Menu

Mode Gelap
Purbaya Lagi-Lagi Dikaitkan Jadi Gubernur BI, Responsnya Santai: “Itu Isu Abadi, Nggak Pernah Jadi” “Batas Waktu”, Lagu Baru Zhafari yang Mewakili Perasaan Menunggu Tanpa Pernah Dipilih Betadine Ajak Anak Lepas dari Layar, Main, Bergerak, dan Kenal Budaya Lewat Festival Generasi Berani Exploring “Londo Ireng” Ramai Dibahas, Sejarah Leluhur Prabowo Ikut Jadi Sorotan Musik Keras Tiap Malam, Kafe di Menteng Sudah Lama Dikeluhkan Warga Sebelum Bentrokan Berdarah Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Lifestyle

Betadine Ajak Anak Lepas dari Layar, Main, Bergerak, dan Kenal Budaya Lewat Festival Generasi Berani Exploring

badge-check

Betadine memperingati Hari Anak Nasional 2026 lewat Festival Generasi Berani Exploring bersama Komdigi dan Kementerian Kebudayaan untuk mengajak anak aktif bermain, cakap digital, dan mengenal budaya Indonesia.(Istimewa) Perbesar

Betadine memperingati Hari Anak Nasional 2026 lewat Festival Generasi Berani Exploring bersama Komdigi dan Kementerian Kebudayaan untuk mengajak anak aktif bermain, cakap digital, dan mengenal budaya Indonesia.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau ada satu pemandangan yang makin sering kita lihat belakangan ini, mungkin bukan lagi anak-anak yang berlarian di lapangan sambil main gobak sodor atau petak umpet. Yang lebih sering terlihat justru kepala-kepala kecil yang menunduk menatap layar gawai. Diam, anteng, tapi entah benar-benar sedang menikmati masa kecilnya atau justru sedang sibuk “dipelihara” algoritma.

Di tengah situasi itu, Betadine Indonesia memilih mengambil langkah yang agak berbeda. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, perusahaan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai produk antiseptik keluarga ini menggelar Festival Generasi Berani Exploring sekaligus memperkuat Gerakan #BiarkanMerekaBerlari bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI serta Kementerian Kebudayaan RI.

Pesannya sederhana, tetapi penting: anak perlu ruang untuk bergerak, bermain, mengenal budaya, sekaligus belajar menjadi warga digital yang cerdas.

Tak sekadar festival, acara ini juga menjadi momentum peluncuran Buku Saku Generasi Berani Exploring, sebuah buku berisi 100 inspirasi aktivitas yang bisa dilakukan anak bersama keluarga. Penyusunannya pun tidak asal. Betadine menggandeng dokter spesialis anak, konsultan tumbuh kembang pediatri sosial, komunitas keluarga, hingga pegiat permainan tradisional agar aktivitas yang disajikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak Indonesia.

Country Head iNova Pharmaceuticals Indonesia, Benyamin Wuisan, mengatakan bahwa selama 50 tahun Betadine telah menjadi bagian dari keluarga Indonesia dalam menjaga kesehatan. Kini, menurutnya, komitmen tersebut berkembang menjadi upaya mendukung tumbuh kembang anak secara lebih menyeluruh.

“Selama 50 tahun, Betadine telah dipercaya mendampingi keluarga Indonesia dalam memberikan perlindungan kesehatan. Melalui Festival Generasi Berani Exploring dan Gerakan #BiarkanMerekaBerlari, kami melanjutkan komitmen tersebut dengan mempertemukan pemerintah, ahli tumbuh kembang anak, komunitas, dan keluarga untuk menghadirkan lebih banyak ruang bagi anak untuk bermain, bergerak, belajar, dan bereksplorasi, sekaligus membesarkan generasi yang aktif, cakap digital, mencintai budaya, dan memiliki semangat Be Unstoppable dalam berkarya serta memberikan manfaat bagi sesama,” kata Benyamin.

Anak Bukan Sekadar Pengguna Gadget

Perkembangan teknologi memang tidak mungkin dihentikan. Anak-anak hari ini lahir di era ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Persoalannya bukan lagi soal boleh atau tidak menggunakan gawai, melainkan bagaimana mereka tetap memiliki pengalaman hidup di luar layar.

Hal itu juga menjadi perhatian Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Dalam pidato utamanya, ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar di ruang digital sering kali datang dari sesuatu yang tidak terlihat: algoritma.

“Salah satu tantangan terbesar di ruang digital adalah ilusi algoritma. Anak merasa bebas memilih konten, padahal algoritma telah lebih dahulu menentukan apa yang akan mereka lihat berdasarkan perilaku dan kebiasaan mereka, sehingga perhatian mereka terus diarahkan oleh sistem rekomendasi,” ujar Meutya.

Karena itulah, menurut Meutya, teknologi secanggih apa pun tetap tidak bisa menggantikan peran orang tua.

