Menu

Mode Gelap
Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

News

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

badge-check

Sandri Rumanama mendukung langkah Kapolri memperkuat perlengkapan keselamatan polisi melalui standar MEPE agar anggota lebih aman saat bertugas di lapangan. Perbesar

Sandri Rumanama mendukung langkah Kapolri memperkuat perlengkapan keselamatan polisi melalui standar MEPE agar anggota lebih aman saat bertugas di lapangan.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di tengah dunia yang makin bising oleh konten viral, potongan video 30 detik, dan opini setengah matang, Kontra Narasi memilih jalan yang relatif sunyi tapi penting: memperkuat jurnalis agar tetap tahu mana fakta, mana framing, dan mana godaan algoritma.

Komunitas Kontra Narasi menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sekaligus Penguatan Kapasitas Jurnalis dalam Produk Digital dan Kreator Konten selama dua hari, Kamis–Jumat (5–6 Februari 2026), di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan. Sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang jurnalis dan pegiat media ikut nimbrung dalam kegiatan ini.

Hari pertama diisi dengan seminar pra-acara ruang pemanasan sebelum masuk ke dapur teknis. Hari kedua barulah para peserta diajak menyelam lebih dalam ke pelatihan peningkatan kapasitas jurnalis, khususnya yang berkaitan dengan kerja-kerja jurnalistik di era digital.

Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, sejak awal mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar soal konten, apalagi sekadar kejar tayang. Ada tanggung jawab yang lebih besar: menjaga demokrasi tetap bernapas.

“Pers adalah pilar demokrasi. Ketika pers dibungkam, itu menjadi tanda bahaya bagi demokrasi. Kita bisa melihat di berbagai negara, ketika kebebasan pers dipersempit, yang terancam bukan hanya media, tetapi juga hak publik untuk mendapatkan informasi,” ujar Sandri di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Bagi Sandri, pers yang independen tidak cuma bertugas memberitakan peristiwa, tapi juga mengawasi kekuasaan dan menyuarakan kepentingan publik. Kalau fungsi ini lumpuh, kualitas demokrasi ikut tergerus pelan tapi pasti.

Ia juga menyinggung soal supremasi sipil, isu yang belakangan sering terdengar abstrak tapi dampaknya sangat konkret. Dalam pandangannya, jurnalisme yang profesional punya peran besar memastikan prinsip sipil tetap menjadi rujukan dalam kehidupan bernegara.

“Supremasi sipil tidak bisa dilepaskan dari peran pers. Media yang kritis, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik akan membantu memastikan bahwa kekuasaan berjalan dalam koridor hukum dan demokrasi,” kata Sandri.

Namun menjaga demokrasi hari ini tak cukup dengan idealisme semata. Lanskap media sudah berubah. Platform berganti, format bergeser, dan audiens makin tidak sabaran. Karena itu, Kontra Narasi menilai jurnalis juga perlu beradaptasi tanpa kehilangan kompas etiknya.

“Tren informasi sekarang bergerak kuat ke arah audio visual. Karena itu, jurnalis perlu memiliki kemampuan tambahan sebagai kreator konten, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” ujar Sandri.

Dalam sesi pelatihan, peserta dibekali keterampilan produksi konten digital, mulai dari pengolahan audio visual hingga strategi menyajikan informasi agar relevan di berbagai platform.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas jurnalis agar mampu menjangkau audiens yang lebih luas dengan format yang relevan,” tandas Sandri.

Kegiatan ini turut menghadirkan pemateri dari beragam institusi, seperti TVRI, Komisi Informasi Pusat, serta perwakilan Humas Polri. Mereka berbagi pengalaman soal praktik jurnalisme, keterbukaan informasi publik, dan tantangan komunikasi di era digital yang serba cepat tapi sering dangkal.

Lewat UKW dan pelatihan ini, Kontra Narasi berharap jurnalis tidak sekadar naik kelas secara teknis, tapi juga tetap tegak lurus menjaga perannya sebagai penjaga nalar publik di tengah demokrasi yang makin gampang tersinggung dan media yang terus berubah bentuk.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya

16 Juli 2026 - 03:12

Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

15 Juli 2026 - 11:17

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Kuasa Hukum Nancy Soroti Kesaksian Dwi Febri di Sidang Sengketa Aset PN Jaksel, Siap Tempuh Jalur Hukum jika Terbukti Palsu

14 Juli 2026 - 16:48

Dugaan Mega Korupsi di Kejaksaan Jadi Ujian Penegakan Hukum, BEM PTMA Zona III Apresiasi Sikap Prabowo

12 Juli 2026 - 09:17

Trending di Nasional