Menu

Mode Gelap
Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

News

Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro

badge-check

Abdullah Kelrey mendesak KPK memeriksa Puan Maharani dan Hapsoro Sukmonohadi terkait isu BTS 4G dan e-KTP. Publik diminta tak lagi diredam narasi hoaks tanpa pembuktian terbuka.(istimewa) Perbesar

Abdullah Kelrey mendesak KPK memeriksa Puan Maharani dan Hapsoro Sukmonohadi terkait isu BTS 4G dan e-KTP. Publik diminta tak lagi diredam narasi hoaks tanpa pembuktian terbuka.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau di negeri ini ada lomba “menenangkan publik dengan kata hoaks”, mungkin sudah ada juara bertahan. Tapi sayangnya, urusan yang satu ini bukan lomba ini soal duit negara dan kepercayaan orang banyak.

Ketua Bidang Politik dan Keamanan PP GPI, Abdullah Kelrey, tampaknya sudah kehabisan kesabaran. Ia melempar pernyataan yang nadanya nggak lagi pakai rem tangan: publik, katanya, tidak boleh terus-terusan “diredam” dengan label hoaks tanpa pembuktian yang terang benderang.

Desaknya jelas dan nggak pakai kode. Ia meminta Komisi Pemberantasan Korupsi segera memanggil Ketua DPR RI, Puan Maharani, beserta suaminya, Hapsoro Sukmonohadi.

“Jangan sampai rakyat dibodohi dengan kata ‘hoaks’ lalu kasus hilang begitu saja. Kalau bersih, buka! Kalau ada dugaan, periksa! Ini uang negara, bukan mainan,” tegas Kelrey, Jumat (27/03/2026).

Masalahnya, ini bukan perkara receh yang bisa selesai dengan klarifikasi setengah halaman. Kelrey menyorot kasus korupsi BTS 4G Kominfo kasus yang sudah telanjur bikin publik mengernyit karena menyeret perusahaan yang dikaitkan dengan Hapsoro. Meski aparat bilang belum ada bukti keterlibatan langsung, publik telanjur bertanya: kenapa lingkar atas terasa kebal disentuh?

Nama Puan pun ikut “dipanggil pulang” oleh ingatan publik. Bayang-bayang kasus e-KTP kembali muncul, setelah dulu sempat disebut dalam persidangan oleh Setya Novanto. Memang, secara hukum tidak pernah berlanjut. Tapi seperti utang yang belum lunas, nama itu terus muncul di kepala orang-orang yang belum dapat jawaban.

Belum selesai di situ, isu Dana Alokasi Khusus (DAK) ikut nimbrung dalam obrolan. Ini bukan sekadar angka-angka di kertas anggaran, tapi soal bagaimana relasi kekuasaan dan distribusi uang negara bekerja atau mungkin, dipermainkan.

Kelrey bahkan menaikkan tensi. Kalau KPK dianggap terlalu kalem, ia mendorong Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk turun tangan. Tak lupa, Kementerian Keuangan Republik Indonesia juga diminta membuka hasil audit internal. Transparansi, dalam versi Kelrey, bukan sekadar jargon, tapi kewajiban.

Sampai sekarang, belum ada langkah resmi untuk memeriksa Puan Maharani maupun Hapsoro Sukmonohadi. Tapi satu hal makin jelas: publik sudah lelah dengan cerita yang berakhir di kata “hoaks”.

Karena pada akhirnya, orang-orang cuma minta dua hal sederhana kalau memang bersih, ya dibuka. Kalau ada masalah, ya diperiksa. Kalau tidak, yang runtuh bukan cuma kasusnya, tapi juga kepercayaan. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya

16 Juli 2026 - 03:12

Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP

15 Juli 2026 - 17:07

Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998

15 Juli 2026 - 15:02

Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut

15 Juli 2026 - 11:37

Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

15 Juli 2026 - 11:17

Trending di Crime