KOLOM ANGKER – Kisah nyata yang masih enggan diceritakan warga tepian Musi
Aku masih ingat betul bagaimana Sungai Musi di tahun 1987 bukan sekadar aliran air yang membelah Palembang ia seperti makhluk hidup yang sedang bernapas pelan, mengamati, dan menunggu.
Aku lahir di Karang Anyar, sebuah kampung kecil yang seolah menempel di tubuh sungai itu. Rumah-rumah panggung berdiri rapat di atas air keruh kecokelatan, papan kayunya tua, sebagian lapuk dimakan waktu, sebagian lain tampak seperti baru saja dipaku ulang oleh tangan yang tergesa-gesa. Di malam hari, rumah-rumah itu berderit pelan… seperti mengeluh.
Dan di bawahnya air itu tidak pernah benar-benar diam.
Kabut yang Tidak Pernah Ramah
Pagi hari di Musi selalu datang seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya ingin terlihat. Kabut turun rendah, menempel di permukaan air, menutup pandangan seperti tirai basah yang berat. Dari kejauhan, sungai tampak seperti cermin raksasa yang retak memantulkan langit, tapi dengan cara yang salah.
Ada bau yang tidak pernah hilang. Bau lumpur tua, besi berkarat, dan sesuatu yang amis… seperti air yang terlalu lama menyimpan rahasia.
Orang-orang bilang itu biasa. Hidup di sungai memang begitu.
Tapi tidak semua hal di Musi bisa dijelaskan dengan kata “biasa”.
Antu Banyu
Sejak kecil kami sudah tahu satu larangan yang tidak pernah boleh dilanggar:
Jangan bermain terlalu jauh ke tengah sungai. Terutama dekat pusaran lama.
Di sana airnya selalu tampak lebih gelap. Seperti ada lubang di bawahnya yang tidak pernah selesai. Orang dewasa menyebutnya dengan suara pelan:
“Itu tempat Antu Banyu.”
Makhluk itu tidak pernah dijelaskan seperti cerita hantu biasa. Tidak ada kata “konon” yang ringan. Tidak ada tawa setelahnya.
Yang ada hanya jeda panjang… lalu diam.
Katanya, Antu Banyu bukan sekadar arwah. Ia seperti penjaga yang tidak pernah diangkat sumpahnya. Penguasa air yang tidak terlihat, tapi selalu ada di bawah permukaan—mengikuti setiap gerakan manusia yang terlalu berani.
Hari yang Salah
Hari itu matahari terlalu terang. Terlalu jujur untuk sebuah tempat yang menyimpan terlalu banyak kebohongan.
Aku, Rudi, Jakan, dan Herman memutuskan memancing di tempat yang selalu dilarang. Awalnya hanya bercanda. Seperti semua awal bencana yang tidak pernah terasa serius.
Kami berjalan di atas papan kayu yang lembap. Di bawahnya, air Musi bergerak pelan… tapi tidak sepenuhnya tenang. Seolah sesuatu di dalamnya ikut menunggu kami sampai cukup jauh.
Rudi yang paling depan tertawa.
“Di sini ikannya banyak,” katanya.
Dan benar.
Ikan-ikan kecil muncul seperti dipanggil. Terlalu banyak. Terlalu cepat. Seakan ada sesuatu di bawah sana yang sedang memberi kami hadiah.
Aku ingat saat itu aku sempat berhenti tertawa.
Karena air di bawah kakiku tiba-tiba terasa… dingin.
Bukan dingin air biasa.
Tapi dingin yang seperti menyentuh tulang.
Yang Bergerak di Bawah
Aku melihatnya pertama kali.
Bayangan.
Bukan ikan. Bukan kayu.
Sesuatu yang bergerak terlalu perlahan… tapi terlalu sadar.
Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi suara seperti tersangkut di tenggorokan.
Rudi tidak melihat apa-apa. Atau mungkin dia memang sudah dipilih untuk tidak melihat.
Ia melangkah lebih dekat ke tepi.
Dan papan itu yang tadi kokoh tiba-tiba terasa seperti lendir.
Satu detik.
Dua detik.
Tubuhnya jatuh.
Air yang Menelan Nama
Awalnya kami tertawa.
Refleks bodoh anak-anak yang belum mengerti bahwa sungai bisa berubah dalam hitungan detik.
Tapi Rudi tidak muncul.
Tidak ada kepala yang naik ke permukaan. Tidak ada tangan yang menepuk air.
Hanya… riak.
Lalu air itu berubah.
Seperti sesuatu di bawahnya baru saja membuka mata.
“Rudi!” Jakan berteriak.
Air mulai berputar di titik itu. Bukan arus alami. Tapi seperti pusaran yang dipaksa hidup.
Dan kemudian
Rudi muncul.
Setengah tubuh.
Matanya terbuka lebar.
Tangannya terangkat, seperti mencoba meraih udara yang sudah tidak mau mengenalnya lagi.
Aku melihat sesuatu di belakangnya.
Sebuah tangan.
Panjang.
Pucat.
Dengan jari-jari yang terlalu lebar… seperti bukan milik manusia.
Ia menariknya kembali.
Ke bawah.
Sungai yang Tidak Mengembalikan Apa Pun
Kami lari.
Tanpa berpikir. Tanpa menoleh terlalu lama.
Yang tersisa hanya suara air yang kembali tenang… terlalu cepat, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi kami tahu.
Sungai itu baru saja mengambil sesuatu.
Dan tidak akan mengembalikannya.
Yang Ditemukan Kembali
Rudi ditemukan keesokan harinya.
Tersangkut di akar pohon tua di tepi sungai.
Tubuhnya meringkuk.
Seperti seseorang yang sedang mencoba melindungi dirinya dari sesuatu yang tidak terlihat.
Wajahnya tidak berteriak.
Tapi justru itu yang paling menakutkan.
Diam total.
Dan di belakang kepalanya… ada luka kecil.
Bulat.
Seperti dihisap.
Tidak ada yang mau menjelaskan lebih jauh.
Karena beberapa hal, jika disebutkan terlalu jelas… bisa terasa seperti sedang dipanggil kembali.
Setelah Itu
Setelah kejadian itu, sungai tidak pernah terasa sama lagi.
Bukan karena airnya berubah.
Tapi karena kami yang berubah.
Setiap kali aku mendekati tepi Musi, aku merasa sesuatu ikut menatap dari bawah.
Kadang hanya riak kecil.
Kadang bayangan yang terlalu cepat hilang.
Kadang… tidak ada apa-apa.
Dan justru itu yang paling buruk.
Karena berarti ia sedang diam.
Mengamati.
Menunggu waktu yang tepat untuk muncul lagi.
Dan sampai hari ini, aku masih tidak tahu satu hal:
Apakah Rudi jatuh ke sungai…
Atau sungai memang sudah memanggil namanya sejak awal?
Dan mungkin, sejak hari itu juga
namaku.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











