Menu

Otomatis
Breaking News

Kolom Angker

Malam Mencekam di Rumah Sakit Tua Semarang: 4 Anak Hantu Datang, Cabut Infus dan Minta Korban Mati

badge-check

Foto Ilustrasi (AI) Perbesar

Foto Ilustrasi (AI)

KOLOM ANGKER – Ada tempat yang seharusnya membuat manusia merasa aman: rumah sakit.

Di sana ada dokter, perawat, obat-obatan, lampu yang menyala sepanjang malam, dan orang-orang yang siap menolong ketika tubuh sedang berada di titik terlemah.

Namun, bagi adik Yolanda dari Semarang, rumah sakit justru meninggalkan pengalaman yang membuatnya sulit melupakan satu hal: ternyata tidak semua yang berkeliaran di lorong rumah sakit datang untuk mencari pertolongan.

Kejadian itu berlangsung pada 2010, ketika ia harus menjalani perawatan di sebuah rumah sakit tua di kawasan Semarang bagian atas.

Enam belas tahun berlalu, tetapi setiap kali mencium aroma khas rumah sakit atau mendengar suara roda brankar bergesekan dengan lantai lorong, ingatannya seperti ditarik kembali ke malam itu.

Malam ketika empat anak kecil datang ke kamarnya.

Dan mereka tidak datang untuk bermain.

Detik-Detik di Ambang Kematian

Sebelum kejadian itu, ia tidak pernah percaya rumah sakit bisa menjadi tempat yang menakutkan.

Saat itu ia didiagnosis mengalami infeksi saluran kemih dan infeksi paru-paru. Kondisinya terus menurun sampai dokter memutuskan agar ia menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit besar di kawasan Semarang bagian atas.

Rumah sakit tersebut bukan bangunan baru.

Dindingnya telah kusam dimakan usia. Lorong-lorongnya panjang dan sunyi. Ketika malam turun, sebagian sudut bangunan hanya diterangi cahaya lampu yang redup.

Ia ditempatkan di sebuah kamar VIP di lantai empat.

Beberapa hari pertama berlangsung berat.

Napasnya tersengal. Dada terasa seperti ditekan benda berat. Tubuh semakin lemas. Pandangan perlahan kabur hingga akhirnya semuanya gelap.

Dalam kondisi tidak sadar, ia merasa berada di tempat yang asing.

Di sana ia melihat sosok neneknya yang telah meninggal dunia.

Wajah sang nenek terlihat pucat. Tatapannya kosong, tetapi tangannya justru menggenggam tangan sang cucu dengan sangat kuat.

Kemudian nenek itu menariknya.

“Ayo… ikut Nenek…”

Suara itu terdengar pelan.

Namun anehnya, gema suaranya seperti memenuhi tempat tersebut.

Ia menolak.

Ia mencoba melepaskan genggaman itu. Tubuhnya terasa sangat lemah, tetapi entah dari mana tenaga terakhir muncul. Ia menarik tangannya sekuat tenaga.

Lepas.

Seketika semuanya menjadi hitam.

Keesokan paginya, ia membuka mata.

Tubuhnya masih lemah.

Seorang dokter datang memeriksa kondisi sambil memperhatikan monitor di samping tempat tidur.

“Syukurlah Anda sudah sadar,” kata dokter itu dengan senyum tipis. “Tadi malam detak jantung Anda sempat berhenti selama beberapa detik. Untung tim medis bisa segera menanganinya.”

Ia hanya diam.

Kalimat dokter itu membuat pikirannya kembali pada mimpi tentang neneknya.

Apakah itu sekadar mimpi?

Atau ada sesuatu yang sebenarnya sedang menjemputnya?

Ia tidak pernah mendapatkan jawabannya.

Malam Ketiga, Rumah Sakit Mendadak Terasa Berbeda

Hari ketiga perawatan, kondisinya mulai membaik.

