Menu

Mode Gelap
Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

Kolom Angker

Kisah Martabak yang Dijaga Arwah: Mereka Menunggu di Malam Hujan

badge-check

Foto: ilustrasi (istimewa) Perbesar

Foto: ilustrasi (istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – KOLOM ANGKER – Keringat dingin selalu mengalir setiap kali aku mengingat malam itu. Tengkukku terasa ditarik ke belakang waktu, ke malam yang mengubah hidupku selamanya. Aku tidak peduli jika orang menuduhku berhalusinasi, berbohong, atau sekadar mencari perhatian. Yang jelas, aku mengalami ini sendiri di Jalan Bung Karno, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, tempat yang semua orang anggap biasa, tapi tidak untukku.

Aku penjual martabak. Meja lipat, wajan besar, kompor, lampu kecil menggantung di atas kepala sederhana, tapi cukup untuk keluarga. Malam itu, hujan turun pelan sejak maghrib. Pelanggan sudah berkurang. Hanya seorang wanita berjilbab merah yang berdiri agak jauh, memegang ponsel, menunggu martabakku.

Jam menunjukkan pukul 00.50. Aku menuang adonan ke wajan ketika lampu lapak berkedip tiga kali, lalu mati. Gelap total. Hanya cahaya remang lampu jalan yang menembus kabut hujan.

Aku mengambil senter, mengarahkan cahaya ke wanita itu, dan detak jantungku seakan berhenti. Wajahnya… tidak ada. Tidak ada mata, hidung, mulut hanya permukaan kulit polos, rata, seperti topeng. Ia hanya menunduk sedikit, menunggu martabakku. Aku menelan ludah, menoleh sebentar dan saat menengok lagi, ia hilang.

Hanya derasnya hujan yang tersisa, menyentuh lantai dengan suara mengerikan.

Aku mencoba menenangkan diri dan merapikan barang. Tapi saat membalik papan kayu untuk melipat meja, aku melihat bekas tangan basah. Panjang jari-jari itu tidak wajar, seolah baru saja menekan papan dari sisi pelanggan. Aku menyentuhnya dingin, basah, berbau amis.

Aku ingin lari. Tapi harus menyelesaikan pekerjaan.

Lalu terdengar gesrek… gesrek… gesrek… dari bawah meja. Aku menunduk perlahan, cahaya senter menyorot ke kolong.

Yang kulihat membuat darahku berhenti mengalir: rambut panjang hitam basah menjuntai dari atas meja ke lantai, bergerak sendiri, seperti ada angin dari bawah. Aku terhuyung ke belakang. Lampu lapak berkedip. Hujan tiba-tiba lebih deras.

Aku mencoba tetap tenang, membaca doa apa pun yang kuingat, tapi aku merasa diawasi dari belakang. Sesuatu tinggi, gelap, diam mengintip dari sudut mataku.

Ketika aku memasukkan botol margarin ke kotak kayu, terdengar langkah kaki pelan mendekat dari belakang, napas berat dan basah di dekat kuping. Aku memejamkan mata. Suara serak itu berkata:

“Ada… yang… menunggu…”

Aku menoleh. Kosong. Tapi bangku plastik di belakangku kini basah, seolah seseorang yang sangat basah baru saja duduk di situ.

Aku bergegas, menarik troli. Roda belakang terasa berat, seperti tersangkut. Ketika kubalik untuk memeriksa—aku terjatuh. Di bawah troli, kaki pucat, kurus, kuku panjang merayap mendekat. Aku menjerit, bangkit, dan lari, meninggalkan semua lapak, uang, adonan, hujan deras yang menempel di tubuhku.

Keesokan harinya, aku kembali dengan tetangga. Dan kami melihatnya bekas tulisan jari panjang di papan kayu lapakku, basah, membentuk kalimat:

“AKU SUDAH MENUNGGU ULANGANNYA.”

Aku berhenti jualan berbulan-bulan. Tapi kejadian itu belum berakhir. Setiap malam antara pukul 01.00–02.00, nomor lapak di banner lama menerima telepon. Jika kuangkat hanya napas panjang, basah, berat. Tidak ada suara manusia.

Aku tidak pernah lagi melewati Jalan Bung Karno setelah tengah malam. Dan lapak martabakku?

Hingga kini… tidak ada seorang pun yang menemukan troli itu.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Teror Jam 1 Pagi: Driver Ojol Menyelamatkanku dari Sosok yang Merangkak Naik ke Balkon Rumah

30 Juli 2026 - 21:47

Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur

26 Juni 2026 - 00:34

Teror di Gunung Sunyi: Saat Sesuatu yang Bukan Manusia Mencoba Berbicara

5 Juni 2026 - 02:26

Teror Selasa Kliwon, malam yang masih ditakuti dalam cerita mistis tanah Jawa

5 Juni 2026 - 02:11

Pesugihan Kandang Bubrah: Rumah Tak Pernah Jadi, Teror Tak Pernah Berhenti

28 Mei 2026 - 22:04

Trending di Kolom Angker