PRABA INSIGHT- Di saat banyak negara berlomba-lomba jadi negara adidaya dengan segala macam teknologi dan kecanggihan ekonomi, Indonesia malah dapat gelar tak terduga dari Harvard: negara dengan kualitas hidup masyarakat terbaik sedunia.
Iya, kamu nggak salah baca. Indonesia. Bukan Swiss, bukan Jepang. Tapi kita.
Kabar ini keluar dari studi internasional bertajuk Global Flourishing Study (GFS) Wave I, yang dikawal oleh kampus segede Harvard, dibantu Baylor University, Gallup, dan Center for Open Science. Studi ini menilai 6 hal utama yang bikin hidup manusia layak disebut “hidup”: kesehatan fisik dan mental, relasi sosial, karakter moral, rasa aman finansial, makna hidup, dan yang paling susah kebahagiaan.
Indonesia keluar sebagai juara.Skor kita: 8,47. Ngalahin Amerika (peringkat 12), Inggris (peringkat 20), dan Jepang (posisi paling bontot).
Padahal, sinyal aja masih suka ilang di pelosok.
Haidar Alwi: Ini Bukan Soal Infrastruktur, Tapi Soal Infrastruktur Emosi
Menurut R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Institute, kemenangan ini bukan karena kita punya MRT, jalan tol, atau gedung tinggi segede ego netizen. Tapi karena kita masih punya rasa.
“Kita menang bukan karena angka, tapi karena empati, spiritualitas, gotong royong, dan makna hidup,” kata Haidar.
Sesuatu yang sering dianggap “nggak penting”, tapi justru jadi kunci utama kehidupan yang utuh.
Yang nggak bisa diukur pakai grafik Excel.
Haidar bahkan bilang, prestasi ini bukan hadiah dari negara, melainkan buah dari jati diri bangsa yang diam-diam terus hidup di warung kopi, di gang sempit, dan di tangan para tetangga yang masih suka nitip beli sabun ke warung.
Tapi, Namanya Hidup: Menjaga Lebih Susah daripada Meraih
Haidar nggak mau bangsa ini langsung GR. Karena menang itu satu hal, merawat kemenangan itu hal lain.
Ada tiga akar kekuatan bangsa yang menurutnya harus terus disiram. Bukan pakai anggaran, tapi pakai kesadaran:
1. Relasi Sosial: Jangan Sampai Tetangga Cuma Tahu dari Grup WA
Budaya Indonesia yang guyub dan ramah tamah jangan sampai kalah sama tren “healing sendirian” dan gaya hidup individualis. Gotong royong, sapa-menyapa, bantu-membantu itu warisan budaya bukan gimmick konten.
“Jangan biarkan layar gantiin tatap muka. Jangan biarkan kesibukan nyuri waktu buat silaturahmi,” kata Haidar.
Karena secanggih apapun gadget, dia nggak bisa gendong jenazah tetanggamu waktu kamu butuh bantuan.
2. Spiritualitas dan Makna Hidup: Bukan Cuma Soal Agama, Tapi Soal Arah
Makna hidup itu bukan cuma bahan khutbah Jumat. Tapi fondasi bangsa. Pendidikan harus mengajarkan bukan hanya cara cari kerja, tapi juga kenapa kita hidup.
Karakter dan nilai bukan aksesoris itu bahan bakar.
3. Ekonomi Berbasis Rakyat: Karena Kesejahteraan Nggak Boleh Dimonopoli
Haidar percaya ekonomi yang baik bukan yang bikin 1% makin kaya, tapi yang bisa nyambungin rejeki rakyat ke rakyat. Koperasi, solidaritas, dan gerakan “Rakyat Bantu Rakyat” adalah bentuk ekonomi yang masih punya hati.
Yang bukan cuma mikirin laba, tapi juga sesama.
Prestasi Harvard Ini Cermin, Bukan Panggung
Haidar kasih reminder keras: jangan silau dulu sama pengakuan internasional. Karena yang penting bukan dunia memuji kita, tapi kita sadar bahwa pujian itu punya tanggung jawab.
“Kalau dunia kasih cermin, tugas kita bukan ngaca terus selfie. Tapi lihat, apa pantulan kita masih jernih?” katanya.
Haidar juga ngajak semua elemen: pemimpin, guru, tokoh agama, sampai para anak muda TikTok-an buat jangan puas dulu.
Ini bukan akhir. Ini undangan buat naik level jadi bangsa yang matang.
“Yang bikin kita nomor satu itu bukan angka di dashboard ekonomi, tapi nilai-nilai yang tumbuh dari kebersamaan dan spiritualitas. Nilai yang nggak bisa dicopy-paste negara lain. Karena ini tumbuh dari sejarah panjang jadi manusia Indonesia,” pungkas Haidar.(van)