Menu

Mode Gelap
Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

Kolom Angker

Kisah Tawa Anak Kecil dari Balik Pintu Terkunci

badge-check

Foto: Ilustrasi (Istimewa) Perbesar

Foto: Ilustrasi (Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – KOLOM ANGKER –Nama saya Arif Rahman. Saya tidak tahu apakah menulis ini keputusan yang benar. Setiap kata seperti mengetuk pintu yang seharusnya tetap terkunci. Tapi ada sesuatu dari penginapan itu yang tidak suka dilupakan. Ia selalu mencari jalan untuk diingat.

Jalan yang Terlalu Sunyi

Kabut turun sebelum kami sampai. Bukan kabut biasa terlalu tebal, terlalu berat. Lampu mobil seperti ditelan putih. Jalan Puncak yang seharusnya ramai terasa kosong, mati, seolah kami satu-satunya yang masih bergerak.

Ketika papan kayu bertuliskan Penginapan Keluarga muncul, mesin mobil mendadak mati.

Saya ingat jantung saya berdetak terlalu keras saat itu.

Bangunan itu berdiri menyendiri, jendelanya gelap seperti mata yang sengaja dipejamkan. Ada perasaan kuat bahwa tempat itu sedang menunggu.

Peringatan Pertama

Pemiliknya keluar tanpa suara. Pria tua dengan mata cekung, wajahnya seperti belum tidur bertahun-tahun. Ia memberikan kunci kamar tanpa senyum.

“Lewat jam sebelas,” katanya pelan,

“jangan buka pintu… walaupun dipanggil.”

Saya tertawa canggung.

Ia tidak ikut tertawa.

Lorong yang Bernapas

Lorong lantai dua sempit, lampunya redup, berwarna kuning sakit. Setiap langkah kami memantul aneh, seolah lorong itu mengulang suara kami dengan napasnya sendiri.

Anak bungsu saya berhenti mendadak.

“Ayah… ada yang berdiri di belakang kita.”

Lampu mati.

Gelap total.

Saya mendengar napas tepat di belakang telinga saya.

Lampu menyala kembali.

Lorong kosong.

Tapi bau tanah basah tertinggal.

Malam Pertama: Sesuatu Masuk

Tepat pukul sebelas malam, udara kamar berubah. Dingin yang menusuk tulang. Bau melati dan besi karat bercampur.

Ibu saya berbisik dengan suara gemetar,

“Ada yang duduk di kursi itu…”

Kursi kosong.

Lalu kursi itu bergerak sendiri.

Beberapa sentimeter.

Pelan.

Seperti diduduki sesuatu yang sangat berat.

Tengah Malam: Ketukan yang Salah

Saya terbangun karena suara ketukan keras.

Bukan dari pintu.

Dari dinding.

DUK. DUK. DUK.

Dari balik dinding, terdengar suara anak kecil menangis.

“Tolong… aku kedinginan…”

Istri saya menutup mulut anak-anak agar tidak bersuara.

Ketukan itu berpindah.

Sekarang dari plafon.

Malam Kedua: Di Bawah Tempat Tidur

Anak sulung saya menunjuk ke bawah tempat tidur.

“Ayah… tangannya panjang.”

Saya menunduk

DUA TANGAN HITAM mencengkeram kaki ranjang dari bawah.

Jarinya kurus, kukunya panjang, dan perlahan bergerak naik.

Saya berteriak.

Lampu mati.

Dalam gelap, saya mendengar sesuatu merangkak keluar.

Dan tertawa.

Pukul Sebelas: Mereka Bangun

Malam ketiga.

Tepat pukul sebelas.

SELURUH PENGINAPAN TERDIAM.

Listrik padam.

Jam tangan saya berhenti.

Dari lorong terdengar suara banyak kaki berjalan bersamaan.

Bukan satu.

Puluhan.

Suara anak-anak tertawa, bercampur tangisan orang dewasa.

Pintu kamar diketuk dari luar.

Lalu suara ibu saya

padahal ia pingsan di ranjang.

“Arif… buka pintunya.”

Pegangan pintu diputar.

Dari celah bawah pintu, cairan hitam merembes masuk.

Berbau busuk.

Mereka Sudah Masuk

Saya membaca doa keras-keras.

Tiba-tiba anak bungsu saya menjerit.

“Ayah! Mereka di belakang Ayah!”

Saya berbalik

SEMUA JENDELA DIPENUHI WAJAH.

Mata hitam.

Mulut tersenyum terlalu lebar.

Lampu menyala mendadak.

Semua hilang.

Ibu saya terbaring kaku. Napasnya hampir tidak ada.

Pagi yang Salah

Di lorong, ada bekas telapak tangan di dinding. Tinggi melebihi orang dewasa.

Di depan kamar kami, tertulis dengan lumpur:

“KALIAN SUDAH KELUARGA.”

Foto Terakhir

Di tas saya, sebuah foto lama muncul.

Kami semua ada di foto itu.

Berdiri di depan penginapan.

Dengan satu anak tambahan.

Wajahnya hitam.

Saya bertanya pada pemilik penginapan.

Ia menangis.

“Mereka tidak suka ditinggal,” katanya.

“Yang pergi… biasanya kembali.”

Setelah Pulang

Anak saya kini sering tertawa sendiri di tengah malam.

Ia berkata,

“Mereka nggak suka kalau lampu dinyalakan.”

Dan setiap pukul sebelas,

pintu kamar kami selalu diketuk.

Dari dalam.


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur

26 Juni 2026 - 00:34

Teror di Gunung Sunyi: Saat Sesuatu yang Bukan Manusia Mencoba Berbicara

5 Juni 2026 - 02:26

Teror Selasa Kliwon, malam yang masih ditakuti dalam cerita mistis tanah Jawa

5 Juni 2026 - 02:11

Pesugihan Kandang Bubrah: Rumah Tak Pernah Jadi, Teror Tak Pernah Berhenti

28 Mei 2026 - 22:04

Teror Rumah Bekas Makam: Sosok Bermulut Sobek Itu Menyamar Jadi Anak Pak Sawon

15 Mei 2026 - 00:53

Trending di Kolom Angker