PRABAINSIGHT.COM, JAKARTA – Kalau mendengar kata “Asia Tenggara”, yang terlintas di kepala kita biasanya adalah destinasi wisata tropis yang eksotis, kuliner kaki lima yang menggugah selera, atau drama persaingan sengit di ajang SEA Games.
Sayangnya, ada satu kesamaan lagi yang membuat negara-negara di kawasan ini terikat nasib, dan ini sama sekali bukan kabar baik, yaitu beban penyakit Tuberkulosis (TB) yang masih sangat tinggi.
Bayangkan saja, berdasarkan estimasi terbaru, Indonesia sendiri nekat bertengger di peringkat kedua dunia dengan temuan sekitar 1,09 juta kasus TB.
Belum lagi tetangga kita seperti Filipina, Thailand, Vietnam, dan Myanmar yang kompak masuk dalam daftar 30 negara dengan beban TB terberat sejagat raya versi WHO.
Di tengah kepungan batuk massal regional inilah, para akademisi, peneliti, hingga petinggi fakultas kedokteran se-Asia Tenggara akhirnya memutuskan untuk turun gunung dan berkumpul di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada 1–2 Juli 2026.
Selama ini, urusan penanggulangan TBC kesannya berjalan sendiri-sendiri di dalam pagar rumah tangga masing-masing negara. Menurut Prof. Nicholas Paton, MD., FRCP., salah satu anggota konsorsium ASEAN4TB, pendekatan kita selama ini memang terlalu lokal.
“Menurut saya, visinya adalah memberikan kesempatan untuk mempertemukan berbagai pihak, karena dalam penanggulangan TB, selama ini pendekatannya masih sangat berfokus pada program-program nasional,” ujar Prof. Nicholas menyentil ego sektoral yang kerap terjadi di dunia riset kesehatan.
Melalui hajatan bertajuk Symposium ASEAN4TB 2026 tersebut, lahirlah sebuah platform kolaborasi bernama ASEAN4TB yang disokong penuh oleh ASEAN Medical Schools Network (AMSN) dan ASEAN Research Collaborative Fund (ARCF).
Biar nggak sekadar jadi ajang kumpul-kumpul dan foto bersama, mereka langsung menelurkan empat jurus riset sekaligus, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) lewat ACHIEVE-TB, perburuan kasus tersembunyi lewat CATCH-TB, pencarian obat yang lebih singkat lewat ANTERA, sampai penanganan TB luar paru via ACE-TB.
Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, SpP (K), selaku Advisory Board ASEAN4TB, menegaskan bahwa konsorsium ini adalah alarm pengingat bagi seluruh negara di kawasan untuk mulai merapatkan barisan.
“Konsorsium yang baru dibentuk kemarin ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi negara-negara ASEAN untuk memperkuat seluruh jejaring kerja sama dalam rangka mewujudkan visi ASEAN4TB, yaitu One Region, One Goal: End TB,” tegas Prof. Erlina.
Sebagai tuan rumah, Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, Sp.P (K), juga menitipkan pesan mendalam agar kolaborasi ini tidak layu sebelum berkembang setelah acara bubar.
Beliau berharap seluruh delegasi medis, yang hadir bisa membawa pulang komitmen ini ke negara masing-masing dan menjadikannya solusi nyata, bukan cuma tumpukan kertas laporan ilmiah di lemari perpustakaan kampus.
Lagipula, kalau urusan perut dan paru-paru satu kawasan sudah terancam, masa iya kita masih mau jalan sendiri-sendiri?







