PRABAINSIGHT.COM, INDRAMAYU – Selama bertahun-tahun, Kabupaten Indramayu telanjur akrab dengan stempel miring sebagai wilayah pengirim TKI sektor informal terbesar. Kalau bukan jadi asisten rumah tangga, ya mentok-mentok jadi pekerja kasar dengan perlindungan hukum yang sering kali bikin kita mengelus dada.
Namun, narasi penuh nestapa itu tampaknya bakal segera kedaluwarsa setelah gelombang alumni BLK setempat, mulai bersiap mengepak koper menuju pabrik otomotif di Negeri Sakura.
Alih-alih cuma diajari mengelas pagar atau memperbaiki motor bebek di bengkel kecamatan, para pencari kerja lokal di Jawa Barat kini ditantang naik kelas ke level internasional.
Sebanyak 125 pemuda lulusan BLK Indramayu baru saja kedapatan mengantre uji fisik dan wawancara, demi bisa mencicipi kerasnya lantai pabrik Isuzu dan Daihatsu langsung di negara asalnya.
Ketua FKLPID Jawa Barat, Benny Tunggul, menyentil keras tabiat lama lembaga pelatihan yang cuma hobi bagi-bagi kertas piagam, tanpa memikirkan nasib masa depan siswanya setelah lulus.
“Salah satu indikator yang penting dari BLK, bukan dengan berhasilnya menghasilkan lulusan peserta pelatihan dan sertifikat yang dihasilkan. Namun, dari berapa banyak serapan atau penempatan di industri atau wirausaha, ini menjadi tujuan utama,” cetus Benny di sela-sela memantau seleksi, Kamis (2/7/2026).
Menariknya, program bertajuk “1000 Alumni BLK Work in Japan” ini murni patungan swasta alias non-APBD. Jadi, buat kalian yang isi dompetnya sering kritis, tidak perlu cemas bakal diperas agen penyalur. Benny memastikan, semua modal terbang ke Jepang bakal ditalangi dulu oleh perusahaan di sana sampai para peserta resmi gajian.
“Seluruh peserta yang lolos seleksi, nantinya akan diberdayakan melalui penempatan kerja formal pada sektor industri otomotif terkemuka di Jepang,” imbuh Benny, memberi angin segar.
Kepala BLK Kabupaten Indramayu, Sukirman, jelas girang bukan main. Baginya, program ini adalah pembuktian kalau anak-anak daerah juga punya kapasitas mumpuni, untuk bersaing secara global di sektor formal yang lebih manusiawi dan menjanjikan secara finansial.
“Indramayu menjadi kantong TKI untuk tenaga kerja informal. Dengan adanya rekrutmen alumni melalui program magang Jepang di industri, ini meningkatkan Tenaga Kerja Indonesia yang terampil dengan kompetensi di sektor formal,” pungkas Sukirman penuh optimisme.
Kalau proyek di Indramayu ini sukses, giliran anak-anak muda di Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, hingga Cirebon yang bakal antre dikirim ke Jepang. Jadi, mending siapkan fisik kalian dari sekarang dan mulailah belajar melafalkan “Arigatou Gozaimasu” dengan fasih.







