Menu

Mode Gelap
Warga Antre Tes Kesehatan di Bekasi, Heritage Medical Bawa Kabar Melegakan! BRIN Perkuat Ketahanan Nasional Melalui Pengembangan Infrastruktur Teknologi Satelit di Parepare Dukung Ketahanan Pangan, Haji Isam Pantau Langsung Pembangunan Infrastruktur Jalan di Merauke Mafia Tanah Masih Mengintai, ATR/BPN Minta Masyarakat Aktif Melapor Eks Polwan Viral Lagi: Tetangga di Sigi Diduga Dipukul Pakai Balok Kayu, CCTV Bikin Warga Geger Tragedi Horor KRL Vs Argo Bromo di Bekasi Timur, DPR RI Desak Duit APBN Turun

Kolom Angker

Cerita Seram Pasar Setan Gunung Lawu dan Kain Hitam Misterius

badge-check


					Cerita Seram Pasar Setan Gunung Lawu dan Kain Hitam Misterius Perbesar

I. Jalur yang Membisu

Pagi belum menyentuh pucuk Gunung Lawu. Kabut tebal turun lebih cepat dari biasanya, menyelimuti jalur pendakian Cemoro Sewu dengan putih pekat yang seperti kapas busuk.

Raka, pendaki pemula berusia 27 tahun, memutuskan naik lebih dulu dari teman-temannya.

“Gue ngejar sunrise di Hargo Dumilah. Kalian nyusul aja pelan-pelan,” katanya di Pos 3 sambil mengatur tas carrier.

Tidak ada yang terlalu mempermasalahkan. Raka memang tipikal yang selalu merasa kuat, percaya bahwa tubuh mudanya mampu menaklukkan medan sekeras apa pun.

Langkah-langkahnya pelan tapi konsisten. Tapi sejak melewati Pos 4, suasana berubah drastis.

Tidak ada suara burung. Tidak ada gesekan ranting. Hening. Seolah Gunung Lawu berhenti bernafas.

Di situlah Raka melihatnya pintu kayu tua berdiri di tengah jalur, menjulang tanpa tiang, tanpa bangunan, tanpa alasan.

Logikanya menolak, tapi rasa ingin tahu menang.


II. Gerbang Tak Kasat Mata

Ketika ia menyentuh gagang pintu itu, hawa hangat seperti membungkus tubuhnya. Raka melangkah masuk dan dunia berganti.

Ia berada di pasar. Tapi bukan pasar dalam pengertian biasa. Lapaknya tersebar tanpa pola.

Udara terasa berat. Obor tua menggantung dari langit-langit yang tidak kelihatan.

Bau dupa dan besi karatan memenuhi udara. Ada suara, tapi bukan percakapan. Lebih seperti bisikan samar yang diputar ulang terus-menerus.

“Beli… beli… beli… beli…”

Sosok-sosok tinggi, kurus, dengan punggung membungkuk dan kepala menyentuh dada berjalan mondar-mandir.

Mereka membawa keranjang rotan yang kosong tapi terasa berat. Tidak ada mata di wajah mereka.

Hanya rongga kosong dan senyum tipis yang tak pernah luruh.

Raka mulai panik.

Tapi kakinya seolah menancap di tanah.

Tidak bisa berbalik. Tidak bisa lari…


III. Penjaja yang Setengah Terbakar

Dari sela kerumunan, muncullah seorang wanita berkebaya kusam. Wajahnya separuh cantik, separuh lagi hitam seperti terbakar dan membusuk.

“Le, kau tamu di sini. Semua tamu harus beli.”

“Aku cuma nyasar,” suara Raka hampir hilang.

“Tak ada yang nyasar ke sini. Yang datang, pasti sudah diundang.”

Ia menghamparkan kain hitam. Isinya aneh: seperti koin dari era kerajaan Majapahit, kalung janin, dan…

serpihan kuku dengan noda darah kering.

“Bayar dengan apa saja. Tapi jangan uangmu sendiri. Jangan sekali pun.”

Raka gemetar. Ia mengaduk saku jaketnya, lalu menemukan satu permen jahe. Itu pemberian penjaga warung di basecamp.

Permen itu ia letakkan di atas kain.

Seketika, suara pasar meledak jadi jeritan. Lapak-lapak lenyap. Sosok-sosok tinggi menoleh serempak.

Mata mereka menyala merah, lidah menjulur panjang hingga menyentuh tanah.

Dan Raka…

Jatuh.


IV. Bangun di Dunia Lama

Ia terbangun di antara semak, dekat jalur Cemoro Sewu. Hari sudah pagi. Teman-temannya panik.

Raka hilang hampir tujuh jam. Padahal ia merasa hanya sebentar.

Tangannya menggenggam sesuatu. Sebuah koin kuno berkarat dan rambut panjang, basah, dengan ujung terbakar.


V. Bayangan yang Tak Pernah Pergi

Setelah pulang ke Jogja, hidup Raka berubah. Ia sering terbangun pukul 03.17 dini hari waktu yang sama saat ia menemukan pintu itu.

Kadang, kain hitam muncul di dapurnya, di kamar mandinya, bahkan di dalam tas kerjanya. Isinya selalu berbeda kadang kepala ayam, kadang gigi susu, kadang sepucuk surat yang bertuliskan:

“Belum lunas.”

Raka mencoba membakar koin itu, mengubur rambut itu, memanggil orang pintar, tapi semua sia-sia.

Ia tak bisa tidur nyenyak. Tak bisa makan tenang. Ia mulai bicara sendiri. Mulai kehilangan arah.

Dan pada suatu malam, tetangganya melaporkann kepada polisi suara jeritan dari dalam rumah Raka.

Polisi menemukan rumah kosong. Tidak ada jejak pemiliknya. Hanya satu barang yang tertinggal di ruang tamu: kain hitam, dengan permen jahe di atasnya, dan tulisan menyeringai di dinding:

“Sekali masuk pasar, kau tak akan benar-benar keluar.”

Gunung Lawu bukan sekadar jalur pendakian. Ia rumah bagi legenda, tempat batas logika runtuh. Dan Pasar Setan adalah gerbangnya.

Jika saat mendaki kau mencium bau pasar, mendengar suara tawar-menawar, atau melihat pintu berdiri sendiri jangan dekati. Jangan jawab. Jangan buka.

Karena yang ada di baliknya, menunggu.

Dan pasar itu…
Masih buka.


Penulis: Wahyu Septiadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Teror Rumah Bekas Makam: Sosok Bermulut Sobek Itu Menyamar Jadi Anak Pak Sawon

15 Mei 2026 - 00:53

Keangkeran Telaga Sunyi: Makhluk Peniru Wajah Mengintai di Dasar Telaga Gunung Slamet

8 Mei 2026 - 02:23

“Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi”

29 April 2026 - 01:01

Rumah Dokter Tua di Pakem Orderan yang Tidak Pernah Selesai

16 April 2026 - 21:27

KKN Berujung Teror: Cermin Terkutuk yang Membuat Penghuninya Gila dan Mati Gantung Diri

9 April 2026 - 14:30

Trending di Kolom Angker