Menu

Mode Gelap
Hari Purwanto Desak Aparat Usut Dugaan Fitnah terhadap Megawati, Minta Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut

News

Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus

badge-check

Universitas Indonesia menegaskan unggahan Pride Month SUMA UI bukan sikap resmi kampus. Di tengah polemik yang viral, UI melakukan evaluasi internal sementara alumni SUMA UI menyampaikan keberatan.(istimewa) Perbesar

Universitas Indonesia menegaskan unggahan Pride Month SUMA UI bukan sikap resmi kampus. Di tengah polemik yang viral, UI melakukan evaluasi internal sementara alumni SUMA UI menyampaikan keberatan.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau kampus adalah ruang diskusi, maka perbedaan pendapat seharusnya bukan hal yang mengejutkan. Namun ketika perdebatan itu menyentuh isu sensitif seperti Pride Month dan LGBTIQ, gelombangnya bisa meluas jauh melampaui pagar kampus.

Itulah yang sedang dialami Universitas Indonesia (UI) setelah unggahan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Suara Mahasiswa (SUMA) UI mengenai Pride Month dan isu LGBTIQ ramai diperbincangkan publik.

Menanggapi polemik tersebut, pihak kampus menegaskan bahwa konten yang diunggah SUMA UI merupakan pandangan redaksional organisasi mahasiswa dan tidak dapat dianggap sebagai sikap resmi Universitas Indonesia.

“Terkait dinamika yang berkembang atas unggahan akun media sosial Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Suara Mahasiswa (SUMA) UI mengenai isu Pride Month serta orientasi seksual dan identitas gender, Universitas Indonesia menegaskan bahwa isi unggahan tersebut murni merupakan pandangan redaksional dari organisasi kemahasiswaan yang bersangkutan,” demikian keterangan resmi UI yang disampaikan Direktur Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah dan Internasional Erwin Agustian Panigoro, dikutip Minggu (14/6/2026).

“Konten tersebut tidak mencerminkan sikap resmi Universitas Indonesia maupun keseluruhan sivitas akademika UI,” imbuhnya.

UI menegaskan bahwa kebebasan berekspresi dan berpendapat merupakan bagian penting dari kehidupan akademik yang harus dihormati. Namun, kebebasan tersebut menurut kampus tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab, etika, dan norma yang berlaku di masyarakat.

Sebagai institusi pendidikan tinggi, UI menyatakan tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila, peraturan perundang-undangan, serta norma yang berlaku di Indonesia. Kampus juga menempatkan penghormatan terhadap martabat manusia, integritas, dan terciptanya lingkungan akademik yang aman sebagai prinsip utama dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Dalam semangat tersebut, UI memandang kampus sebagai ruang dialog dan pengembangan ilmu pengetahuan yang terbuka terhadap berbagai pandangan. Namun, setiap pendapat perlu disampaikan secara santun, tidak provokatif, dan sesuai dengan etika akademik,” demikian pernyataan UI.

Menurut kampus, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam masyarakat yang majemuk. Namun jika tidak dikelola dengan bijak, perbedaan itu berpotensi memicu polarisasi dan konflik yang tidak perlu.

Karena itu, UI menyatakan saat ini tengah melakukan penelaahan dan evaluasi internal terhadap polemik yang berkembang.

“Menindaklanjuti dinamika dan keresahan yang timbul di tengah masyarakat terkait unggahan tersebut, Pimpinan UI saat ini tengah melakukan penelaahan dan langkah-langkah evaluasi lebih lanjut secara internal.”

“Proses ini dilakukan bersama otoritas kampus terkait untuk memastikan bahwa setiap aktivitas kemahasiswaan senantiasa sejalan dengan Kode Etik dan Peraturan Tata Tertib Mahasiswa UI, serta berpedoman pada koridor kebebasan akademik yang bertanggung jawab,” tegas UI.

UI juga mengajak seluruh sivitas akademika dan masyarakat untuk tetap menjaga suasana kondusif serta menghormati perbedaan pandangan demi menjaga persatuan.

Alumni SUMA UI Ikut Menyampaikan Keberatan

Di tengah polemik yang terus bergulir, alumni Pers Suara Mahasiswa UI turut menyampaikan sikap resmi. Melalui akun media sosial @ilunisumaui, mereka mengaku menyesalkan unggahan berjudul “Menguji Sila Kemanusiaan di Bulan Kebanggaan” yang sebelumnya dipublikasikan SUMA UI di Instagram dan X.

“Alumni Pers Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (SUMA UI) menyesalkan unggahan di Instagram dan X (sebelumnya Twitter) Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (SUMA UI) berjudul Sila Kemanusiaan di Bulan Kebanggaan. Alumni SUMA UI sudah berusaha memberi masukan ke Redaksi SUMA UI untuk mempertimbangkan konteks sosial kemasyarakatan seraya tetap menjaga independensi redaksi dalam menjalankan kerja jurnalistiknya,” demikian pernyataan alumni.

Para alumni mengingatkan bahwa sejak berdiri pada 1992, SUMA UI dikenal sebagai pers mahasiswa yang menjunjung keberagaman, menjaga sikap moderat, dan tidak berpihak pada kelompok tertentu dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya.

Karena itu, mereka menilai unggahan tersebut tidak sejalan dengan semangat yang selama ini dibangun organisasi.

“Alumni SUMA UI dengan ini menyatakan keberatan dan menyesalkan unggahan tersebut yang dinilai tidak sesuai dengan semangat organisasi pers mahasiswa untuk tidak condong pada salah satu golongan tertentu,” tegas alumni SUMA UI.

Tak hanya itu, alumni juga menyayangkan sikap pengurus redaksi yang dinilai kurang membuka ruang dialog dan menerima masukan terkait konten yang menuai kontroversi tersebut.

Menurut mereka, polemik yang muncul telah menimbulkan keresahan di kalangan sivitas akademika, alumni, hingga masyarakat luas. Bahkan, kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan dampak negatif terhadap gerakan mahasiswa UI secara keseluruhan.

Meski demikian, alumni menegaskan tetap mendukung kebebasan berpendapat selama dijalankan secara bertanggung jawab serta mempertimbangkan etika dan nilai moral yang hidup di tengah masyarakat.

“Alumni SUMA UI akan terus membuka upaya dialog dengan pengurus Redaksi SUMA UI. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi,” tutup pernyataan tersebut.

Sebelumnya, unggahan SUMA UI bertajuk “Menguji Sila Kemanusiaan di Bulan Kebanggaan” ramai diperbincangkan di media sosial. Konten itu menampilkan ilustrasi siluet Garuda Pancasila dengan latar bendera pelangi serta memuat narasi mengenai Pride Month dan isu diskriminasi terhadap komunitas LGBTIQ+.

Setelah menuai berbagai tanggapan dari publik, unggahan tersebut kemudian dihapus dari akun Instagram dan X milik SUMA UI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya

16 Juli 2026 - 03:12

Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998

15 Juli 2026 - 15:02

Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut

15 Juli 2026 - 11:37

Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

15 Juli 2026 - 11:17

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Trending di News