Menu

Mode Gelap
Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

Ekonomi

Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

badge-check

Kasus Yurizal Tri Chaerawan memicu kritik terhadap sejumlah dokter dan tenaga kesehatan yang mencibir pasien BPJS di Threads. Mereka kini ramai-ramai meminta maaf, sementara publik menyoroti pentingnya empati dalam profesi medis. Perbesar

Kasus Yurizal Tri Chaerawan memicu kritik terhadap sejumlah dokter dan tenaga kesehatan yang mencibir pasien BPJS di Threads. Mereka kini ramai-ramai meminta maaf, sementara publik menyoroti pentingnya empati dalam profesi medis.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di media sosial, semua orang bisa menjadi hakim. Sayangnya, tidak semua orang ingat bahwa kata-kata juga bisa meninggalkan luka.

Kasus yang menimpa Yurizal Tri Chaerawan menjadi pengingat bahwa empati bukan sekadar mata kuliah di bangku kedokteran, melainkan fondasi yang semestinya tetap hidup, bahkan ketika seseorang sedang mengetik komentar di media sosial.

Semuanya bermula dari sebuah unggahan sederhana di Threads. Yurizal mengaku sudah menunggu ruang rawat inap selama delapan jam.

“8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs.”

Alih-alih mendapat simpati, unggahan itu justru dibalas dengan komentar yang menyakitkan dari sejumlah akun yang diduga milik dokter maupun tenaga kesehatan.

Beberapa hari kemudian, kabar duka datang. Kerabat Yurizal mengabarkan bahwa ia meninggal dunia pada 31 Juli 2026, sembilan hari setelah mengunggah keluhannya.

Sejak saat itu, komentar-komentar yang sebelumnya berlalu begitu saja kembali muncul ke permukaan. Warganet mempertanyakan satu hal yang mestinya sederhana: bagaimana mungkin orang yang sehari-hari bertugas menyembuhkan justru terdengar begitu dingin ketika berhadapan dengan keluhan pasien?

Gelombang kritik pun tak terbendung. Satu per satu dokter dan tenaga kesehatan yang sempat berkomentar akhirnya menyampaikan permintaan maaf.

“Ruang Jenazah Selalu Kosong”

Komentar yang paling banyak menuai kemarahan datang dari dr Beni Christian Sihombing, dokter di RSUD Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Saat menanggapi keluhan Yurizal, ia menulis:

“Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak. BPJS yg make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini.”

Kalimat itu menjadi salah satu yang paling banyak dikritik.

Belakangan, dr Beni menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketikan saya di Threads. Saya juga menyampaikan turut berdukacita kepada pemilik utas yaitu almarhum Yurizal. Saya berdoa semoga segenap keluarga diberikan penghiburan.”

Ia juga menegaskan siap bertanggung jawab atas komentarnya.

“Saya bertanggung jawab penuh atas segala tulisan yang saya buat. Dan jika pun nanti ada proses hukum, saya akan mengikutinya tanpa pembelaan ataupun menyewa pengacara, itu tidak, tidak akan. Dan saya juga siap menerima konsekuensi dari Rumah Sakit, dari IDI, MKEK, pengadilan ataupun instansi lain.”

Komentar Serupa Bermunculan

Bukan hanya dr Beni.

Hilda Clarissa Theopilus, tenaga kesehatan di RSUD Umbu Rara Meha, juga menulis komentar yang menyinggung ruang jenazah.

“Ya itu artinya kamarnya full diisi sama orang sakit, semuanya sakit bukan cuma lo doang. Bukan masalah BPJS atau nggaknya, ruangannya penuh. Yang selalu kosong ada noh, kamar jenazah.”

Setelah menuai kecaman, ia menuliskan permintaan maaf.

“Kadang satu reaksi yang lahir dari emosi bisa mengundang seribu reaksi lain. Akhirnya, semua saling menyakiti dan sama-sama menjadi jahat. Maaf ya semua.”

