Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

News

Kisah Bachrul Alam, Purnawirawan Polri yang Berhaji karena Takut Meninggal Dunia

badge-check


					Purnawirawan Polri Bachrul Alam menceritakan titik balik hidupnya setelah berhaji karena takut meninggal dunia sebelum menunaikan rukun Islam kelima.(Istimewa) Perbesar

Purnawirawan Polri Bachrul Alam menceritakan titik balik hidupnya setelah berhaji karena takut meninggal dunia sebelum menunaikan rukun Islam kelima.(Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Bachrul Alam pernah berdiri di puncak karier kepolisian. Pangkatnya Komisaris Jenderal, jabatannya strategis, kuasanya nyata. Tapi rupanya, ada satu hal yang justru paling ia takuti: mati sebelum sempat berhaji.

Kisah itu diceritakan Bachrul, purnawirawan Polri yang pernah menjabat Irwasum Polri dan Kapolda Jawa Timur pada 2009, lewat sebuah video TikTok di akun @saeedkamyabi, Senin, 16 Juni 2025. Video itu bukan soal nostalgia jabatan, melainkan pengakuan jujur tentang rasa takut yang diam-diam membentuk arah hidupnya.

Sebagai Kapolda Jatim kala itu, Bachrul dikenal membawa kebijakan bernuansa religius. Ia mendorong Polwan mengenakan jilbab, dan mengimbau polisi laki-laki memanfaatkan waktu istirahat untuk khataman Al-Qur’an. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar kebijakan. Bagi Bachrul, itu lahir dari kesadaran sederhana tapi menohok: kematian bisa datang kapan saja.

Ia mengaku hidup dalam kecemasan yang cukup sunyi takut wafat sebelum menunaikan rukun Islam kelima.

“Pada waktu itu, saya bekerja antara waktu mati dan haji. Karena saya pasti akan dihisab. Punya uang tapi belum berangkat haji,” ucap Bachrul.

Ketakutan itulah yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan cepat. Tak pakai rencana panjang. Tak pakai daftar tunggu bertahun-tahun. Bachrul berangkat haji bersama sang istri setelah mendapatkan satu travel dengan dua kursi tersisa.

“Lalu dapat satu travel dan tinggal 2 seat. Saya dengan istri berangkat haji. Karena ketakutan mati sebelum menunaikan ibadah haji,” imbuhnya.

Padahal, secara persiapan, hajinya jauh dari kata ideal. Ia bahkan tidak sempat mengikuti manasik. Modalnya cuma satu: nekat, karena takut mati.

Sesampainya di Mekkah, kebingungan sempat datang bertubi-tubi. Untungnya, Bachrul bertemu KH Ashari, seorang ulama yang kemudian membimbingnya selama menjalani ibadah.

“Saya minta tolong untuk dibimbing. Apa yang disampaikan dan yang disuruh, saya ngikutin saja,” kenangnya.

Bachrul sendiri tak menilai hajinya sebagai ibadah yang sempurna. Ia merasa niatnya lebih banyak digerakkan rasa takut, bukan kesiapan batin. Tapi justru dari sanalah perubahan hidup itu bermula.

“Tapi Alhamdulillah. Pulang haji, sikap saya langsung banyak perubahan. Yang tadinya gak pernah sholat di masjid, terus pengen berjemaah di masjid terus. Yang tadinya jarang sholat malam, bisa bangun malam terus ingin sholat malam,” katanya.

Perubahan itu merembet ke hal-hal kecil yang konsisten. Sedekah jadi kebiasaan, Al-Qur’an jadi bacaan harian.

“Yang tadinya jarang sedekah, pengen sedekah tiap hari. Yang tadinya jarang baca Al Quran, pengen baca Al Quran terus. Itu yang saya rasakan sampai saat ini,” tutupnya.

Kadang, hidup memang tidak berubah karena rencana matang. Ada kalanya, perubahan besar justru lahir dari ketakutan paling manusiawi: takut mati, sebelum sempat pulang.

Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi

6 Februari 2026 - 15:26 WIB

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

5 Februari 2026 - 12:30 WIB

Ketika Mens Rea Dipersoalkan, Pandji Pragiwaksono Menempuh Jalan Dialog

3 Februari 2026 - 13:56 WIB

OJK Tuntaskan Penyidikan Kasus Pinjol Crowde, Temukan 62 Mitra Fiktif

3 Februari 2026 - 11:58 WIB

Eyang Meri Pergi di Usia 100 Tahun, Perempuan Tangguh di Balik Keteguhan Jenderal Hoegeng

3 Februari 2026 - 08:21 WIB

Trending di News