KOLOM ANGKER – Kisah ini datang dari seorang teman pembaca. Ia bersumpah bahwa cerita ini bukan karangan. Bukan legenda. Bukan pula dongeng pengantar tidur.
Ini pernah terjadi.
Awal tahun 2000-an.
Di sebuah kampung pesisir terpencil yang oleh warga sekitar disebut Kampung Mawar Biru.
Kampung itu berbeda dari kampung lain.
Di desa-desa sekitar, orang masih percaya pada hal-hal yang tak kasat mata tentang kuyang yang terbang di malam hari, tentang roh yang belum pergi dari jasadnya, tentang kuburan yang harus dijaga tujuh malam.
Apalagi jika yang meninggal anak kecil.
Tapi di Mawar Biru, semua itu dianggap omong kosong.
Orang-orang di sana percaya logika. Percaya apa yang bisa dilihat mata.
Jika ada yang meninggal, mereka menguburkan, berdoa sebentar… lalu pulang.
Kuburan dibiarkan sendiri.
Sepi.
Gelap.
Hanya ditemani angin laut yang kadang terdengar seperti… bisikan.
Malam itu sekitar pukul sembilan.
Tamrin berjalan menyusuri jalan setapak menuju pantai.
Usianya sudah lebih dari empat puluh. Kulitnya legam terbakar matahari. Seorang nelayan yang hidupnya hampir seluruhnya dihabiskan di laut.
Di tangannya ada senter kecil dan alat pancing.
Untuk sampai ke pantai, ada satu tempat yang harus ia lewati.
Pemakaman umum Kampung Mawar Biru.
Kuburan itu berada sangat dekat dengan garis pantai.
Tanahnya berpasir. Nisan-nisan kayu berdiri miring.
Angin laut membuat udara di sana selalu dingin… bahkan di malam yang panas.
Sore tadi, Tamrin tahu ada seorang anak kecil dimakamkan di sana.
Usianya baru sekitar tiga tahun.
Demam tinggi, kata orang tuanya.
Tamrin berjalan santai… sampai langkahnya tiba-tiba berhenti.
Sorot senter kecilnya menyapu tanah di depan.
Ada sesuatu yang aneh.
Salah satu gundukan tanah… tampak rusak.
Seperti digali.
Tamrin mengerutkan kening.
“Anjing lagi…” gumamnya.
Biawak dan anjing liar memang sering masuk area makam.
Ia melangkah lebih dekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lalu
KREK!
Suara sesuatu patah di bawah kakinya.
Tamrin menyorotkan senter ke tanah.
Itu… potongan kayu nisan yang patah.
Dadanya mulai terasa aneh.
Ia mengangkat senter… mengarahkannya ke lubang makam itu.
Dan saat cahaya jatuh ke dalam liang lahat
Tamrin berhenti bernapas.
Di dalam kuburan itu…
ada seseorang.
Seseorang yang sedang bergerak.
Suara aneh terdengar dari dalam lubang.
Kunyah…
Kunyah…
Kunyah…
Pelan.
Basah.
Seperti seseorang yang makan sesuatu… dengan sangat lahap.
Bau busuk tiba-tiba menusuk hidung Tamrin.
Bau darah.
Bau tanah basah.
Bau… sesuatu yang tidak seharusnya ada di kuburan baru.
Tamrin mengangkat senter lebih tinggi.
Cahaya itu menembus liang kubur.
Dan apa yang ia lihat membuat seluruh tubuhnya langsung dingin.
Di dalam kuburan anak kecil itu…
ada seorang perempuan.
Rambutnya panjang, kusut, menutupi sebagian wajahnya.
Pakainya kotor oleh tanah dan… darah.
Tangannya masuk ke dalam tubuh kecil yang sudah tidak bernyawa.
Lalu
CRAAK!
Suara sesuatu tercabut.
Perempuan itu menarik sesuatu dari dalam tubuh anak itu.
