Menu

Mode Gelap
Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa Ojol Rayakan Potongan Aplikator Maksimal 8 Persen, APOB: Perjuangan Belum Selesai

Sejarah

Kenapa Toraja Kristen Sedangkan Tetangganya Islam? Ini Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui

badge-check


					Perbedaan agama Toraja dan tetangga pesisirnya bukan kebetulan. Geografi, politik, dan strategi kolonial Belanda jadi kunci Toraja mayoritas Kristen, sedangkan Bugis, Makassar, dan Mandar mayoritas Islam.(Istimewa) Perbesar

Perbedaan agama Toraja dan tetangga pesisirnya bukan kebetulan. Geografi, politik, dan strategi kolonial Belanda jadi kunci Toraja mayoritas Kristen, sedangkan Bugis, Makassar, dan Mandar mayoritas Islam.(Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA- Kalau kamu pernah bertanya-tanya, kenapa Suku Toraja mayoritas Kristen sementara tetangganya seperti Bugis, Makassar, dan Mandar mayoritas Islam, jawabannya bukan karena “ikut-ikutan” atau sekadar keberuntungan geografis. Semua ini hasil drama panjang antara lokasi, politik, dan strategi kolonial yang lumayan rumit tapi menarik untuk diikuti.

Toraja tinggal di pegunungan Tana Toraja, jauh dari keramaian jalur perdagangan pesisir. Hasilnya, mereka agak “terisolasi” dari gelombang Islamisasi yang sudah menanjak di pesisir sejak abad ke-16.

Sementara itu, Bugis, Makassar, dan Mandar tinggal di garis pantai, berinteraksi langsung dengan pedagang Muslim dari Arab, Gujarat, dan Melayu.

Islam masuk melalui dagang, kekuasaan politik, dan sedikit drama kerajaan. Setelah raja-raja Gowa, Tallo, Bone, dan Wajo memutuskan ikut Islam sekitar tahun 1605, agama ini resmi jadi agama kerajaan dan berkembang pesat.

Toraja, di sisi lain, masih asyik menjalankan Aluk To Dolo kepercayaan adat mereka sendiri hingga awal abad ke-20 ketika misionaris Belanda dari Gereformeerde Zendingsbond datang. Mereka tidak cuma bawa Alkitab, tapi juga sekolah, klinik, dan berbagai “pintu modernisasi” yang membuka jalan bagi masyarakat Toraja ke era baru. Ada juga strategi licik dari kolonial Belanda: membawa Kristen ke Toraja supaya pengaruh Islam dari pesisir tidak kebablasan masuk ke pegunungan.

Jadi, kalau disederhanakan: Toraja Kristen itu bukan kebetulan, tapi hasil kombinasi geografis yang terpencil, akses sejarah yang berbeda, dan strategi kolonial yang cukup cerdik. Bugis, Makassar, dan Mandar? Mereka kebetulan tinggal lebih dulu di jalur dagang dan ikut “gelombang Islam” sejak lama.


Penulis : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Skandal Sum Kuning: Dari Korban Jadi Tersangka, Saat Hukum Tunduk pada Kuasa

26 April 2026 - 23:45

Benarkah Firaun Tewas Tenggelam? Temuan Ilmiah Ini Malah Berujung Jadi Bahan Candaan

6 April 2026 - 10:46

Mengenang Tragedi Mudik 2016 di Brexit, Macet Ekstrem yang Berujung Duka dan Pilu

26 Februari 2026 - 11:56

Perang Tanpa Peluru: Agus Salim, Baswedan, dan Diplomasi yang Menyelamatkan Republik

28 Desember 2025 - 12:41

Polemik Nasab Bani Alawi: Haidar Alwi Minta Publik Kembali ke Ilmu, Bukan Emosi

17 November 2025 - 06:46

Trending di Sejarah