Menu

Mode Gelap
Garuda Menggila di GBK! Indonesia Hajar Saint Kitts 4-0, Beckham Putra Jadi Bintang Gaduh Tahanan Yaqut, KPK Minta Maaf: Asep Sebut Kekecewaan Publik Adalah Dukungan RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka

Prabers

“Sejarah Rengginang: Nasi Sisa yang Nggak Pernah Kehilangan Gengsi

badge-check


					Foto Renginang (Ist) Perbesar

Foto Renginang (Ist)

PRABA INSIGHT – Kalau kamu lagi asyik nyeruput kopi sore-sore, lalu tiba-tiba terdengar suara kriuk-kriuk dari samping, kemungkinan besar itu adalah rengginang yang lagi jadi bintang camilan.

Tapi, pernah nggak sih kamu mikir: dari mana asal usul rengginang ini? Kok bisa ada camilan dari nasi yang dikeringkan terus digoreng?

Yuk, kita bedah bareng-bareng sejarah dan kisah si camilan legendaris ini. Karena bukan Mojok namanya kalau nggak suka ngulik hal-hal yang sering dianggap remeh.

Rengginang: Bukan Sekadar Nasi Sisa

Rengginang bukan cuma makanan ringan biasa. Ia adalah bukti bahwa leluhur kita punya kepiawaian mengubah “sisa nasi” jadi camilan nikmat.

Konon, rengginang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno. Waktu itu, masyarakat agraris di Jawa terbiasa menyimpan nasi sisa dalam bentuk pipihan,

lalu dijemur sampai kering untuk dimakan lagi di kemudian hari. Hemat, kreatif, dan tentu saja enak.

Menurut Budayawan Jawa, Ki Bambang Sudarmo, tradisi membuat rengginang ini merupakan simbol penghargaan terhadap makanan pokok, yaitu beras.

Dalam budaya Jawa, membuang nasi sama dengan membuang rezeki. Maka, dibuatlah cara untuk mengolah ulang nasi sisa jadi makanan baru: rengginang.

Proses Pembuatan: Dari Nasi Jadi Camilan Hits

Cara bikin rengginang sederhana tapi butuh kesabaran. Pertama, nasi biasanya dari ketan putih dibumbui dan dibentuk bulat pipih.

Lalu dijemur di bawah matahari terik sampai benar-benar kering. Setelah kering, tinggal digoreng dan… kriuk! Rengginang siap menemani obrolan sore.

Menariknya, jenis rengginang itu macam-macam. Ada yang polos, ada yang manis, bahkan ada juga yang pakai terasi.

Di daerah seperti Cirebon dan Indramayu, rengginang rasa terasi itu favorit banget. Kalau kamu penggemar rasa umami yang kuat, ini jelas wajib dicoba.

Data Bicara: Rengginang Itu Ekonomi Juga

Di balik kerenyahan rengginang, ada geliat ekonomi UMKM yang nggak bisa diremehkan.

Data dari Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2023 mencatat, industri camilan tradisional seperti rengginang berkontribusi lebih dari 20% dalam subsektor makanan ringan berbasis UMKM di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Produksi rengginang skala rumah tangga bahkan mampu menembus pasar ekspor. Jepang, Hong Kong, dan Belanda adalah pasar yang mulai melirik rengginang sebagai bagian dari “exotic rice cracker”. Luar biasa, kan?

Rengginang dan Romantisme Masa Kecil

Ngomongin rengginang bukan cuma ngomongin makanan, tapi juga nostalgia. Buat banyak orang, rengginang adalah camilan khas lebaran, disimpan dalam toples plastik bening, biasanya di samping kue nastar dan kacang bawang.

Ia jadi bagian dari kenangan masa kecil, dari rumah nenek di desa yang sederhana tapi penuh kehangatan.

Bahkan, dalam budaya pop, rengginang sempat “naik kelas”. Beberapa merek camilan modern mengemas rengginang dalam bentuk kekinian: rasa keju, BBQ, sampai balado. Tapi apa pun rasanya, satu hal tetap sama: kriuknya yang bikin nagih.

Camilan Kriuk yang Nggak Lekang oleh Zaman

Di tengah gempuran camilan impor dan snack modern yang menjanjikan sensasi “international taste”, rengginang tetap punya tempat di hati banyak orang Indonesia.

Ia adalah simbol kreativitas, ketekunan, dan kearifan lokal yang bertahan dari generasi ke generasi.

Jadi, kalau kamu lagi nyemil rengginang, ingatlah bahwa yang kamu makan bukan cuma nasi yang digoreng.

Itu adalah sejarah, budaya, dan cinta dari nenek moyang kita yang berhasil dibentuk jadi bulat pipih dan kriuk di setiap gigitannya.

 

Penulis : Deni Darmono 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pulang Kampung dan Lebaran Mode: Acting Sukses, Hati Deg-Degan, Dompet Sekarat

18 Maret 2026 - 16:33 WIB

Kasus Hogi Minaya dan Kekeliruan Aparat Membaca Pasal KUHP Baru

30 Januari 2026 - 08:33 WIB

Tentara Bayaran: Ikut Perang Tanpa Seragam, Pulang Tanpa Perlindungan

22 Januari 2026 - 07:21 WIB

Monorel Rasuna Said Tumbang: Jakarta Akhirnya Berani Mengakui Pernah Salah

15 Januari 2026 - 15:14 WIB

Bahaya Menggantungkan Kebenaran pada Manusia

10 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Prabers