Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

Crime

Tolak Permintaan Rp500 Ribu untuk Miras, Tuan Rumah Hajatan di Purwakarta Tewas Dikeroyok Preman

badge-check

Tragedi hajatan di Purwakarta, tuan rumah tewas dikeroyok preman setelah menolak memberi uang Rp500 ribu. Kasus ini viral dan jadi sorotan soal premanisme kampung. Perbesar

Tragedi hajatan di Purwakarta, tuan rumah tewas dikeroyok preman setelah menolak memberi uang Rp500 ribu. Kasus ini viral dan jadi sorotan soal premanisme kampung.

PRABAINSIGHT.COM – PURWAKARTA – Di negeri yang katanya ramah tamah ini, kadang yang lebih ditakuti bukan hujan saat resepsi, melainkan tamu tak diundang yang datang bukan untuk makan, tapi untuk “meminta jatah”.

Itulah yang terjadi di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Purwakarta. Sebuah pesta pernikahan yang seharusnya jadi momen sakral tempat doa dipanjatkan dan kebahagiaan dipamerkan secukupnya justru berubah menjadi panggung tragedi yang rasanya terlalu pahit untuk sekadar disebut “kejadian kriminal biasa”.

Korban, seorang tuan rumah berinisial D, meninggal dunia setelah dikeroyok sekelompok pemuda yang oleh warga sekitar sudah akrab dilabeli: preman kampung.

Dari Amplop ke Ancaman

Cerita ini sebenarnya klasik. Terlalu klasik, malah. Sekelompok orang datang ke hajatan, bukan membawa doa atau amplop, tapi proposal tak tertulis: uang keamanan.

Pada kedatangan pertama, sekitar pukul 14.00 WIB, korban masih mencoba bermain aman. Ia menyerahkan Rp100 ribu mungkin dengan harapan, seperti banyak orang lainnya, bahwa masalah akan selesai di situ.

Tapi kita tahu, dalam logika pemalakan, sekali memberi berarti membuka pintu untuk permintaan berikutnya.

Benar saja, satu jam kemudian mereka kembali. Kali ini dengan nominal yang lebih “ambisius”: Rp500 ribu. Alasannya? Untuk membeli minuman keras.

Sebuah permintaan yang, kalau dipikir-pikir, absurd sekaligus menyakitkan. Di tengah acara sakral pernikahan anaknya, seorang ayah diminta membiayai pesta mabuk orang lain.

Ketika Menolak Jadi Risiko Nyawa

Korban memilih menolak. Pilihan yang secara moral benar, tapi dalam realitas yang pahit, justru berujung petaka.

Keributan pecah di luar tenda resepsi. Bukan lagi soal uang, tapi soal ego yang tersinggung dan kekuasaan semu yang merasa ditantang. Dalam hitungan menit, situasi berubah brutal. Korban dikeroyok hingga tak berdaya, lalu kolaps.

Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun takdir berkata lain nyawanya tak tertolong.

Dan pesta yang seharusnya diakhiri dengan senyum dan foto keluarga, berubah menjadi tangisan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Video Viral, Luka yang Nyata

Seperti banyak tragedi hari ini, kejadian ini tak hanya berhenti di lokasi. Sebuah video amatir beredar luas di media sosial, memperlihatkan detik-detik korban jatuh di tengah keramaian.

Yang paling menyayat bukan hanya adegan jatuhnya, tapi latarnya: dekorasi pernikahan, tamu yang panik, dan keluarga yang masih mengenakan pakaian terbaik mereka kebaya, jas, senyum yang belum sempat dilepas berubah menjadi simbol kehilangan.

Istri dan anak korban, yang seharusnya menjadi pusat kebahagiaan hari itu, justru harus menghadapi kenyataan paling getir.

Premanisme yang Terlalu Dibiarkan

Kasus ini sudah dilaporkan ke Polres Purwakarta. Polisi tengah memeriksa saksi dan memburu para pelaku. Proses hukum berjalan, sebagaimana mestinya.

Tapi pertanyaan yang lebih besar adalah: kenapa cerita seperti ini terasa terlalu sering terjadi?

Premanisme level kampung seringkali dianggap “biasa saja”. Selama belum makan korban jiwa, ia ditoleransi. Selama masih bisa “dibayar”, ia dibiarkan.

Padahal, seperti yang kita lihat sekarang, batas antara “sekadar minta uang” dan “menghilangkan nyawa orang” itu tipis. Sangat tipis.

Dan ketika garis itu akhirnya terlewati, yang tersisa bukan hanya kasus kriminal, tapi luka sosial yang sulit disembuhkan.

Hajatan yang Berubah Jadi Peringatan

Tragedi di Purwakarta ini bukan cuma soal satu keluarga yang kehilangan. Ini juga tentang bagaimana rasa aman di ruang sosial kita pelan-pelan terkikis.

Bahwa bahkan di acara paling sakral sekalipun, ancaman bisa datang tanpa undangan.

Dan mungkin, sudah waktunya kita berhenti menganggap premanisme sebagai “bagian dari budaya lokal” yang tak bisa diapa-apakan. Karena kalau terus begitu, yang jadi korban berikutnya bisa siapa saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja

7 Agustus 2026 - 20:39

Bau Busuk yang Dikira Bangkai Hewan Ternyata Jenazah Pria Tanpa Kepala, Warga Depok Syok Bukan Main

4 Agustus 2026 - 22:43

Lapor Hilang ke Polisi Disebut “Sudah Dewasa”, Feni Ere Akhirnya Ditemukan Tinggal Tulang Belulang

31 Juli 2026 - 18:05

Pilot Malaysia Airlines Jadi Tersangka, Bawa 25,1 Kg Ekstasi dan Sabu ke Soekarno-Hatta

31 Juli 2026 - 15:23

16 Kali Kemalingan Ayam, Kini Suami dan Anak Pemilik Ditahan Usai Kasus Maling Tewas di Tabanan

30 Juli 2026 - 16:04

Trending di Crime