KOLOM ANGKER – Malam itu hujan turun seperti ditumpahkan dari langit yang koyak. Angin berembus dingin menyusuri gang-gang sempit di sebuah desa tua di Pulau Jawa. Di ujung jalan tanah yang becek dan gelap, berdiri sebuah rumah besar dengan dinding kusam yang belum selesai dicat. Sebagian atapnya terbuka. Kayu-kayu berserakan. Besi bangunan menjulur seperti tulang rusuk bangkai raksasa yang membusuk.
Anehnya, rumah itu sudah “dibangun” lebih dari dua puluh tahun.
Setiap malam, suara palu terdengar dari dalam rumah itu.
Tok… tok… tok…
Pelan. Berirama. Seperti seseorang sedang memaku peti mati.
Warga sekitar menyebutnya Kandang Bubrah.
Konon, rumah itu milik seorang pria tua yang mendadak kaya setelah pulang dari sebuah perjalanan misterius ke lereng gunung angker di Jawa Tengah. Sebelum itu ia hanyalah buruh miskin. Namun hanya dalam hitungan bulan, sawah bertambah, mobil mewah berdatangan, emas memenuhi rumahnya. Tapi sejak hari pertama kekayaannya muncul, rumah itu tak pernah selesai dibangun.
Hari ini ia membongkar dapur.
Besok membangun kamar baru.
Beberapa bulan kemudian merobohkan pagar.
Lalu mengganti genteng.
Setelah itu menghancurkan lantai yang baru dipasang.
Begitu terus.
Tak pernah berhenti.
Tak pernah selesai.
Orang-orang mulai sadar ada sesuatu yang tidak wajar ketika para tukang bangunan yang bekerja di rumah itu selalu berganti. Sebagian mendadak sakit. Ada yang pulang dengan wajah pucat sambil mengigau ketakutan. Bahkan ada seorang tukang yang hilang tanpa jejak setelah lembur sendirian di malam Jumat.
Sebelum menghilang, ia sempat berkata kepada istrinya:
“Ada yang jalan di atas plafon… padahal atapnya kosong.”
Sejak saat itu, tak ada warga yang berani melewati rumah itu selepas magrib.
Karena setiap malam, dari balik tembok setengah jadi itu, sering terdengar suara orang menangis.
Kadang suara perempuan tertawa lirih.
Kadang suara langkah kaki berlari di genteng.
Dan yang paling menyeramkan…
Suara ketukan palu yang tidak pernah berhenti.
Tok…
Tok…
Tok…
Bahkan ketika rumah sedang kosong.
Konon, pesugihan Kandang Bubrah bukan sekadar perjanjian mencari kekayaan. Ia adalah ikatan dengan sesuatu yang tinggal di antara semen, kayu, dan debu bangunan. Sesuatu yang tidak suka jika rumah itu selesai.
Karena saat bangunan itu selesai…
Maka “penagihnya” akan datang.
Ada cerita tentang seorang pria yang mencoba mengakhiri semuanya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, ia memutuskan berhenti merenovasi rumahnya. Untuk pertama kalinya, rumah itu dibiarkan utuh tanpa dibongkar sedikit pun.
Malam pertama terasa sunyi.
Malam kedua, terdengar suara orang menggaruk dinding dari luar rumah.
Kreeeettt…
Kreeeettt…
Malam ketiga, seluruh lampu padam sendiri tepat pukul 12 malam.
Lalu terdengar suara palu menghantam tembok dari dalam kamar.
Padahal ia tidur sendirian.
Ketika ia membuka mata, debu semen berjatuhan dari plafon. Bau tanah basah memenuhi ruangan. Dan di sudut kamar yang gelap…
Ada sosok hitam tinggi berdiri diam.
Tubuhnya kurus panjang.
Kulitnya seperti campuran semen dan lumpur.
Matanya kosong seperti lubang hitam.
Di tangannya tergenggam palu tua berlumur darah.
Tok…
Tok…
Tok…
Makhluk itu memukul lantai perlahan sambil menatap pria tersebut tanpa berkedip.
Keesokan paginya, pria itu ditemukan meninggal di ruang tengah. Tubuhnya tertimbun pecahan batu bata dan semen, seolah rumah itu runtuh hanya untuk menguburnya seorang diri.
Sejak saat itu, keluarganya kembali merenovasi rumah tersebut.
Dan anehnya…
Rezeki mereka mengalir lagi.
Hingga kini, legenda Kandang Bubrah masih hidup di tengah masyarakat Jawa. Sebuah kisah tentang rumah yang tak pernah selesai dibangun. Tentang kekayaan yang datang bersama teror. Tentang suara palu di tengah malam yang membuat bulu kuduk berdiri.
Dan orang-orang percaya…
Jika suatu malam kau melewati rumah yang terus direnovasi bertahun-tahun tanpa selesai, lalu mendengar suara palu dari dalamnya…
Jangan pernah menoleh.
Karena mungkin…
Yang sedang membangun rumah itu bukan lagi manusia.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











