Menu ✖

Breaking News

News

Firman Tendri: Hukum di Indonesia Kacau, Viral Dulu Baru Jalan

badge-check

Praktisi hukum Firman Tendri menilai penegakan hukum di Indonesia kacau dan transaksional. JAMKI soroti lemahnya akuntabilitas pemberantasan korupsi, dari kasus Zarof Rika hingga pola “no viral, no justice”. Perbesar

Praktisi hukum Firman Tendri menilai penegakan hukum di Indonesia kacau dan transaksional. JAMKI soroti lemahnya akuntabilitas pemberantasan korupsi, dari kasus Zarof Rika hingga pola “no viral, no justice”.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Praktisi hukum Firman Tendri Mangendri menilai penegakan hukum di Indonesia saat ini kacau. Menurutnya, hukum berjalan fleksibel, transaksional, dan sangat bergantung pada tekanan publik. Kondisi ini, katanya, menjauhkan Indonesia dari cita-cita sebagai negara hukum.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Akuntabilitas Pemberantasan Korupsi: Mungkinkah Membersihkan dengan Sapu Kotor?” yang digelar Jaringan Aktivis dan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (JAMKI) di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

Firman menyoroti fakta yang cukup bikin geleng-geleng kepala: hukum di Indonesia kerap bergerak bukan karena sistem pengawasan dan penegakan yang solid, tapi karena perkara jadi sorotan luas masyarakat. Ia menyebut fenomena ini sebagai “no viral, no justice”. Artinya, kalau kasus nggak viral, ya aparat penegak hukum cenderung diam.

Ia juga menyoroti absennya preseden pengadilan terhadap presiden. Menurut Firman, selama kekuasaan tertinggi tidak tersentuh hukum, prinsip kesetaraan di hadapan hukum cuma jadi jargon. Ia membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan dan Malaysia, yang pernah memproses mantan pemimpin negaranya secara pidana.

Kritik senada datang dari Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santosa. Sugeng menilai penegakan hukum oleh KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian tidak berjalan konsisten dan cenderung selektif. “Ketika hukum dijalankan tanpa prinsip keadilan yang setara, ia mudah berubah menjadi alat kekuasaan,” ujar Sugeng.

Sugeng menyoroti kinerja Kejaksaan Agung, terutama di lingkungan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus). Berdasarkan pemantauan IPW, ia menyebut terdapat pola penyalahgunaan kewenangan yang sistematis, termasuk praktik penyortiran perkara dan keterlibatan jaringan perantara kasus.

Ia mencontohkan kasus Zarof Rika, pejabat non-yudisial Mahkamah Agung, yang dalam penggeledahan ditemukan uang sekitar Rp915 miliar dan emas 51 kilogram. Sugeng menyebut Zarof Rika diduga berperan sebagai perantara dalam praktik percaloan perkara. Catatan transaksi yang ditemukan, termasuk dugaan aliran dana dalam perkara Sugar Group, menurutnya memperlihatkan pola korupsi yang lebih luas.

Yang jadi persoalan serius, menurut Sugeng, adalah konstruksi dakwaan yang menggunakan pasal gratifikasi, bukan suap. Pemilihan pasal ini berpotensi menutup alur penerima manfaat dan melindungi pihak-pihak tertentu. “Jika penegakan hukum dijalankan oleh sapu yang kotor, maka yang terjadi bukan pembersihan, melainkan pemindahan kotoran,” ujarnya.

Dari kalangan mahasiswa, Salma Mawavi, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), menilai krisis pemberantasan korupsi tidak hanya soal praktik korupsinya, tetapi juga lemahnya akuntabilitas sistem hukum. Ia menyoroti banyak laporan masyarakat yang disertai data awal, namun tidak pernah ditindaklanjuti aparat.

Salma menekankan perlunya perubahan strategi gerakan mahasiswa dari sekadar aksi simbolik menuju advokasi berbasis bukti. Menurutnya, mahasiswa punya legitimasi moral dan kebebasan bersuara, tapi tuntutan akan mudah diabaikan jika tidak disertai dokumen, kronologi rapi, dan target advokasi yang jelas.

Diskusi yang dimoderatori Carlos Wawo ini menjadi ruang refleksi kritis atas praktik pemberantasan korupsi di Indonesia. Berbagai pandangan yang muncul memperlihatkan satu benang merah: tanpa pengawasan ketat dari masyarakat sipil dan keberanian membenahi institusi penegak hukum dari dalam, pemberantasan korupsi berisiko stagnan bahkan melahirkan persoalan baru. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sertijab Dankodaeral II, Laksma TNI Mochammad Riza Gantikan Laksda TNI Sarimpunan Tanjung

22 Okt 2026 - 21:50 WIB

Sertijab Dankodaeral II, Laksma TNI Mochammad Riza Gantikan Laksda TNI Sarimpunan Tanjung

Soroti Putusan Sarjan, JAPMI dan JaMWAs Desak KPK Usut Suap Ijon Bekasi

22 Okt 2026 - 19:55 WIB

Soroti Putusan Sarjan, JAPMI dan JaMWAs Desak KPK Usut Suap Ijon Bekasi

Sukma Hidayat Desak Gakkum KLH Cabut HGU Perusahaan yang Terbukti Membakar Hutan di Sumsel

22 Okt 2026 - 15:08 WIB

Sukma Hidayat Desak Gakkum KLH Cabut HGU Perusahaan yang Terbukti Membakar Hutan di Sumsel

Film ‘Yang Disebut Nakal’: Gugat Stigma Anak Nakal Lewat Komedi Reflektif

22 Okt 2026 - 01:43 WIB

Film ‘Yang Disebut Nakal’: Gugat Stigma Anak Nakal Lewat Komedi Reflektif

Dugaan Kekerasan Seksual Balita oleh Oknum Dokter: Pakar Medis Soroti Sanksi Etik, Penanganan Bakteri Gonore, dan Trauma Psikologis Anak

22 Okt 2026 - 00:37 WIB

Dugaan Kekerasan Seksual Balita oleh Oknum Dokter: Pakar Medis Soroti Sanksi Etik, Penanganan Bakteri Gonore, dan Trauma Psikologis Anak
Trending di Celeb Update