Menu

Mode Gelap
Baznas Kota Bekasi Salurkan Rp 1,06 M Buat 1.761 Mustahik 3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial

Kolom Angker

Larangan Membuka Jendela di Kampung Bambu

badge-check

Foto Ilustrasi (Istimewa) Perbesar

Foto Ilustrasi (Istimewa)

KOLOM ANGKER – Kampung itu sunyi dengan cara yang salah.

Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang terasa seperti ditahan, seolah malam sengaja menahan napasnya. Lampu listrik belum menjangkau seluruh rumah. Malam hanya diterangi pijar lampu minyak dan bulan yang sering bersembunyi di balik awan.

Di tepi kampung, berdiri sebuah rumah kayu tua. Dindingnya berderit tiap kali angin lewat. Tepat di belakangnya, hutan bambu menjulang rapat gelap, lembap, dan selalu berisik meski tak ada angin.

Di rumah itulah Ida tinggal.

Gadis remaja, anak pertama dari lima bersaudara. Sejak kecil, Ida dikenal pendiam. Tapi bukan karena pemalu melainkan karena ia terlalu sering terjaga saat orang lain tidur.

Ida punya kebiasaan aneh.

Setiap kali terbangun di tengah malam—tanpa sebab, tanpa mimpi ia pasti berjalan ke jendela. Selalu jendela. Tidak pernah jam, tidak pernah bertanya pada siapa pun.

Menurutnya, jam bisa bohong.

Tapi gelap… tidak.

Jendela selalu memberitahunya satu hal:

malam sudah sejauh apa.

Dan pada suatu malam, jendela itu menjawab dengan cara yang salah.

Malam itu udara terasa berat. Lembap. Seolah ada sesuatu yang menggantung di udara.

Ida terbangun mendadak.

Matanya terbuka begitu saja. Tidak terkejut. Tidak bermimpi. Seperti ada yang membangunkannya.

Rumah sunyi.

Terlalu sunyi.

Ia duduk perlahan. Mendengar detak jantungnya sendiri. Lalu, seperti ditarik benang tak kasatmata, kakinya melangkah turun dari ranjang.

Langkahnya pelan.

Tok… tok…

Lantai kayu berdecit lirih.

Jendela kamarnya berada tepat di samping ranjang. Gorden lusuh menggantung setengah. Ida mengulurkan tangan, menarik kain itu sedikit.

Hanya sedikit.

Dan dunia berhenti.

Bukan gelap yang ia lihat.

Bukan hutan.

Bukan malam.

Melainkan dua bola mata merah menyala sedekat wajahnya sendiri.

JEDAR.

Ida membeku.

Mata itu tidak berkedip. Tidak bergerak. Tidak bernapas. Menatap Ida lurus, dingin, penuh tekanan, seolah sedang menghitung detik.

Lalu Ida sadar.

Itu bukan orang.

Itu hanya kepala.

Tanpa leher. Tanpa tubuh. Mengambang tepat di balik kaca jendela.

Rambutnya basah, menempel di wajah pucat kebiruan. Mulutnya sedikit terbuka terlalu lebar seolah baru saja tertawa, atau baru saja berteriak.

Ida ingin menjerit.

Tapi paru-parunya menolak bekerja.

Tangannya gemetar hebat. Kakinya seperti ditancapkan ke lantai. Keringat dingin mengalir dari pelipis ke leher.

Mata merah itu…

bergerak.

Sedikit mendekat.

TOK.

Ada suara pelan di kaca.

Ida akhirnya menjerit.

“AAAAAAAAAAAAAA!!!”

Jeritan itu memecah malam seperti kaca pecah.

Ibunya masuk pertama. Ayahnya menyusul. Adik-adiknya menangis ketakutan. Lampu minyak dinyalakan tergesa, cahayanya bergetar tak stabil.

Ida masih berdiri di depan jendela. Matanya kosong. Wajahnya pucat seperti kain kafan.

“Di… di situ…”

jarinya menunjuk jendela.

“Matanya merah… kepalanya… dia liatin aku…”

Ayah membuka gorden sepenuhnya.

Tidak ada apa-apa.

Hanya kabut tipis.

Hutan bambu yang diam.

Dan jendela yang terbuka.

Padahal, Ida yakin…

ia tidak membukanya.

Di tanah basah di bawah jendela, ada jejak kaki. Satu pasang. Menghadap ke arah kaca.

Ayah tidak berkata apa-apa. Wajahnya mengeras.

Tetangga dipanggil.

Senter menyapu hutan bambu. Cahaya berkelebat di antara batang-batang yang rapat. Angin membuat bambu saling beradu krek… krek…

Lalu seseorang keluar dari gelap.

“Pak… saya cuma buang air…”

Seorang pria kurus. Baju kusut. Tatapan kosong.

Anto.

Warga kampung mengenalnya. Terlalu sering mondar-mandir malam. Terlalu sering berdiri diam, menatap rumah orang tanpa alasan.

Tak ada yang menuduh.

Tak ada yang membela.

Pagi harinya, jejak kaki itu mengering.

Ukurannya… pas dengan kaki Anto.

Dan kampung memilih diam.

Ida tidak pernah kembali ke kamar itu.

Lampunya menyala siang dan malam. Ia tidur berdesakan dengan adik-adiknya. Setiap suara kecil membuatnya terlonjak.

Yang paling ia takutkan…

bukan mimpi.

Tapi bangun.

Karena kadang, saat terjaga di tengah malam, ia mencium bau tanah basah. Bau bambu. Bau hujan.

Dan dari arah jendela kosong di kamarnya yang lama,

ia merasa…

sesuatu masih menatap.

Menunggu.

Dengan mata merah yang tidak pernah berkedip.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Teror Jam 1 Pagi: Driver Ojol Menyelamatkanku dari Sosok yang Merangkak Naik ke Balkon Rumah

30 Juli 2026 - 21:47

Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur

26 Juni 2026 - 00:34

Teror di Gunung Sunyi: Saat Sesuatu yang Bukan Manusia Mencoba Berbicara

5 Juni 2026 - 02:26

Teror Selasa Kliwon, malam yang masih ditakuti dalam cerita mistis tanah Jawa

5 Juni 2026 - 02:11

Pesugihan Kandang Bubrah: Rumah Tak Pernah Jadi, Teror Tak Pernah Berhenti

28 Mei 2026 - 22:04

Trending di Kolom Angker