Menu

Otomatis
Breaking News

Tech

Hacker Bobol Commerzbank Rp619 Miliar, Duit Curian Diduga Biayai Kampanye Pemilu 2024

badge-check

Empat hacker ditangkap di Brasil setelah diduga membobol sistem Commerzbank dan mencuri dana hingga 30 juta Euro atau sekitar Rp619 miliar.(Istimewa) Perbesar

Empat hacker ditangkap di Brasil setelah diduga membobol sistem Commerzbank dan mencuri dana hingga 30 juta Euro atau sekitar Rp619 miliar.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kasus pembobolan sistem perbankan yang melibatkan jaringan hacker lintas negara kembali terungkap. Empat orang ditangkap di Brasil, sementara tiga tersangka lainnya didakwa di Eropa karena diduga terlibat dalam pencurian dana nasabah Commerzbank dengan total kerugian mencapai sekitar 30 juta Euro atau Rp619 miliar.

Kasus ini merupakan hasil penyelidikan bersama Kepolisian Federal Brasil dan otoritas Jerman. Aksi pencurian tersebut diketahui berlangsung selama empat hari pada November 2023 dengan memanfaatkan celah keamanan dalam sistem pemrosesan transaksi.

Commerzbank, salah satu institusi keuangan besar di Eropa, mengakui adanya aktivitas penipuan yang berdampak terhadap nasabahnya. Meski begitu, pihak bank memastikan tidak ada nasabah yang harus menanggung kerugian finansial secara langsung.

Celah Sistem Jadi Pintu Masuk Hacker

Otoritas Jerman mengungkapkan, kelompok hacker diduga memanfaatkan kerentanan perangkat lunak yang muncul setelah adanya pembaruan sistem bermasalah pada perusahaan penyedia layanan pemrosesan transaksi pembayaran.

Dari celah tersebut, pelaku disebut bisa melakukan penarikan dana tanpa izin dari sejumlah rekening perbankan online di Jerman.

Melansir Bleeping Computer, uang yang berhasil diambil kemudian dialihkan ke Brasil melalui jaringan transaksi berlapis. Pola tersebut diduga sengaja digunakan untuk menyamarkan jejak sekaligus mempersulit aparat melacak sumber dana.

Sebagian besar uang hasil kejahatan akhirnya ditarik di Brasil. Sementara sebagian lainnya dicairkan di empat negara Eropa.

Dana Disebar Lewat Rekening hingga Kripto

Penyidik menemukan dugaan upaya sistematis untuk menyembunyikan hasil pencurian. Dana tidak hanya dipindahkan antar rekening, tetapi juga melewati sejumlah instrumen keuangan.

Jaringan tersebut diduga menggunakan rekening perantara, perusahaan cangkang, lembaga pembayaran, platform aset kripto hingga kartu pembayaran yang diterbitkan tanpa persetujuan pemilik.

Modus tersebut membuat aliran uang menjadi lebih rumit untuk ditelusuri dan diduga menjadi bagian dari upaya pencucian hasil kejahatan.

Operasi Klonen Bongkar Jaringan

Pengungkapan kasus ini dilakukan melalui ‘Operasi Klonen’. Kepolisian Federal Brasil bekerja sama dengan BKA Jerman untuk menjalankan operasi penindakan di sejumlah wilayah.

Sebanyak 21 surat perintah penggeledahan dikeluarkan dan dilaksanakan di tujuh kota di Brasil. Dari operasi tersebut, empat tersangka berhasil ditangkap di Rio de Janeiro, Guarulhos, Goiania, dan Carapicuiba.

Salah satu tersangka bahkan diketahui pernah mencalonkan diri dalam pemilu 2024. Penyidik menduga sebagian uang hasil kejahatan digunakan untuk membiayai kegiatan kampanye politiknya.

Tak berhenti pada penangkapan, pengadilan federal Brasil juga memerintahkan penyitaan aset yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut. Aset yang disita mencakup instrumen keuangan, kendaraan dan properti dengan nilai hingga R$106 juta atau sekitar Rp363 miliar.

Terancam Jerat Pidana Berat

Empat tersangka yang ditangkap di Brasil kini menghadapi sejumlah tuduhan serius. Di antaranya pencurian melalui penipuan elektronik, keterlibatan dalam organisasi kriminal, serta tindak pidana pencucian uang.

Sementara itu, tiga tersangka lain yang berada di Eropa telah diidentifikasi dan akan menghadapi proses hukum di Spanyol dan Bulgaria.

Kasus ini sekaligus menunjukkan bagaimana celah keamanan dalam rantai sistem pembayaran dapat dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan finansial dalam skala besar. Ketika dana kemudian dipindahkan melewati berbagai negara dan instrumen keuangan, proses pelacakan menjadi semakin kompleks dan membutuhkan kerja sama penegak hukum lintas batas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

AI Haus Air, Inggris Mulai Ketar-ketir: Data Center Bisa Jadi Mesin Penguras Cadangan Air Bersih

21 Jul 2026 - 19:51 WIB

AI Haus Air, Inggris Mulai Ketar-ketir: Data Center Bisa Jadi Mesin Penguras Cadangan Air Bersih

Modus Penipuan FaceTime Incar Pengguna iPhone, Apple Ingatkan Jangan Bagikan Layar dan Kode OTP

19 Jul 2026 - 13:03 WIB

Modus Penipuan FaceTime Incar Pengguna iPhone, Apple Ingatkan Jangan Bagikan Layar dan Kode OTP

Menuju Tol Tanpa Berhenti, BPJT dan Roatex Kebut Persiapan Uji Coba MLFF

6 Jul 2026 - 10:32 WIB

Menuju Tol Tanpa Berhenti, BPJT dan Roatex Kebut Persiapan Uji Coba MLFF

Zimperium Bongkar 250 Aplikasi Android Palsu yang Diam-Diam Daftarkan Korban ke Layanan Premium

28 Mei 2026 - 18:48 WIB

Zimperium Bongkar 250 Aplikasi Android Palsu yang Diam-Diam Daftarkan Korban ke Layanan Premium

Gagal di Pasar, Apple Ngotot Lanjut iPhone Air 2 Meski Tren Ponsel Tipis Meredup

4 Mei 2026 - 13:55 WIB

Gagal di Pasar, Apple Ngotot Lanjut iPhone Air 2 Meski Tren Ponsel Tipis Meredup
Trending di Tech