Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Bisnis

Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring

badge-check


					Foto : Maryono Pimpinan Kantor Pegadaian wilayah IX Jakarta 2 (istimewa) Perbesar

Foto : Maryono Pimpinan Kantor Pegadaian wilayah IX Jakarta 2 (istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau media sosial lagi ribut soal emas, biasanya ada dua tipe orang. Yang pertama langsung panik: “Wah, emas naik, beli sekarang!” Yang kedua lebih kalem tapi tetap waswas: “Jangan-jangan telat.” Di tengah kegaduhan itulah Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 ikut kebagian sorotan.

Permintaan emas memang lagi tidak main-main. Bukan naik pelan-pelan, tapi membludak. Fenomena ini pun dijelaskan langsung oleh Pemimpin Wilayah Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2, Maryono.

“itu terkait bener2 mekanisme pasar permintaan membludak di mana permintaan naik drastis, kita sebagai penyedia berusaha semaksimal mungkin kita tetap penuhi, jadi saya menghimbau kepada masyarakat untuk investasi harus hati-hati ya, saya pastikan penggadaian emasnya ada.”

Kalimat “emasnya ada” ini penting. Di saat isu stok kosong beredar ke mana-mana, Pegadaian justru ingin memastikan publik tidak ikut-ikutan panik. Karena panik, dalam dunia investasi, sering kali jadi awal dari keputusan yang keliru.

Menariknya, Pegadaian Jakarta 2 tidak cuma bicara soal emas sebagai barang fisik, tapi juga soal cara orang berinteraksi dengan layanan keuangan hari ini. Di Jakarta, internet bukan lagi kemewahan, tapi kebutuhan harian. Dan itu yang coba dimanfaatkan.

“Oh tentu saja ya masyarakat Jakarta itu di untungkan dengan ketersediaan koneksi internet tentu saya berharap untuk masyarakat Jakarta 2 bener-benar memanfaatkan aplikasi Tring ini, dan ketika temen-teman membutuhkan layanan lebih misalnya gadai dari rumah kami pun datang dan kami jemput, itu salah satu program nasional jadi kita tidak terganggu saat beraktivitas”

Di titik ini, Pegadaian tampaknya sadar betul satu hal: orang Jakarta sibuk. Datang ke kantor bisa jadi urusan setengah hari. Maka layanan jemput gadai pun hadir, biar emas tetap bisa bergerak tanpa bikin jadwal berantakan.

Soal masa depan, Pegadaian Jakarta 2 juga tidak setengah-setengah. Digitalisasi bukan sekadar gaya-gayaan, tapi dianggap sebagai strategi jangka panjang, terutama lewat tabungan emas.

“Jelas kita akan mendigitalisasi transaksi kita ke aplikasi Tring ini kemudian akan perbanyak transaksi tabungan emas, karena itu karena kunci masa depan kita di emas, ketika terjadi gejolak ekonomi politik toh yang paling kuat yang memegang emas”

Kalimat terakhir itu seperti penegasan klasik yang selalu relevan: di tengah gejolak ekonomi dan politik, emas masih dipercaya sebagai pegangan. Bukan karena tren, tapi karena pengalaman panjang sejarah.

Tak berhenti di layanan dan aplikasi, Pegadaian Jakarta 2 juga membuka pintu lebih lebar bagi masyarakat untuk terlibat langsung lewat berbagai produk, termasuk sistem keagenan.

“Saya menghimbau kepada masyarakat di wilayah Jakarta dua yang meliputi wilayah Jakarta utara, Jakarta barat Jakarta selatan bagian barat sampai Tangerang banten, manfaatkan layanan kami bahkan ada produk2 unggulan kami termasuk keagenan bahwa kita akan bersama-sama memasarkan produk penggadaian ini dengan sistem ke agen an dengan sistem referal  sehingga masyarakat bisa memanfaatkan benefit dari penggadaian ini secara nyata”

Ujungnya sederhana: emas tetap emas, tapi caranya berubah. Dari antre di loket, kini pindah ke layar ponsel. Dari datang ke kantor, kini bisa dijemput dari rumah. Pegadaian Jakarta 2 tampaknya ingin memastikan satu hal di tengah dunia yang makin digital dan serba cepat, masyarakat tetap punya pegangan yang dianggap paling tahan banting: emas.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *