Menu

Mode Gelap
Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada

News

Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro

badge-check

Abdullah Kelrey mendesak KPK memeriksa Puan Maharani dan Hapsoro Sukmonohadi terkait isu BTS 4G dan e-KTP. Publik diminta tak lagi diredam narasi hoaks tanpa pembuktian terbuka.(istimewa) Perbesar

Abdullah Kelrey mendesak KPK memeriksa Puan Maharani dan Hapsoro Sukmonohadi terkait isu BTS 4G dan e-KTP. Publik diminta tak lagi diredam narasi hoaks tanpa pembuktian terbuka.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau di negeri ini ada lomba “menenangkan publik dengan kata hoaks”, mungkin sudah ada juara bertahan. Tapi sayangnya, urusan yang satu ini bukan lomba ini soal duit negara dan kepercayaan orang banyak.

Ketua Bidang Politik dan Keamanan PP GPI, Abdullah Kelrey, tampaknya sudah kehabisan kesabaran. Ia melempar pernyataan yang nadanya nggak lagi pakai rem tangan: publik, katanya, tidak boleh terus-terusan “diredam” dengan label hoaks tanpa pembuktian yang terang benderang.

Desaknya jelas dan nggak pakai kode. Ia meminta Komisi Pemberantasan Korupsi segera memanggil Ketua DPR RI, Puan Maharani, beserta suaminya, Hapsoro Sukmonohadi.

“Jangan sampai rakyat dibodohi dengan kata ‘hoaks’ lalu kasus hilang begitu saja. Kalau bersih, buka! Kalau ada dugaan, periksa! Ini uang negara, bukan mainan,” tegas Kelrey, Jumat (27/03/2026).

Masalahnya, ini bukan perkara receh yang bisa selesai dengan klarifikasi setengah halaman. Kelrey menyorot kasus korupsi BTS 4G Kominfo kasus yang sudah telanjur bikin publik mengernyit karena menyeret perusahaan yang dikaitkan dengan Hapsoro. Meski aparat bilang belum ada bukti keterlibatan langsung, publik telanjur bertanya: kenapa lingkar atas terasa kebal disentuh?

Nama Puan pun ikut “dipanggil pulang” oleh ingatan publik. Bayang-bayang kasus e-KTP kembali muncul, setelah dulu sempat disebut dalam persidangan oleh Setya Novanto. Memang, secara hukum tidak pernah berlanjut. Tapi seperti utang yang belum lunas, nama itu terus muncul di kepala orang-orang yang belum dapat jawaban.

Belum selesai di situ, isu Dana Alokasi Khusus (DAK) ikut nimbrung dalam obrolan. Ini bukan sekadar angka-angka di kertas anggaran, tapi soal bagaimana relasi kekuasaan dan distribusi uang negara bekerja atau mungkin, dipermainkan.

Kelrey bahkan menaikkan tensi. Kalau KPK dianggap terlalu kalem, ia mendorong Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk turun tangan. Tak lupa, Kementerian Keuangan Republik Indonesia juga diminta membuka hasil audit internal. Transparansi, dalam versi Kelrey, bukan sekadar jargon, tapi kewajiban.

Sampai sekarang, belum ada langkah resmi untuk memeriksa Puan Maharani maupun Hapsoro Sukmonohadi. Tapi satu hal makin jelas: publik sudah lelah dengan cerita yang berakhir di kata “hoaks”.

Karena pada akhirnya, orang-orang cuma minta dua hal sederhana kalau memang bersih, ya dibuka. Kalau ada masalah, ya diperiksa. Kalau tidak, yang runtuh bukan cuma kasusnya, tapi juga kepercayaan. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Sandri Rumanama: Isu Surpres Pergantian Kapolri Ramai Lagi, Padahal Dasarnya Saja Belum Kelihatan

5 Agustus 2026 - 11:45

Delapan Jam Menunggu Kamar Rawat, Dihujat karena BPJS, Kisah Yurizal Berakhir Pilu

5 Agustus 2026 - 10:48

Trending di News