Menu

Mode Gelap
Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan iOS 26.4 Hadir, Fitur Keamanan iPhone Kini Bikin Maling Ketar-ketir

Kolom Angker

Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun

badge-check


					Foto ilustrasi: AI Perbesar

Foto ilustrasi: AI

KOLOM ANGKER – Berkendara sendirian di tengah malam selalu menyimpan dua kemungkinan perjalanan yang tenang… atau sesuatu yang akan terus menghantuimu bahkan setelah mesin dimatikan.

Aku tidak pernah percaya cerita-cerita seperti itu.

Sampai malam itu.

Namaku Robin, 32 tahun. Pekerjaanku menuntutku berpindah kota, menyusuri jalan-jalan panjang yang seringkali sepi dan asing. Lima tahun aku terbiasa dengan itu. Jalan gelap, hujan, kabut semua terasa biasa saja.

Sampai jalur Kediri menuju Malang itu… mengubah segalanya.

Malam yang Terlalu Sunyi

Jam sudah hampir setengah dua belas ketika aku meninggalkan Ngantang. Kata bapak penjaga warung tadi masih terngiang:

“Sering kecelakaan di Pujon, Mas… minggu lalu satu keluarga meninggal di sana.”

Aku tertawa kecil waktu itu. Berusaha terlihat santai.

Sekarang?

Aku berharap bisa kembali ke warung itu.

Jalan di depanku gelap. Tidak ada lampu. Hanya sorot lampu mobilku yang membelah kabut. Pepohonan tinggi berdiri rapat di kanan-kiri, seperti barisan penonton bisu… mengawasi.

Hujan rintik turun.

Kabut makin tebal.

Radio kumatikan.

Terlalu sunyi… tapi entah kenapa, suara sendiri justru terasa lebih menakutkan.

Lalu

BRAK!

Aku tersentak.

Bukan tabrakan.

Hanya suara sesuatu jatuh di atap mobil.

Aku menoleh ke atas… kosong.

“Ah… ranting mungkin,” gumamku, meski jantungku mulai berdegup lebih cepat.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Di spion.

Ada lampu.

Teman… atau Sesuatu yang Lain

Sebuah mobil muncul dari belakang. Lampunya terang menusuk kabut.

Aneh.

Dari tadi jalan benar-benar kosong. Tidak ada satu kendaraan pun.

Lalu tiba-tiba… ada mobil di belakangku?

Mobil itu tidak mendahului.

Tidak juga menjauh.

Hanya… mengikuti.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Jaraknya selalu sama.

Aku mencoba menepi sedikit, memberi tanda agar dia lewat.

Mobil itu mendekat… sejajar denganku.

Dan di situlah aku melihatnya.

Seorang pria setengah baya di balik kemudi.

Di sampingnya… seorang anak laki-laki.

Mereka diam.

Tidak menoleh.

Tidak berkedip.

Hanya menatap lurus ke depan.

Wajah mereka… pucat.

Aku merasakan dingin menjalar ke tengkuk.

Mobil itu akhirnya mendahului.

Aku menghela napas lega.

“Syukurlah…”

Tapi rasa lega itu… tidak bertahan lama.

Kabut yang Menelan

Beberapa menit kemudian, sedan itu melaju lebih cepat… lalu hilang ditelan kabut.

Dan aku kembali sendiri.

Benar-benar sendiri.

Aku mencoba fokus. Mengemudi perlahan.

Sampai tiba-tiba

MESIN MATI.

Lampu masih menyala, tapi mesin… benar-benar mati.

“Jangan sekarang… jangan sekarang…” bisikku panik.

Aku mencoba menyalakan kembali.

Gagal.

Lagi.

Gagal.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Lalu

di kejauhan…

ada lampu.

Lampu merah… seperti lampu rem mobil.

Harapan muncul.

Aku turun. Berjalan cepat mendekat.

Kabut menipis sedikit… memperlihatkan bentuk mobil itu.

Sedan.

Mobil yang sama.

Aku berhenti.

Kakiku… mendadak tak bisa melangkah.

Di belakang mobil itu… ada dua sosok berdiri.

Mereka menatap ke arahku.

Perlahan… kabut membuka wajah mereka.

Dan saat itulah

JANTUNGKU SEAKAN BERHENTI.

Wajah mereka hancur.

Kulit terkelupas.

Darah mengalir dari pelipis.

Mata kosong… tapi menatapku.

Anak itu… tersenyum.

Mulutnya robek sampai ke pipi.

“Pak… dia lihat kita…”

SUARANYA.

Serak. Basah. Seperti keluar dari tenggorokan yang terisi darah.

Aku mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu

DUARRR!!!

Bagasi mobil itu tiba-tiba terbuka sendiri.

Suara keras menggema di hutan.

Aku berteriak dan langsung berlari kembali ke mobilku.

Pelarian

Tanganku gemetar saat memutar kunci.

Sekali.

Dua kali.

MESIN MENYALA.

Tanpa pikir panjang, aku injak gas sekuat tenaga.

Aku tidak berani melihat spion.

Tidak berani.

Tapi sesuatu… memaksaku.

Aku melirik sekilas

Dan aku berharap… aku tidak melakukannya.

Di kursi belakang mobilku

ADA MEREKA.

Duduk diam.

Basah.

Pucat.

Anak itu menatapku dari kaca spion.

Perlahan… dia tersenyum.

Yang Tidak Pernah Turun

Aku tidak ingat bagaimana sampai di hotel Batu.

Semuanya seperti kabur.

Yang aku ingat… aku tidak pernah berhenti.

Tidak pernah menoleh ke belakang lagi.

Aku turun dari mobil dengan tubuh gemetar. Masuk ke lobby. Check-in.

Seorang room boy mengantarku ke kamar.

Di lorong hotel yang sepi itu… dia tiba-tiba bertanya:

“Maaf Mas… tadi yang di mobil nggak ikut turun?”

Aku berhenti.

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Siapa?”

Room boy itu menatapku bingung.

“Tadi saya lihat… ada bapak sama anak kecil duduk di belakang mobil Mas.”

Aku tidak menjawab.

Karena aku tahu satu hal.

Mereka…

belum pernah turun.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Malam di Kampung Setan: Aku Melihat Mereka Menari Tanpa Kepala

19 Maret 2026 - 15:35 WIB

“Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu”

5 Maret 2026 - 15:57 WIB

Teror Kuburan Mawar Biru: Sosok Perempuan Kelaparan yang Menggali Mayat Anak

5 Maret 2026 - 15:44 WIB

Teror Mencekam Lantai 15 Sudirman–Thamrin: Sosok Pria Melayang dan Wanita di Plafon Menghantui Shift Malam

26 Februari 2026 - 14:25 WIB

Teror Erangan Babi di Ujung Senja: Ritual Terlarang yang Membuka Pintu Kegelapan di Sebuah Kampung Sunyi

26 Februari 2026 - 14:08 WIB

Trending di Kolom Angker