JAKARTA — Padatnya antusiasme warga dalam kegiatan sosial yang digelar di kawasan Condet, Jakarta Timur, belakangan sempat memicu perhatian publik akibat kemacetan lalu lintas. Menanggapi hal tersebut, pengusaha sekaligus pegiat sosial Putra Siregar menegaskan pihaknya melakukan evaluasi teknis dan mengubah metode pembagian bantuan guna meminimalisasi dampak bagi masyarakat sekitar, Senin (19/10/2026).
Putra Siregar menjelaskan, kemacetan di kawasan Condet sejatinya merupakan kondisi yang kerap terjadi terlepas dari ada atau tidaknya kegiatan sosial. Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap kapasitas volume tempat yang membludak hingga melibatkan pengamanan dari ratusan personel kepolisian.
“Jalanan Condet itu macet banget. Kita enggak ada ngadain acara pun juga macet. Jadi, lebih baiknya biar enggak ada mudaratnya, kita ubah teknis programnya,” ujar Putra Siregar saat ditemui di kawasan Marwah, Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Sebagai solusi jangka panjang agar tidak mengganggu ketertiban umum dan kenyamanan pengendara, pihaknya kini tengah menjajaki opsi relokasi tempat kegiatan yang lebih memadai, salah satunya dengan melirik kerja sama bersama pihak Asrama Rindam.
Alihkan ke Skema Door-to-Door dan Libatkan RT/RW
Sebagai langkah mitigasi di lapangan, program pembagian bantuan sosial kini dialihkan menggunakan skema jemput bola atau door-to-door setiap hari. Sementara itu, khusus untuk pembagian bagi anak-anak sekolah tetap dilangsungkan seusai ibadah Jumat.
Tidak hanya itu, Putra juga merangkul para konten kreator dan pihak-pihak terkait untuk diajak bekerja sama mendistribusikan bantuan langsung ke tingkat RT dan RW setempat.
“Bahkan kita ajak kerja sama untuk dia bagi ke lingkungannya, ke RT-nya, ke RW-nya. Jadi, terus berjalan kalau beras, telur, sembako, uang, termasuk program Subuh Berkah setiap hari masih ada,” tuturnya.
Tetap Istiqomah di Jalan Kebaikan
Di tengah dinamika dan berbagai sorotan publik yang mengiringi aksi sosialnya, Putra Siregar mengaku tidak berkecil hati. Ia memilih fokus pada niat awal berbagi dan menyerahkan segala penilaian kepada Sang Pencipta, serta menerapkan prinsip stoikisme untuk memilah hal-hal yang dapat ia kendalikan dan yang berada di luar kendalinya.
Ia juga memastikan bahwa kegiatan sosial seperti penyaluran beras, telur, sembako, hingga santunan uang tunai akan terus berjalan tanpa henti demi membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau berbagi enggak boleh berhenti. Kalau berhenti, gawat kita. Enggak boleh itu. Jangan hanya karena omongan orang, kita berhenti,” tegasnya.









