Menu

Mode Gelap
Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada

News

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

badge-check

Sandri Rumanama mendukung langkah Kapolri memperkuat perlengkapan keselamatan polisi melalui standar MEPE agar anggota lebih aman saat bertugas di lapangan. Perbesar

Sandri Rumanama mendukung langkah Kapolri memperkuat perlengkapan keselamatan polisi melalui standar MEPE agar anggota lebih aman saat bertugas di lapangan.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di tengah dunia yang makin bising oleh konten viral, potongan video 30 detik, dan opini setengah matang, Kontra Narasi memilih jalan yang relatif sunyi tapi penting: memperkuat jurnalis agar tetap tahu mana fakta, mana framing, dan mana godaan algoritma.

Komunitas Kontra Narasi menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sekaligus Penguatan Kapasitas Jurnalis dalam Produk Digital dan Kreator Konten selama dua hari, Kamis–Jumat (5–6 Februari 2026), di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan. Sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang jurnalis dan pegiat media ikut nimbrung dalam kegiatan ini.

Hari pertama diisi dengan seminar pra-acara ruang pemanasan sebelum masuk ke dapur teknis. Hari kedua barulah para peserta diajak menyelam lebih dalam ke pelatihan peningkatan kapasitas jurnalis, khususnya yang berkaitan dengan kerja-kerja jurnalistik di era digital.

Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, sejak awal mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar soal konten, apalagi sekadar kejar tayang. Ada tanggung jawab yang lebih besar: menjaga demokrasi tetap bernapas.

“Pers adalah pilar demokrasi. Ketika pers dibungkam, itu menjadi tanda bahaya bagi demokrasi. Kita bisa melihat di berbagai negara, ketika kebebasan pers dipersempit, yang terancam bukan hanya media, tetapi juga hak publik untuk mendapatkan informasi,” ujar Sandri di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Bagi Sandri, pers yang independen tidak cuma bertugas memberitakan peristiwa, tapi juga mengawasi kekuasaan dan menyuarakan kepentingan publik. Kalau fungsi ini lumpuh, kualitas demokrasi ikut tergerus pelan tapi pasti.

Ia juga menyinggung soal supremasi sipil, isu yang belakangan sering terdengar abstrak tapi dampaknya sangat konkret. Dalam pandangannya, jurnalisme yang profesional punya peran besar memastikan prinsip sipil tetap menjadi rujukan dalam kehidupan bernegara.

“Supremasi sipil tidak bisa dilepaskan dari peran pers. Media yang kritis, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik akan membantu memastikan bahwa kekuasaan berjalan dalam koridor hukum dan demokrasi,” kata Sandri.

Namun menjaga demokrasi hari ini tak cukup dengan idealisme semata. Lanskap media sudah berubah. Platform berganti, format bergeser, dan audiens makin tidak sabaran. Karena itu, Kontra Narasi menilai jurnalis juga perlu beradaptasi tanpa kehilangan kompas etiknya.

“Tren informasi sekarang bergerak kuat ke arah audio visual. Karena itu, jurnalis perlu memiliki kemampuan tambahan sebagai kreator konten, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” ujar Sandri.

Dalam sesi pelatihan, peserta dibekali keterampilan produksi konten digital, mulai dari pengolahan audio visual hingga strategi menyajikan informasi agar relevan di berbagai platform.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas jurnalis agar mampu menjangkau audiens yang lebih luas dengan format yang relevan,” tandas Sandri.

Kegiatan ini turut menghadirkan pemateri dari beragam institusi, seperti TVRI, Komisi Informasi Pusat, serta perwakilan Humas Polri. Mereka berbagi pengalaman soal praktik jurnalisme, keterbukaan informasi publik, dan tantangan komunikasi di era digital yang serba cepat tapi sering dangkal.

Lewat UKW dan pelatihan ini, Kontra Narasi berharap jurnalis tidak sekadar naik kelas secara teknis, tapi juga tetap tegak lurus menjaga perannya sebagai penjaga nalar publik di tengah demokrasi yang makin gampang tersinggung dan media yang terus berubah bentuk.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Sandri Rumanama: Isu Surpres Pergantian Kapolri Ramai Lagi, Padahal Dasarnya Saja Belum Kelihatan

5 Agustus 2026 - 11:45

Delapan Jam Menunggu Kamar Rawat, Dihujat karena BPJS, Kisah Yurizal Berakhir Pilu

5 Agustus 2026 - 10:48

Trending di News