

‎Mental Usaha Lahir di Jalanan, Bukan di PowerPoint

‎Kadang, kita terlalu lama menunggu ide besar, sambil lupa bahwa kesempatan kecil di depan mata justru bisa jadi awal perubahan besar.

‎Tusuk gigi memang kecil. Tapi ia bisa jadi medium untuk melatih karakter, semangat, dan kerja nyata anak muda Indonesia. Cukup isi ranselmu, pakai sepatumu, starter motormu, dan jalan.Hari ini mungkin kamu jualan tusuk gigi, tapi esok kamu bisa jadi penggerak ekonomi di kampungmu sendiri.

 

Ditulis oleh Okky Ardiansyah SE – Pemerhati Ekonomi Kreatif dan Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Usut Tuntas Aksi Anarkis dan Pembakaran motor dan Mobil Dalam Aksi Demonstrasi di DPR

26 Agustus 2025 - 16:00 WIB

BMI Siap Gelar Munas Perdana: Bursa Calon Ketum Memanas, Siapa yang Bakal Jadi Panglima Pasukan Muda Demokrat?

11 Juli 2025 - 07:33 WIB

Trending di OPINI