PRABAINSIGHT.COM – YOGYAKARTA – Sabtu malam (4/4/2026) di Bandara Adisutjipto seharusnya jadi momen biasa orang datang, orang pergi, koper berderet, pelukan hangat, dan rindu yang terbayar. Tapi malam itu berbeda. Tidak ada tawa. Tidak ada sapaan riang. Yang ada hanya langkah pelan, tatapan kosong, dan udara yang terasa lebih berat dari biasanya.
Dua peti jenazah tiba.
Dua nama yang tak lagi bisa menjawab panggilan.
Serka Anumerta M. Nur Ichwan dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang sebelumnya berangkat jauh ke Lebanon untuk misi perdamaian dunia, kini pulang dalam diam. Mereka tidak membawa cerita, tidak juga membawa oleh-oleh. Yang mereka bawa hanya kehormatan dan duka yang tak bisa ditawar.
Upacara militer digelar. Rapi, khidmat, penuh penghormatan. Semua berjalan sesuai protokol. Tapi perasaan? Jelas tak bisa diatur seformal itu.
Di antara barisan pejabat yang hadir, tampak Sri Sultan Hamengku Buwono X berdiri memberi penghormatan terakhir. Sebuah gestur negara untuk dua anak bangsa yang telah menunaikan tugasnya sampai titik paling akhir: gugur.
Namun, di balik seremoni yang tertata, ada hal yang tak pernah benar-benar bisa dirapikan—kesedihan keluarga.
Bayangkan seseorang yang ditunggu pulang, tapi yang datang justru peti berbalut bendera. Bayangkan doa-doa yang tadinya dipanjatkan untuk keselamatan, kini berubah menjadi keikhlasan untuk perpisahan. Tidak ada latihan untuk menghadapi momen seperti ini.
Dari bandara, perjalanan mereka berlanjut. Bukan lagi ke markas atau medan tugas, melainkan ke tempat peristirahatan terakhir—Magelang dan Kulon Progo. Tanah yang dulu mereka pijak sebagai anak, kini menerima mereka kembali sebagai pahlawan.
Kita sering mendengar istilah “gugur dalam tugas” dengan nada yang terdengar gagah. Tapi di balik itu, selalu ada ruang sunyi yang ditinggalkan. Ada kursi kosong di rumah. Ada suara yang tak lagi terdengar. Ada rindu yang tak punya tujuan.
Dan mungkin, di titik ini kita perlu jujur:
perdamaian dunia memang penting, tapi harga yang dibayar kadang terlalu personal.
Dua prajurit ini sudah menunaikan tugasnya. Selesai. Tuntas. Tanpa kompromi.
Kini giliran kita yang melanjutkan setidaknya dengan cara paling sederhana: mengingat mereka, tidak hanya hari ini, tapi juga di hari-hari ketika berita sudah berganti dan perhatian mulai memudar.
Karena pada akhirnya, nama mereka bukan sekadar catatan dalam laporan misi.
Mereka adalah cerita. Tentang keberanian, pengabdian, dan pulang… yang tak lagi sama.(Van)