Napasnya lebih lega. Nyeri di dada berkurang. Dokter juga mengatakan infeksi di paru-paru dan saluran kemih mulai mereda.

Sore hari, keluarga dan beberapa teman datang menjenguk.

Untuk beberapa jam, kamar VIP itu terasa normal.

Ada percakapan.

Ada tawa.

Ada suara langkah kaki.

Namun suasana berubah menjelang pukul tujuh malam.

Satu demi satu orang berpamitan.

Pintu kamar akhirnya kembali tertutup.

Sunyi.

Mama dan kakaknya, Yolanda, sedang keluar sebentar untuk mengambil sesuatu, sehingga ia kembali sendirian.

Setelah menyantap makanan dari rumah sakit, ia berbaring.

Cairan infus menetes perlahan.

Tik…

Tik…

Tik…

Matanya semakin berat.

Tak lama kemudian ia tertidur.

Setidaknya ia mengira begitu.

Karena sekitar sepuluh menit kemudian, sesuatu membangunkannya.

Suara anak-anak.

Tawa.

Langkah kaki kecil.

Suara berlari dari arah lorong.

Mula-mula samar.

Kemudian semakin dekat.

Tap… tap… tap…

Ia mengerutkan dahi.

“Rumah sakit kok masih ada anak-anak bermain malam-malam begini?”

Suara itu semakin ramai.

Tawa mereka terdengar begitu jelas.

Ia menarik bantal dan menutup kedua telinganya.

Namun suara itu tidak menghilang.

Justru terasa semakin dekat.

Seolah anak-anak itu sudah berada tepat di depan pintu kamarnya.

Kemudian terdengar sebuah suara.

Suara anak kecil.

Riangan.

Namun kalimat yang diucapkannya membuat darah terasa seperti berhenti mengalir.

“Eh… di kamar itu ada yang lagi tidur.”

Tawa terdengar.

Lalu suara yang sama melanjutkan:

“Yuk kita main di dalam… kita gangguin sampai dia mati!”

Tubuhnya langsung menegang.

Ia ingin membuka mata.

Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang berteriak untuk tidak melakukannya.

Kemudian…

Klek.

Suara pintu.

Seperti ada yang masuk.

Lalu terdengar langkah kaki kecil.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semakin banyak.

Tawa mereka menggema di dalam kamar.

Ranjang Mulai Berguncang

Awalnya hanya getaran kecil.

Kasur bergerak perlahan.

Kemudian semakin kuat.

Goyang.

Berhenti.

Goyang lagi.

Lalu tiba-tiba ranjang berguncang keras.

Seperti ada beberapa anak yang melompat-lompat di atasnya.

Ia masih memejamkan mata.

Jantungnya berdegup liar.

Selimutnya tiba-tiba tertarik.

Dari sisi kanan.

Kemudian dari kiri.

Ada sesuatu menyentuh kakinya.

Lalu lengannya.

Ia mulai menyadari satu hal.

Anak-anak itu bukan manusia.

Ia mencoba berdoa.

“Tolong… jangan buka mata…”

Namun gangguan justru semakin menjadi.

Ada suara cekikikan tepat di dekat kepalanya.

Kemudian suara lompatan.

Bruk!

Kasur kembali bergetar.

Lalu sebuah tangan kecil menyentuh punggung tangannya.

Jemari mungil itu meraba selang infus.

Mengikuti selang tersebut sampai ke jarum yang menancap di kulit.

Kemudian tangan itu menariknya.

Tarik!

Jarum infus terlepas kasar.

Rasa sakit membuat matanya spontan terbuka.

Dan saat itulah ia melihat mereka.

Empat Anak Berdiri Mengelilingi Tempat Tidur

Ada empat sosok.

Tiga anak laki-laki.

Satu anak perempuan.

Mereka berdiri mengelilingi tempat tidur.

Tubuh mereka kurus.

Pakaian mereka compang-camping dan dipenuhi noda.