“Seaman apa pun sebuah platform dirancang, tidak ada algoritma yang dapat menggantikan kehadiran, kasih sayang, keteladanan, dan pendampingan orang tua,” tegasnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi pengingat bahwa parenting di era digital bukan hanya soal memasang parental control, melainkan juga soal hadir menemani anak menjalani masa kecilnya.

Main Tradisional Ternyata Belum Kehabisan Napas

Menariknya, festival ini tidak hanya bicara soal literasi digital. Betadine juga menggandeng Kementerian Kebudayaan menghadirkan Komunitas Hong, Pusat Kajian Mainan Rakyat yang dipimpin Zaini Alif.

Anak-anak diajak mencoba berbagai permainan tradisional yang mungkin selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang tua.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang perlu terus dihidupkan.

“Permainan tradisional merupakan salah satu objek Pemajuan Kebudayaan yang harus terus kita hidupkan. Di tengah perkembangan teknologi digital, anak-anak tetap memerlukan ruang untuk bermain, berinteraksi, belajar bekerja sama, dan mengenal nilai-nilai luhur bangsa melalui pengalaman nyata,” ungkap Fadli Zon.

Kalau dipikir-pikir, permainan tradisional memang mengajarkan banyak hal yang kadang sulit didapat dari layar. Ada kerja sama, ada empati, ada keberanian mengambil keputusan, bahkan ada pelajaran menerima kekalahan tanpa harus menyalahkan koneksi internet.

Bermain Adalah Cara Anak Belajar

Dokter Spesialis Anak sekaligus Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), mengingatkan bahwa bermain bukan aktivitas pengisi waktu luang, melainkan bagian penting dari proses belajar anak.

“Anak belajar paling baik melalui pengalaman. Bermain, bergerak, dan bereksplorasi membantu mereka membangun rasa ingin tahu, keberanian mencoba hal baru, kemampuan berpikir, serta keterampilan sosial dan emosional. Di era digital, perlindungan anak mencakup mengurangi resiko dan dampak penggunaan gawai serta media digital lainnya untuk memastikan mereka memiliki lebih banyak kesempatan bertumbuh. Saya mengajak seluruh orang tua di Indonesia untuk bersama-sama membesarkan generasi yang aktif, sehat, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan, serta memberikan contoh terbaik untuk anak-anak kita,” jelasnya.

Pendapat serupa juga datang dari Founder MoM Academy (MoMA), Widya Safitri. Menurutnya, banyak orang tua kini menghadapi tantangan yang sama setelah mulai membatasi screen time anak.

“Kami senang Betadine mengajak puluhan komunitas parenting dan pegiat permainan tradisional untuk berbagi inspirasi aktivitas seru bagi keluarga. Saat screen time mulai dibatasi, banyak orang tua bertanya, ‘Hari ini main apa, ya?’ Melalui Gerakan #BiarkanMerekaBerlari dan Buku Saku Generasi Berani Exploring, kami berharap semakin banyak orang tua menemukan ide bermain yang sederhana, menyenangkan, dan mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Anak Aktif, Orang Tua Juga Harus Siap

Namanya juga anak-anak. Semakin sering bermain, semakin besar kemungkinan mereka pulang membawa cerita—dan kadang bonus berupa lutut lecet atau siku tergores.

Karena itu, dalam festival ini Betadine juga mengingatkan pentingnya kesiapan orang tua memberikan pertolongan pertama pada luka ringan. Melalui kampanye ABCD (Ambil Betadine, Cepetan Deh), orang tua diajak menerapkan langkah 4C, yakni tetap tenang (Chill), membersihkan dan memberikan antiseptik pada luka (Clean & Disinfect), melindungi luka bila diperlukan (Cover), serta memberikan rasa nyaman kepada anak (Comfort).

Betadine juga memperkenalkan Betadine Clear yang mengandung octenidine dan allantoin sebagai salah satu solusi antiseptik untuk membantu perawatan luka ringan pada anak.

Pada akhirnya, Festival Generasi Berani Exploring bukan semata soal permainan tradisional, buku saku, atau peluncuran kampanye baru. Festival ini seperti pengingat bahwa masa kecil tidak seharusnya hanya diisi notifikasi, rekomendasi algoritma, dan video berdurasi 30 detik.

Sebab, anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk berlari sampai berkeringat, tertawa sampai lupa waktu, jatuh lalu bangkit lagi. Karena mungkin, dari situlah keberanian mereka tumbuh—bukan dari layar, melainkan dari pengalaman nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Purbaya Lagi-Lagi Dikaitkan Jadi Gubernur BI, Responsnya Santai: “Itu Isu Abadi, Nggak Pernah Jadi”

28 Juli 2026 - 21:45

Musik Keras Tiap Malam, Kafe di Menteng Sudah Lama Dikeluhkan Warga Sebelum Bentrokan Berdarah

28 Juli 2026 - 18:08

Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

25 Juli 2026 - 17:57

Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP?

25 Juli 2026 - 11:39

DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28

25 Juli 2026 - 00:52

Trending di News