PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Sepak bola kadang memang kejam. Bukan karena selalu membuat tim yang bermain buruk kalah, tetapi karena sering kali memberi harapan lebih dulu sebelum akhirnya menariknya kembali perlahan-lahan.
Itulah yang dialami Timnas Indonesia saat menghadapi Singapura pada laga terakhir Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Jalan Besar, Jumat. Skuad Garuda datang dengan satu misi yang tidak bisa ditawar: menang. Sebab, hanya tiga poin yang bisa membuka pintu semifinal. Masalahnya, sepak bola tidak mengenal kata “harus”.
Tim racikan John Herdman sebenarnya tampil cukup meyakinkan sejak menit awal. Indonesia lebih banyak menguasai permainan dan berkali-kali memaksa pertahanan Singapura bekerja ekstra. Mitchell Baker menjadi salah satu pemain yang paling aktif menebar ancaman, tetapi penyelesaian akhir masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Babak pertama ditutup tanpa gol. Skor 0-0 belum sepenuhnya buruk. Setidaknya, harapan masih hidup.
Harapan itu bahkan sempat berubah menjadi keyakinan hanya dua menit setelah babak kedua dimulai. Ragnar Oratmangoen sukses memanfaatkan umpan silang Dony Tri Pamungkas pada menit ke-47. Bola bersarang di gawang Singapura, Indonesia unggul 1-0.
Pada momen itu, mungkin banyak pendukung Garuda mulai menghitung peluang lolos ke semifinal. Sayangnya, pertandingan belum selesai, dan sepak bola selalu punya cara mengingatkan bahwa euforia yang datang terlalu cepat sering kali berujung kecewa.
Singapura tidak panik. Mereka tetap bermain disiplin, menunggu celah, lalu menghukum Indonesia ketika kesempatan datang. Menit ke-66 menjadi titik balik. Ilhan Fandi mencetak gol penyama kedudukan yang mengubah papan skor menjadi 1-1.
Sisa pertandingan berubah menjadi adu kesabaran. Indonesia terus berusaha mencari gol kemenangan, sementara Singapura tampak lebih nyaman mengelola tempo karena hasil imbang sudah cukup untuk mengantar mereka ke semifinal.
Pertandingan juga diwarnai tensi tinggi. Wasit mengeluarkan tujuh kartu kuning sepanjang laga. Song Ui-young, Lionel Tan, dan Jacob Mahler menerima kartu untuk Singapura. Sementara dari kubu Indonesia, Ivar Jenner, Mitchell Baker, Marc Klok, dan Tim Geypens juga masuk buku catatan wasit.
Peluit panjang akhirnya berbunyi tanpa gol tambahan. Skor tetap 1-1.
Hasil itu menjadi akhir perjalanan Indonesia di fase grup. Garuda hanya mengoleksi tujuh poin dan harus puas finis di peringkat ketiga Grup A. Sementara Singapura mengumpulkan delapan poin dan melangkah ke semifinal mendampingi Vietnam. (InvestorTrust)
Laga ini sekali lagi mengingatkan bahwa dalam sepak bola, bermain lebih dominan tidak selalu berarti pulang membawa kemenangan. Indonesia sempat berada di depan, tetapi gagal menjaga keunggulan ketika pertandingan memasuki fase yang paling menentukan.
Di papan skor, hasilnya hanya satu angka tambahan. Di kepala suporter, yang tertinggal justru pertanyaan lama yang kembali muncul: kapan Timnas Indonesia benar-benar mampu melewati laga hidup-mati tanpa menjadikannya drama yang berakhir dengan penyesalan?











