PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Mudik mestinya soal pulang, peluk keluarga, dan opor ayam yang menunggu di meja makan. Tapi Lebaran 2016 menyisakan cerita lain. Bukan cuma tentang macet panjang, melainkan tragedi yang kemudian dikenal sebagai “Brexit”singkatan dari Brebes Exit.
Namanya memang terdengar seperti peristiwa politik Inggris. Tapi yang ini lebih dekat, lebih panas, dan lebih memilukan.
Saat Jalan Tol Tak Lagi Jadi Jalan Keluar
Puncak arus mudik 2016 mempertemukan ribuan kendaraan dari Tol Pejagan ke jalur arteri Brebes dalam satu titik yang sama: pintu keluar tol Brebes. Masalahnya klasik tapi dampaknya luar biasa.
Ada penyempitan jalur di area exit. Volume kendaraan melonjak jauh melampaui kapasitas jalan. Ditambah lagi, manajemen lalu lintas saat itu belum cukup siap menghadapi gelombang sebesar itu.
Hasilnya? Macet total berjam-jam. Bukan macet tipe “jalan pelan masih bisa geser-geser”. Ini macet yang membuat kendaraan nyaris tak bergerak. Mesin menyala, bensin terkuras, udara panas menumpuk, dan ribuan orang terjebak di dalam mobil masing-masing.
Ketika Macet Jadi Ancaman Nyata
Dalam kondisi seperti itu, kelelahan bukan lagi soal pegal kaki. Banyak pemudik mengalami dehidrasi, kehabisan tenaga, bahkan kondisi medis darurat terutama lansia dan anak-anak. Akses bantuan kesehatan pun sulit menjangkau titik kemacetan.
Sejumlah korban jiwa tak tertolong. Mudik yang seharusnya jadi perjalanan penuh harap berubah menjadi kabar duka. Publik tersentak. Istilah “Brexit” pun melekat sebagai penanda salah satu tragedi transportasi paling menyedihkan di Indonesia.
Evaluasi Besar-Besaran Sistem Transportasi
Peristiwa di Brebes Exit 2016 menjadi alarm keras. Setelahnya, berbagai evaluasi dilakukan. Desain dan kapasitas pintu keluar tol dibenahi. Rekayasa lalu lintas saat arus mudik dibuat lebih adaptif. Rest area ditambah dan diperbaiki. Koordinasi lintas instansi diperkuat agar tak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Brexit 2016 bukan sekadar cerita tentang kemacetan ekstrem. Ia menjadi pengingat bahwa infrastruktur bukan cuma soal beton dan aspal, tapi soal nyawa manusia yang bergantung padanya.
Setiap musim mudik tiba, ingatan tentang Brebes Exit seharusnya tak cuma jadi arsip berita lama. Ia adalah catatan penting agar perjalanan pulang tetap menjadi perjalanan yang selamat. Karena pada akhirnya, yang paling utama dari mudik bukanlah cepat sampai melainkan sampai dengan aman.
Editor : Irfan Ardhiyanto











