PRABA INSIGHT – Pada Selasa (18/11), banyak orang mengalami hari yang tidak ideal: bukan karena hujan deras, bukan juga karena mantan mendadak nge-chat, tapi karena internet mendadak ngadat. Bukan, bukan WiFi rumah Anda yang lemot kali ini salah satu tiang penyangga internet dunia, Cloudflare, mendadak sempoyongan.
Efeknya? Layanan yang biasa Anda pakai buat kerja, mager, atau curhat ke AI mendadak mogok. ChatGPT dan Sora dari OpenAI ngambek, platform X tiba-tiba blank, dan situs BMKG pun ikut-ikutan mogok. Warganet pun langsung bikin teori: “Waduh, ini kiamat internet?” Yah, kalau pun iya, jelas bukan hari yang tepat.
Situs pemantau Downdetector yang ironisnya juga sempat ikutan pingsan melaporkan lonjakan user yang kebingungan. Setelah beberapa jam drama digital berlangsung, Cloudflare akhirnya muncul membawa kabar: perbaikan sudah dipasang sekitar pukul 09.57 waktu AS atau 21.57 WIB. Meski begitu, mereka masih menenangkan publik dengan imbauan, “Tenang, tapi dashboard Anda mungkin masih ngadat, ya.”
Terus, apa biang keroknya? Ternyata bukan hacker Rusia, bukan Anonymous, apalagi alien. Penyebabnya adalah file konfigurasi otomatis yang bertugas mengatur lalu lintas ancaman. Entah karena kebanyakan makan atau kebanyakan beban kerja, file itu membengkak sampai kelewat ukuran normal dan bikin software pengendali lalu lintas internet ambruk.
Lonjakan trafik mencurigakan pun terdeteksi sejak sekitar pukul 05.20. Cloudflare buru-buru menegaskan bahwa kejadian ini bukan serangan siber, jadi para penggemar teori konspirasi harap menahan imajinasi dulu.
Dalam pernyataan yang cukup dramatis, juru bicara Cloudflare berkata kurang lebih begini: “Kami tahu kami penting, dan kami tahu Anda kecewa. Maaf ya, internet.” Pernyataan itu dikutip dari CNBC International, lengkap dengan nuansa menanggung dosa seluruh dunia maya.
Perlu diingat, Cloudflare ini bukan pemain ecek-ecek. Mereka menjaga sekitar 20 persen dari lalu lintas situs global. Jadi, kalau mereka batuk sedikit saja, separuh dunia bisa ikut meriang. Tidak heran saham mereka langsung turun lebih dari dua persen setelah kejadian ini.
Yang bikin tambah lucu (atau sedih?), insiden Cloudflare datang setelah serentetan drama digital sebelumnya. AWS sempat kolaps seharian, Microsoft Azure dan Microsoft 365 juga sempat tumbang. Bahkan tahun 2024 pernah muncul episode “Chaos Update” saat perangkat lunak CrowdStrike bikin layanan penerbangan dan fasilitas kesehatan ikut gubra-gubra.
Kalau internet hidup memiliki sinetron, mungkin episode pekan ini akan diberi judul:
“Ketika File Konfigurasi Cloudflare Membangkang dan Dunia Menyalahkannya.”