Kemudian memasukkannya ke mulutnya.
KUNYAH… KUNYAH…
Tamrin ingin berteriak.
Tapi suaranya tidak keluar.
Tubuhnya seperti dipaku di tempat.
Senter di tangannya bergetar.
Perempuan itu terus makan.
Sampai tiba-tiba…
ia berhenti.
Kepalanya perlahan menoleh.
Pelan…
Sangat pelan.
Seolah ia… merasakan seseorang sedang melihatnya.
Rambut panjangnya bergeser.
Dan dari balik rambut itu
dua mata hitam menatap lurus ke arah Tamrin.
“KREEEK…”
Perempuan itu tersenyum.
Senyum yang terlalu lebar untuk manusia normal.
Di sela giginya… ada sisa daging.
Tamrin langsung mundur satu langkah.
Lalu
Perempuan itu tiba-tiba melompat setengah keluar dari liang kubur.
DUUK!
Tamrin tersentak.
Senter hampir jatuh dari tangannya.
Napasnya pecah.
Dan akhirnya tubuhnya kembali bergerak.
Ia berbalik.
Berlari.
Secepat yang kakinya mampu.
Angin malam terasa seperti mengejar dari belakang.
Ia tidak berani menoleh.
Tidak ingin tahu apakah perempuan itu keluar dari kuburan… atau sedang mengejarnya.
Begitu sampai dekat kampung—
Tamrin menjerit.
“TOLONG!! KUBURAN DIBONGKAR!!”
Warga keluar dari rumah.
Lelaki, pemuda, bahkan beberapa ibu.
Dengan obor dan lampu minyak, mereka mengikuti Tamrin kembali ke pemakaman.
Dan malam itu…
semua yang melihatnya… tidak pernah bisa melupakan apa yang mereka lihat.
Perempuan itu masih di sana.
Masih di dalam liang kubur.
Tubuh anak kecil itu sudah… hancur.
Sebagian organ dalamnya hilang.
Perempuan itu tidak melawan saat ditarik keluar.
Tubuhnya lemas.
Perutnya membuncit tidak wajar.
Darah mengering di bibirnya.
Ia terlihat… kenyang.
Perempuan itu akhirnya bicara.
Namanya Sari.
Warga Kampung Mawar Biru sendiri.
Usianya baru dua puluh dua tahun.
Dengan suara datar seolah menceritakan hal biasa ia mengaku pernah pergi ke desa lain.
Ia ingin belajar ilmu pengasihan.
Ingin dicintai lelaki yang ia sukai.
Tapi ilmu yang ia dapat… bukan itu.
Ia diberi ilmu awet muda.
Syaratnya satu.
Dan syarat itu…
membuat semua orang yang mendengarnya merinding.
Ia harus memakan organ tubuh manusia.
Terutama anak kecil.
Semakin muda… semakin kuat ilmunya.
Tidak ada mantra.
Tidak ada ritual panjang.
Hanya satu hal.
Kelaparan.
Karena saat itu belum ada ponsel berkamera, tidak ada bukti selain cerita para saksi.
Akhirnya warga memutuskan mengusir Sari dan keluarganya dari kampung.
Malam itu juga.
Tak ada yang tahu ke mana mereka pergi.
Tak ada yang tahu apakah Sari berhenti… atau masih berkeliaran di tempat lain.
Namun sejak malam itu…
Kampung Mawar Biru berubah.
Sekarang jika ada yang meninggal—
kuburannya selalu dijaga.
Siang.
Malam.
Bergantian.
Tanpa alasan.
Karena warga Mawar Biru tahu sesuatu yang orang lain mungkin tidak percaya.
Ilmu seperti itu…
tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya bersembunyi.
Menunggu kuburan baru.
Menunggu malam yang sepi.
Dan mungkin…
menunggu saat kamu berjalan sendirian melewati pemakaman.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











