PRABAINSIGHT.COM – NTT – Sebuah kisah mengharukan disebut datang dari balik bencana gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Cerita tentang seorang bocah bernama Risma, 11 tahun, menjadi perhatian setelah kisah dan doa yang ditulisnya sebelum bencana kembali beredar di media sosial.
Dalam unggahan tersebut, Risma disebut merupakan warga Desa Baras, Nusa Tenggara Timur. Ia dikisahkan menjadi salah satu korban setelah bangunan roboh saat gempa mengguncang wilayah tempat tinggalnya.
Kisah yang dibagikan dalam unggahan itu menggambarkan suasana duka keluarga Risma. Di sebuah tenda plastik sederhana, sang ayah disebut memeluk tubuh putrinya untuk terakhir kalinya.
Pelukan tersebut menjadi gambaran kehilangan seorang ayah yang harus menghadapi kepergian anaknya di tengah situasi bencana.
Namun, bagian paling menyentuh dari kisah tersebut justru berasal dari tulisan Risma sebelum gempa terjadi.
Risma Pernah Menulis Surat kepada Tuhan
Dalam unggahan media sosial itu disebutkan, Risma sempat menulis sebuah doa yang ditujukan kepada Tuhan. Bukan tentang keinginannya sendiri, tulisan tersebut justru berisi kekhawatiran terhadap keselamatan warga di kampungnya.
Dengan bahasa sederhana khas seorang anak, Risma menuliskan:
“Ya Allah semoga kampung kami tidak terjadi kayak di Aceh. Semoga tidak terjadi ya Allah. Kami ini banyak yang susah dan banyak yang miskin. Semoga yang saya doa dan tulis ini dibaca Allah, semoga terkabulkan ya Allah.”
Tulisan tersebut menjadi bagian paling emosional dari kisah Risma yang beredar di media sosial.
Di usianya yang baru 11 tahun, ia disebut telah memikirkan kondisi kampung dan masyarakat di sekitarnya. Kekhawatirannya bukan hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang warga yang hidup dalam keterbatasan.
Doa itu memperlihatkan kepedulian seorang anak terhadap lingkungan tempat ia tinggal. Ia berharap kampungnya tidak mengalami bencana besar seperti yang pernah terjadi di Aceh.
Doa yang Kini Menjadi Kenangan
Unggahan tersebut kemudian menggambarkan bagaimana doa Risma menjadi terasa berbeda setelah kabar dirinya disebut menjadi korban gempa.
Ia yang sebelumnya berharap kampungnya terhindar dari bencana justru dikisahkan harus kehilangan nyawa dalam peristiwa tersebut.
Cerita Risma pun menyisakan duka sekaligus pesan kemanusiaan: bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan bangunan, tetapi juga memisahkan keluarga dan merenggut orang-orang yang dicintai.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa di balik angka korban dan laporan kerusakan akibat bencana, ada cerita manusia yang jauh lebih personal termasuk doa seorang anak yang hanya ingin kampungnya tetap aman.
Catatan redaksi: Kisah Risma dalam artikel ini bersumber dari unggahan media sosial yang diberikan. Detail mengenai identitas, lokasi, kronologi gempa, serta status Risma sebagai korban perlu dikonfirmasi kepada pihak berwenang atau keluarga sebelum digunakan sebagai fakta terverifikasi.