Wajah mereka kotor.

Kulitnya dipenuhi bercak kecokelatan yang menyerupai darah lama.

Namun yang paling mengerikan adalah mata mereka.

Pucat.

Putih kekuningan.

Tanpa kehidupan.

Tetapi keempatnya tersenyum.

Senyum yang terlalu lebar untuk wajah anak-anak.

Salah satu dari mereka masih memegang selang infus.

Darah mulai mengalir dari bekas tusukan di tangannya.

Anak perempuan itu mendekat.

Ia berjongkok.

Menatap darah yang menetes.

Kemudian menjulurkan lidah.

Menjilatnya.

“Hehehe…”

Ia tersenyum.

“Enak sekali…”

Tubuh pasien itu membeku.

Anak-anak lainnya mulai berlarian.

Satu masuk ke bawah ranjang.

Satu menarik selimut.

Yang lainnya kembali melompat-lompat.

Tawa mereka memenuhi ruangan.

Ia mencoba berteriak.

Tidak bisa.

Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Tubuhnya kaku.

Dada terasa kembali sesak.

Seolah ada sesuatu yang menindih seluruh tubuhnya.

Kemudian salah satu anak menunjuk wajahnya.

“Kita bikin dia takut sampai mati!”

Mereka tertawa.

Lebih keras.

Tombol Panggil Perawat Pun Direbut

Dalam kepanikan, ia mencoba meraih tombol pemanggil perawat.

Tangannya bergerak perlahan.

Hampir berhasil.

Namun sebuah tangan kecil lebih dulu menyambar tombol tersebut.

Anak itu mengayunkannya di depan wajahnya.

“Enggak boleh minta tolong…”

Tawanya terdengar seperti suara yang keluar dari tenggorokan orang yang jauh lebih tua.

Ia semakin panik.

Napasnya tersengal.

Dada terasa nyeri.

Ia merasa hidupnya benar-benar sedang berada di ujung.

Dan kemudian…

BRAK!

Pintu kamar terbuka keras.

Seorang perawat masuk membawa nampan obat.

Perawat itu baru melangkah beberapa langkah ketika tubuhnya mendadak berhenti.

Wajahnya berubah pucat.

Matanya membelalak.

Nampan di tangannya terlepas.

Prang!

Obat-obatan berhamburan di lantai.

Perawat itu menunjuk ke arah anak-anak tersebut.

“Hei! Pergi kalian semua!”

Suaranya terdengar tegas.

“Jangan ganggu pasien di sini!”

Keempat anak itu berhenti.

Tidak ada lagi tawa.

Mereka menoleh bersamaan.

Empat pasang mata pucat menatap perawat tersebut.

Beberapa detik suasana benar-benar hening.

Kemudian mereka turun dari ranjang.

Berjalan menuju jendela.

Lalu tiba-tiba berlari.

Yang terjadi berikutnya membuat pasien itu hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Keempat sosok itu tidak membuka jendela.

Mereka langsung menembus kaca.

Begitu saja.

Tubuh mereka menghilang ke balik gelap malam.

Dan dalam sekejap…

Kamar kembali sunyi.

“Mereka Setan, Mas…”

Begitu sosok-sosok itu menghilang, tubuh pasien kembali bisa bergerak.

Napasnya perlahan normal.

Ia menatap perawat dengan wajah pucat.

“Mbak… tadi itu siapa mereka?”

Perawat tersebut tidak langsung menjawab.

Ia hanya berdiri diam.

Wajahnya masih terlihat tegang.

Seolah-olah kejadian itu bukan sesuatu yang mengejutkan baginya.

Setelah menghela napas panjang, ia akhirnya berkata,

“Kalau saya cerita, mungkin Mas tidak akan percaya.”

Pasien itu tetap menunggu.

Perawat tersebut kemudian mengatakan bahwa sosok anak-anak seperti itu memang beberapa kali terlihat di rumah sakit.

