Menu

Mode Gelap
Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

News

Ketika Mens Rea Dipersoalkan, Pandji Pragiwaksono Menempuh Jalan Dialog

badge-check

Pandji Pragiwaksono berdialog dengan MUI menyikapi polemik pertunjukan stand up comedy Mens Rea. Pandji menegaskan pentingnya ruang tafsir, dialog, dan sensitivitas dalam berkarya.(Foto: Kahfi/prabainsight.com) Perbesar

Pandji Pragiwaksono berdialog dengan MUI menyikapi polemik pertunjukan stand up comedy Mens Rea. Pandji menegaskan pentingnya ruang tafsir, dialog, dan sensitivitas dalam berkarya.(Foto: Kahfi/prabainsight.com)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di Indonesia, sebuah pertunjukan stand up comedy bisa berakhir ke mana-mana. Ke trending topic, ke grup WhatsApp keluarga, bahkan sampai ke meja diskusi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Itulah yang terjadi pada Mens Rea, pertunjukan Pandji Pragiwaksono yang belakangan ramai diperdebatkan.

Alih-alih sibuk membalas komentar atau menambah panjang utas klarifikasi, Pandji memilih langkah yang terbilang jarang: datang langsung ke Kantor MUI di Jakarta Pusat. Bukan untuk debat terbuka, melainkan silaturahmi dan tabayun.

“Saya berniat untuk bersilaturahmi kemudian untuk bertabayun, mencoba untuk menjelaskan maksud di balik pertunjukan saya,” kata Pandji kepada awak media, Selasa (3/2/2026).

Pandji hadir didampingi kuasa hukumnya, Haris Azhar. Keduanya diterima Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh, dalam pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar dua jam. Cukup lama untuk menonton ulang Mens Rea, yang memang sengaja dilakukan agar diskusi tidak melayang ke mana-mana.

Menurut Pandji, dialog selalu menjadi pilihan utamanya ketika sebuah karya menimbulkan kebingungan.

“Memang saya dan Haris sering sekali mengucapkan ini, bahwa saya, secara rekam jejak sangat sering menyediakan diri untuk dialog,” ujarnya.

Bagi Pandji, kebingungan atau perbedaan tafsir seharusnya diselesaikan dengan obrolan, bukan saling menyimpulkan dari potongan video.

“Kalau misalnya ketika ada kebingungan atau ketidakjelasan atas produk pertunjukan saya, langkah pertama yang diambil adalah berdialog,” lanjutnya.

Menariknya, diskusi tersebut tidak berhenti di ruang pertemuan. Di luar gedung MUI, Pandji juga menyinggung soal serangan di media sosial yang bahkan menyasar keluarganya. Namun, ia memastikan tidak akan menempuh jalur hukum.

“Semua orang berhak punya opini, meski opini yang tidak saya sepakati, mereka berhak mendapatkan opini tersebut, jadi enggak akan,” kata Pandji, menegaskan dirinya tidak akan melaporkan akun-akun tersebut.

Pandji menyadari bahwa karya seni, termasuk stand up comedy, selalu terbuka terhadap berbagai tafsir. Tapi ia menilai, seniman juga berhak dimintai penjelasan sebelum vonis dijatuhkan.

“Sebagai seniman, ketika saya membuat karya, tentu ada banyak penafsiran, tetapi senimannya sendiri juga bisa ditanya untuk kejelasan maksud dari sebuah karya,” ujarnya.

Dari pertemuan itu, Pandji mengaku mendapat sejumlah masukan dari MUI. Salah satu pesan penting yang ia catat adalah soal sensitivitas dalam berkarya, terutama ketika karya tersebut dikonsumsi publik luas.

“Saya diingatkan sebagai orang yang berkarya, tentu selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi,” kata Pandji.

Ia menegaskan komitmennya untuk terus belajar dan menyesuaikan diri.

“Karena saya ingin terus berkarya yang didesain untuk menghibur sebanyak-banyaknya orang, maka karya itu harus didesain dengan mempertimbangkan perasaan sebanyak-banyaknya orang juga,” tutupnya.

Pada akhirnya, pertemuan Pandji dan MUI ini mungkin tak langsung meredakan semua perdebatan. Tapi setidaknya, ada satu pelajaran yang bisa dipetik: sebelum ribut, mungkin ada baiknya nonton bareng dulu.

Reporter: Fahru Atsa Kahfi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya

16 Juli 2026 - 03:12

Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

15 Juli 2026 - 11:17

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Kuasa Hukum Nancy Soroti Kesaksian Dwi Febri di Sidang Sengketa Aset PN Jaksel, Siap Tempuh Jalur Hukum jika Terbukti Palsu

14 Juli 2026 - 16:48

Dugaan Mega Korupsi di Kejaksaan Jadi Ujian Penegakan Hukum, BEM PTMA Zona III Apresiasi Sikap Prabowo

12 Juli 2026 - 09:17

Trending di Nasional