PRABAINSIGHT.COM – LEBAK – Harusnya ini acara penuh senyum, salaman, dan kalimat “mohon maaf lahir batin” yang diulang-ulang sampai lidah kebas. Tapi yang terjadi di Pendopo Kabupaten Lebak malah sebaliknya: panggung silaturahmi berubah jadi arena “open mic roasting” versi pejabat.
Semua bermula ketika Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, naik podium untuk memberi sambutan. Biasanya, momen seperti ini diisi dengan laporan capaian, sedikit pujian ke sana-sini, lalu ditutup ajakan menjaga persatuan. Tapi kali ini, arah pidatonya agak melipir.
Alih-alih bicara soal program kerja atau kebersamaan, Hasbi justru menyinggung masa lalu Wakil Bupati, Amir Hamzah dan bukan dengan nada nostalgia. Tanpa banyak pengantar, ia menyebut Amir sebagai mantan narapidana yang “beruntung” masih bisa duduk di kursi pemerintahan.
Kalimat itu jatuh bukan seperti guyonan ringan, tapi lebih mirip lemparan batu ke kaca jendela. Suasana yang tadinya santai langsung berubah kaku. Para tamu mungkin masih pegang gelas minuman, tapi fokusnya sudah pindah ke panggung.
Amir Hamzah jelas tidak tinggal diam. Ia langsung berdiri dari kursinya, siap memberi respons. Momen itu sempat terasa seperti akan berubah jadi debat terbuka, sebelum akhirnya dilerai oleh para pejabat yang sigap menurunkan tensi.
Kalau Anda pikir dramanya selesai di situ, ternyata belum.
Sehari setelah kejadian itu, Amir memilih membalas bukan di forum resmi, tapi dari kediamannya. Ia membuka “bab baru” dengan mengkritik kinerja sang Bupati. Salah satu yang disorot: frekuensi kehadiran Hasbi di kantor yang disebutnya hanya satu hari dalam sepekan.
Tak berhenti di situ, Amir juga mengungkit penanganan kawasan Alun-alun Rangkasbitung yang dinilai tidak maksimal. Menurutnya, hal itu terjadi karena Bupati lebih sering berada di luar daerah.
“Saya tidak pernah menyampaikan hal ini sebelumnya, baru sekarang saya ungkap,” ucap Amir, menyindir.
Akhirnya, yang semestinya jadi momen saling memaafkan malah berubah jadi ajang saling membuka catatan lama. Silaturahmi yang biasanya identik dengan pelukan hangat, kali ini justru menyisakan kesan: kalau sudah panas, jabatan tinggi pun bisa ikut terbakar.