Para perawat bahkan sudah beberapa kali mengusir mereka ketika muncul dan mengganggu pasien.

Lalu kalimat berikutnya membuat suasana kamar terasa semakin dingin.

“Mereka setan, Mas.”

Pasien itu menelan ludah.

“Lalu… kenapa mereka mengganggu saya?”

Perawat tersebut menatapnya cukup lama.

Kemudian menjawab dengan suara lirih,

“Justru itu yang membuat saya bingung.”

Ia berhenti sebentar.

“Selama ini, mereka biasanya hanya mendatangi pasien yang kondisinya sudah sangat kritis… pasien yang peluang hidupnya sangat kecil.”

Kalimat itu seperti menghantam dada.

Mendadak semua terasa masuk akal.

Mimpi tentang nenek.

Detak jantung yang sempat berhenti.

Empat anak yang datang malam itu.

Dan kalimat mereka:

“Kita gangguin sampai dia mati.”

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut bahwa malam itu mungkin bukan sekadar gangguan.

Mungkin ada sesuatu yang sedang menunggunya.

Enam Belas Tahun Berlalu

Tidak lama setelah perawat pergi, Mama dan Yolanda akhirnya tiba.

Mereka menjelaskan bahwa sebelumnya mereka pulang sebentar untuk mengambil baju ganti sehingga kedatangannya terlambat.

Malam itu akhirnya berlalu.

Dan pasien tersebut tetap hidup.

Hari berganti.

Minggu berganti.

Tahun berganti.

Kini lebih dari enam belas tahun telah berlalu sejak kejadian tersebut.

Ia masih diberi kesempatan untuk hidup dan menceritakan kisahnya.

Namun ada satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.

Siapa sebenarnya empat anak yang datang malam itu?

Dan yang lebih mengerikan…

Apa yang akan terjadi jika perawat tersebut terlambat masuk beberapa menit saja?

Mungkin ia hanya mengalami mimpi buruk.

Mungkin ia mengalami kondisi antara sadar dan tidak sadar.

Atau mungkin, di sebuah rumah sakit tua pada malam yang sunyi, ada sesuatu yang memang datang menjemputnya.

Sampai sekarang, jawabannya tidak pernah diketahui.

Yang tersisa hanyalah satu kenangan:

Lorong rumah sakit yang sunyi.

Suara tawa anak-anak.

Ranjang yang berguncang.

Darah yang menetes dari tangan.

Dan empat sosok kecil yang berlari menembus kaca menuju kegelapan.

Sejak malam itu, rumah sakit tidak pernah lagi terasa sebagai tempat yang sepenuhnya aman baginya.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Teror Jam 1 Pagi: Driver Ojol Menyelamatkanku dari Sosok yang Merangkak Naik ke Balkon Rumah

30 Jul 2026 - 21:47 WIB

Teror Jam 1 Pagi: Driver Ojol Menyelamatkanku dari Sosok yang Merangkak Naik ke Balkon Rumah

Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur

26 Jun 2026 - 00:34 WIB

Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur

Teror di Gunung Sunyi: Saat Sesuatu yang Bukan Manusia Mencoba Berbicara

5 Jun 2026 - 02:26 WIB

Teror di Gunung Sunyi: Saat Sesuatu yang Bukan Manusia Mencoba Berbicara

Teror Selasa Kliwon, malam yang masih ditakuti dalam cerita mistis tanah Jawa

5 Jun 2026 - 02:11 WIB

Teror Selasa Kliwon, malam yang masih ditakuti dalam cerita mistis tanah Jawa

Pesugihan Kandang Bubrah: Rumah Tak Pernah Jadi, Teror Tak Pernah Berhenti

28 Mei 2026 - 22:04 WIB

Pesugihan Kandang Bubrah: Rumah Tak Pernah Jadi, Teror Tak Pernah Berhenti
Trending di Kolom Angker