Menu

Mode Gelap
Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan iOS 26.4 Hadir, Fitur Keamanan iPhone Kini Bikin Maling Ketar-ketir

News

Eyang Meri Pergi di Usia 100 Tahun, Perempuan Tangguh di Balik Keteguhan Jenderal Hoegeng

badge-check


					Eyang Meri atau Meriyati Hoegeng meninggal dunia di usia 100 tahun.(Istimewa) Perbesar

Eyang Meri atau Meriyati Hoegeng meninggal dunia di usia 100 tahun.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Indonesia kehilangan satu sosok sepuh yang diam-diam punya peran besar dalam sejarah keteladanan. Meriyati Hoegeng atau yang lebih akrab dipanggil Eyang Meri meninggal dunia pada Selasa, 3 Februari 2026, pukul 13.25 WIB, di usia genap 100 tahun. Ia menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Nama Eyang Meri mungkin tak sering muncul di buku sejarah atau headline berita besar. Tapi di balik sosok Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso mantan Kapolri yang terkenal lurus, jujur, dan nyaris mustahil dicari aibnya ada satu figur penting yang setia mendampingi: istrinya sendiri.

Eyang Meri lahir pada 23 Juni 1925, dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ia menikah dengan Hoegeng pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta, jauh sebelum kata “integritas” jadi jargon politik dan “hidup sederhana” berubah jadi slogan kampanye.

Selama puluhan tahun mendampingi Hoegeng, Eyang Meri dikenal sebagai sosok yang ikut menjalani hidup bersahaja, bahkan ketika kekuasaan dan fasilitas sebenarnya terbuka lebar. Bersama Hoegeng, ia membesarkan tiga orang anak: Renny Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, dan Sri Pamujining Rahayu.

Di usia seabad, Eyang Meri masih menunjukkan keteduhan khas orang-orang yang sudah berdamai dengan hidup. Saat ulang tahunnya yang ke-100 pada Juni 2025, ia sempat mendapat perhatian dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo beserta jajaran. Responsnya jauh dari kesan seremoni berlebihan.

“Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya keadaan sehat, selamat dalam lindungan Allah SWT,” ucapnya kala itu.

Tak ada petuah panjang, tak ada wejangan moral. Tapi justru dari kalimat sederhana itulah, karakter Eyang Meri terasa: tenang, rendah hati, dan tahu kapan harus berhenti bicara.

Jenazah Eyang Meri rencananya akan disemayamkan di Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat. Kepergiannya bukan sekadar kabar duka keluarga Hoegeng, melainkan pengingat bahwa di balik figur besar yang jujur, hampir selalu ada pasangan yang memilih hidup lurus meski harus menolak banyak tikungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus

26 Maret 2026 - 08:20 WIB

Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill

26 Maret 2026 - 07:29 WIB

Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan

26 Maret 2026 - 07:15 WIB

Diduga Hendak Bunuh Diri di Depan Istana, Perempuan Diamankan usai Lepas Sepatu

25 Maret 2026 - 09:23 WIB

BYD Nyemplung ke Kolam Bundaran HI: Antara Google Maps, Grogi, dan Realita Sopir Baru

25 Maret 2026 - 09:05 WIB

Trending di News