Sementara itu, dr Elda Putri Rahardini juga ikut disorot setelah menulis:

“PP-nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? Haven’t some brain cells.”

Ia kemudian mengakui komentarnya tidak pantas.

“Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi oleh almarhum saat mencari penanganan medis.”

Ada yang Disanksi, Ada yang Mengaku Akunnya Dipakai Orang Lain

Dokter Renanda Maulidya Fadyla, yang bertugas di RSUD IA Moeis Samarinda, sempat menulis komentar singkat:

“Bacot nih pasien.”

Kasus itu berujung pada sanksi internal dari pihak rumah sakit, disertai permintaan maaf dari yang bersangkutan.

Sementara itu, Herdiana Ayu Saputri, ASN di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, menjadi perhatian setelah menulis:

“yurizal yurizal, kau masuklah ke triase merah dulu zal, nanti cepet kau dapat kamar. Lengkap dengan ventilator dan monitornya bunyi “tit tit…tit..titt..”. Dingin bgt kamarnya zal, bs pake bpjs.”

Setelah viral, Herdiana menyampaikan permintaan maaf. Ia menjelaskan bahwa komentar tersebut ditulis oleh suaminya menggunakan akun miliknya.

Permintaan Maaf dari RS Pusri Palembang

Nama lain yang ikut menjadi sorotan adalah dr Tamara Dewi Jasmine dari RS Pusri Palembang.

Ia sebelumnya menulis:

“Mending banyakin duit halal daripada banyakin bacot. Biar bisa bayar dan merasakan asuransi swasta. Dan bisa berpendidikan biar akhlak tidak minus, dan tidak playing victim.”

Dalam video permintaan maafnya, Tamara mengatakan:

“Pertama, kepada Tuhan saya memohon ampun atas dosa, salah, dan khilaf saya selama ini. Yang kedua, saya minta maaf kepada warga Threads atas tulisan saya yang telah menyinggung hati warga Threads.”

Ia juga meminta maaf kepada masyarakat Indonesia, keluarga, rekan kerja, dan institusi tempatnya bekerja.

“Apa yang saya tulis murni berasal dari diri saya sendiri. Karena itu, saya memohon maaf kepada keluarga, kerabat, rekan-rekan saya, serta institusi yang menaungi saya karena mereka ikut terdampak.”

Bukan Soal Salah Komentar, Tapi Lupa Bahwa Pasien Juga Manusia

Kasus Yurizal mungkin tidak akan berhenti sebagai perdebatan tentang BPJS, antrean rumah sakit, atau keterbatasan ruang rawat.

Yang lebih membekas justru pertanyaan sederhana: apakah media sosial membuat kita terlalu mudah melupakan bahwa di balik sebuah akun ada manusia yang sedang kesakitan?

Dokter tentu manusia. Mereka bisa lelah, jenuh, bahkan emosi. Namun profesi itu juga membawa kepercayaan publik yang tidak kecil. Ketika komentar bernada sinis datang dari mereka yang mengenakan jas putih, rasa kecewa masyarakat menjadi berlipat ganda.

Permintaan maaf memang sudah disampaikan. Namun bagi banyak orang, pelajaran terbesar dari peristiwa ini bukan sekadar tentang etika bermedia sosial, melainkan tentang menjaga empati tetap hidup, bahkan ketika hanya sedang mengetik beberapa kalimat di layar ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada

7 Agustus 2026 - 18:14

JakOne Mobile Bikin Bank Jakarta Panen Penghargaan, Bukti Transformasi Digital Bukan Sekadar Gimmick

4 Agustus 2026 - 11:11

Pemerintah Resmi Ubah Status Ojol Jadi Pelaku UMKM, Perpres Masuki Tahap Final

21 Juli 2026 - 18:33

Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba

15 Juli 2026 - 13:11

Bukan Cuma Soal Komisi 8 Persen, Ini Alasan Pemerintah Ubah Status Ojol Jadi Pengusaha Mikro

6 Juli 2026 - 19:25

Trending di Ekonomi