Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

News

Eyang Meri Pergi di Usia 100 Tahun, Perempuan Tangguh di Balik Keteguhan Jenderal Hoegeng

badge-check


					Eyang Meri atau Meriyati Hoegeng meninggal dunia di usia 100 tahun.(Istimewa) Perbesar

Eyang Meri atau Meriyati Hoegeng meninggal dunia di usia 100 tahun.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Indonesia kehilangan satu sosok sepuh yang diam-diam punya peran besar dalam sejarah keteladanan. Meriyati Hoegeng atau yang lebih akrab dipanggil Eyang Meri meninggal dunia pada Selasa, 3 Februari 2026, pukul 13.25 WIB, di usia genap 100 tahun. Ia menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Nama Eyang Meri mungkin tak sering muncul di buku sejarah atau headline berita besar. Tapi di balik sosok Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso mantan Kapolri yang terkenal lurus, jujur, dan nyaris mustahil dicari aibnya ada satu figur penting yang setia mendampingi: istrinya sendiri.

Eyang Meri lahir pada 23 Juni 1925, dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ia menikah dengan Hoegeng pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta, jauh sebelum kata “integritas” jadi jargon politik dan “hidup sederhana” berubah jadi slogan kampanye.

Selama puluhan tahun mendampingi Hoegeng, Eyang Meri dikenal sebagai sosok yang ikut menjalani hidup bersahaja, bahkan ketika kekuasaan dan fasilitas sebenarnya terbuka lebar. Bersama Hoegeng, ia membesarkan tiga orang anak: Renny Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, dan Sri Pamujining Rahayu.

Di usia seabad, Eyang Meri masih menunjukkan keteduhan khas orang-orang yang sudah berdamai dengan hidup. Saat ulang tahunnya yang ke-100 pada Juni 2025, ia sempat mendapat perhatian dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo beserta jajaran. Responsnya jauh dari kesan seremoni berlebihan.

“Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya keadaan sehat, selamat dalam lindungan Allah SWT,” ucapnya kala itu.

Tak ada petuah panjang, tak ada wejangan moral. Tapi justru dari kalimat sederhana itulah, karakter Eyang Meri terasa: tenang, rendah hati, dan tahu kapan harus berhenti bicara.

Jenazah Eyang Meri rencananya akan disemayamkan di Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat. Kepergiannya bukan sekadar kabar duka keluarga Hoegeng, melainkan pengingat bahwa di balik figur besar yang jujur, hampir selalu ada pasangan yang memilih hidup lurus meski harus menolak banyak tikungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi

6 Februari 2026 - 15:26 WIB

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

5 Februari 2026 - 12:30 WIB

Ketika Mens Rea Dipersoalkan, Pandji Pragiwaksono Menempuh Jalan Dialog

3 Februari 2026 - 13:56 WIB

OJK Tuntaskan Penyidikan Kasus Pinjol Crowde, Temukan 62 Mitra Fiktif

3 Februari 2026 - 11:58 WIB

Gatot Nurmantyo Nilai Pernyataan Kapolri Berbahaya bagi Demokrasi

31 Januari 2026 - 12:15 WIB

Trending di News