Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

News

Tiket Palangkaraya-Jakarta Tembus Rp200 Juta Bikin Heboh, Garuda Indonesia Pastikan Bukan Tarif Resmi

badge-check

Viral tiket pesawat Palangkaraya-Jakarta tembus Rp200 juta. Garuda Indonesia memastikan harga tersebut bukan tarif resmi, melainkan diduga akibat kesalahan sistem platform pihak ketiga.(Istimewa) Perbesar

Viral tiket pesawat Palangkaraya-Jakarta tembus Rp200 juta. Garuda Indonesia memastikan harga tersebut bukan tarif resmi, melainkan diduga akibat kesalahan sistem platform pihak ketiga.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau kamu sempat buka media sosial beberapa hari terakhir, kemungkinan besar kamu ikut terseret dalam drama absurd: tiket pesawat rute Palangkaraya–Jakarta tembus Rp200 juta. Iya, dua ratus juta. Nominal yang biasanya dipakai buat DP rumah, bukan buat duduk 1–2 jam di kursi ekonomi sambil rebutan sandaran tangan.

Warganet pun bereaksi sebagaimana mestinya: kaget, ngakak, sekaligus curiga. Masa iya, penerbangan domestik bisa semahal itu? Bahkan kalau kamu duduk di kursi paling depan sambil minta kopi refill tiga kali, tetap saja rasanya nggak masuk akal.

Sumber kehebohan ini berasal dari tangkapan layar yang beredar luas. Di sana, harga tiket terlihat menyentuh angka yang bikin dompet auto pingsan. Tanpa banyak cek ricek, publik langsung ramai-ramai berasumsi: ini pasti lonjakan harga yang gila-gilaan, atau jangan-jangan maskapai lagi “khilaf” menentukan tarif.

Tapi seperti banyak drama di internet, kenyataan seringkali jauh lebih membumi. Pihak Garuda Indonesia akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi. Intinya sederhana: mereka tidak pernah menjual tiket seharga Rp200 juta untuk rute tersebut. Bahkan untuk rute internasional pun, angka segitu sudah masuk kategori “sultan lagi iseng”, bukan harga normal.

Lalu dari mana angka ajaib itu muncul? Dugaan paling masuk akal: error di platform pihak ketiga. Entah itu salah input, bug sistem, atau kombinasi keduanya—yang jelas bukan dari sistem resmi maskapai. Jadi kalau kamu sempat panik membayangkan harga tiket bakal naik setinggi langit, tenang, ini bukan kiamat industri aviasi.

Garuda juga menegaskan bahwa harga tiket mereka tetap mengikuti aturan pemerintah, termasuk batas atas tarif. Artinya, ada pagar yang menjaga supaya harga tidak tiba-tiba berubah jadi setara harga mobil bekas.

Kasus ini sebenarnya bukan soal tiket mahal, tapi soal betapa cepatnya kita percaya pada sesuatu yang viral. Di era di mana screenshot bisa lebih dipercaya daripada klarifikasi resmi, logika seringkali kalah cepat dari jempol.

Pelajaran kecilnya sederhana: jangan langsung percaya sama angka yang muncul di internet, apalagi kalau angkanya sudah terasa seperti hasil mimpi siang bolong. Cek ulang, bandingkan, dan kalau perlu, langsung buka situs resmi maskapai.

Karena di dunia digital, yang lebih cepat dari pesawat ternyata cuma satu: kesalahpahaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial

10 Agustus 2026 - 10:27

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada

7 Agustus 2026 - 18:14

Trending di Ekonomi