Menu

Mode Gelap
Garuda Menggila di GBK! Indonesia Hajar Saint Kitts 4-0, Beckham Putra Jadi Bintang Gaduh Tahanan Yaqut, KPK Minta Maaf: Asep Sebut Kekecewaan Publik Adalah Dukungan RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka

News

Hakordia Memanas: JAMKI Dorong KPK Paksa Anggota DPR Hadir di Kasus CSR BI–OJK

badge-check


					JAMKI mendesak KPK memanggil paksa anggota DPR yang mangkir dalam penyidikan dugaan korupsi CSR BI–OJK, menilai kasus triliunan ini mandek dan perlu langkah tegas.(Istimewa) Perbesar

JAMKI mendesak KPK memanggil paksa anggota DPR yang mangkir dalam penyidikan dugaan korupsi CSR BI–OJK, menilai kasus triliunan ini mandek dan perlu langkah tegas.(Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Masih dalam suasana Hakordia hari di mana semua orang tiba-tiba ingat pentingnya antikorupsi Jaringan Aktivis dan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (JAMKI) memilih tidak ikut-ikutan hanya berfoto bareng backdrop. Mereka datang membawa tuntutan: KPK jangan cuma sibuk membagi pin dan seminar, tapi segera bereskan penyidikan dugaan korupsi dana CSR Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kasus ini nilainya bukan ecek-ecek. Triliunan rupiah yang semestinya bisa membantu rakyat kecil justru berpotensi nyasar ke tempat yang tidak kecil. Masalahnya, penyidikannya tersendat. Dan menurut JAMKI, penyebabnya sederhana: ada anggota DPR yang kalau dipanggil, lebih sering hilang sinyal.

“Ini penting untuk integritas penegakan hukum. Kalau mereka mangkir tanpa alasan sah, KPK harus berani panggil paksa,” kata Ketua Umum JAMKI, Agung Wibowo Hadi, Jumat, 12 Desember.

Dua Legislator NasDem yang Lebih Rajin Mangkir daripada Hadir

Agung menyebut dua nama yang dianggap paling sering “ghosting” KPK: Fauzi Amro dan Charles Meikyansyah, dua anggota DPR dari Partai NasDem. Keduanya sudah dua kali dipanggil pada Maret dan April 2025, tapi entah mengapa jalannya ke gedung KPK seolah lebih jauh daripada jarak Jakarta–Tokyo.

“Mengingat mereka sudah dua kali mangkir, KPK harus berani memanggil paksa keduanya,” ujar Agung, yang dikenal sebagai pendiri Forkot.

Yang bikin Agung makin penasaran, ada informasi dua yayasan yang terafiliasi dengan Fauzi ikut menerima dana CSR itu. Belum lagi ucapan Satori anggota DPR dari NasDem yang sudah jadi tersangka yang bilang dia tidak sendirian menerima dana tersebut. Ada “teman-teman” lain di Komisi XI, katanya. Lengkap sudah drama politiknya.

Nama-Nama yang Sudah Muncul di Ruang Pemeriksaan

KPK sebenarnya sudah bekerja. Sejumlah anggota DPR telah diperiksa: Rajiv dari NasDem; Dolfie Palit dari PDI Perjuangan; dan Iman Adinugraha dari Demokrat. Pemeriksaan berlangsung sepanjang September–Oktober 2025.

Dua legislator, Satori (NasDem) dan Heri Gunawan (Gerindra), bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak 7 Agustus 2025.

Tak berhenti di legislatif, KPK juga memeriksa pejabat BI dan OJK, termasuk Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta serta Kepala Divisi Program Sosial BI, Hery Indratno. Penggeledahan pun sudah digelar di kantor BI, kantor OJK, hingga rumah staf ahli DPR yang diduga tahu persis kemana aliran dana CSR itu berbelok.

Harapan JAMKI: Buka Semua, Jangan Ada yang Disensor

Bagi Agung, penyelesaian kasus ini penting bukan hanya untuk menutup lubang-lubang hukum, tapi juga untuk menunjukkan bahwa peringatan Hakordia tidak sekadar seremoni penuh jargon.

Ia berharap KPK menelusuri seluruh aliran dana, termasuk yang diduga masuk ke yayasan-yayasan terkait para tersangka. “Kasus ini harus dituntaskan secara transparan,” katanya.

Karena, kalau tidak dituntaskan, publik bisa-bisa berpikir bahwa penyidikan kasus CSR ini sama seperti tombol lift yang cuma nyala lampunya: terang, tapi tidak kemana-mana. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gaduh Tahanan Yaqut, KPK Minta Maaf: Asep Sebut Kekecewaan Publik Adalah Dukungan

27 Maret 2026 - 12:11 WIB

RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana

27 Maret 2026 - 09:05 WIB

Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro

27 Maret 2026 - 08:09 WIB

Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus

26 Maret 2026 - 08:20 WIB

Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill

26 Maret 2026 - 07:29 WIB

Trending di News