PRABAINSIGHT.COM, KOTA BEKASI – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bekasi, ada pemandangan menarik dari keluarga besar marga Silaban. Bukan sekadar hajatan empat tahunan biasa, ribuan orang yang tergabung dalam Parsadaan Pomparan Borsak Jungjungan Silaban (PBJS) se-Jabodetabek.
Mereka memanfaatkan momen kumpul keluarga untuk satu misi besar: menggolongkan perancang Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional (Monas), Friedrich Silaban, sebagai Pahlawan Nasional.
Misi tersebut diwujudkan lewat aksi pengumpulan 1.000 tanda tangan dalam ajang Pesta Parolopolopon PBJS 2026 di Grand Graha Delima 2, Kota Bekasi, Minggu (11/10/2026).
Gerakan ini lahir dari fakta sejarah bahwa sosok Friedrich Silaban, arsitek kelahiran Bonandolok tahun 1912, merupakan maecenas tata bangunan modern Indonesia yang karya-karyanya menjadi identitas visual kebanggaan negara hingga hari ini.
Ketua Umum PBJS se-Indonesia dan Dunia, Pantas Silaban, menegaskan bahwa usulan ini bukan bentuk romantisme marga belaka, melainkan penghormatan atas sumbangsih nyata seorang anak bangsa bagi sejarah Republik.
“Pesta Parolopolopon ini bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi momentum mempererat persaudaraan dan melestarikan budaya. Di luar itu, kami mengajak seluruh keluarga besar bersatu mendukung pengusulan Friedrich Silaban sebagai Pahlawan Nasional. Beliau merupakan putra terbaik bangsa yang memberikan kontribusi besar melalui karya-karya monumental bagi Indonesia,” tegas Pantas Silaban di sela-sela perhelatan.
Empat Tahun Sekali, dari Manortor sampai Misi Kebangsaan
Perhelatan akbar empat tahunan yang berlandaskan AD/ART organisasi ini, menjadi oasis di tengah rutinitas warga urban Jabodetabek. Lewat balutan prosesi adat Batak Toba, ibadah syukur, serta kehangatan tarian tortor, generasi tua dan muda Silaban melebur dalam tradisi.
Namun, alih-alih berhenti di nostalgia silsilah dan perayaan adat, gerakan penggalangan dukungan untuk Friedrich Silaban justru menjadi bahan bakar utama yang memberi bobot lebih pada pesta tradisi kali ini.
Pantas menambahkan, kolaborasi antara ikatan tradisi dan aksi kebangsaan ini diharapkan tidak menguap begitu saja setelah panggung pesta dibongkar.
“Kami berharap semangat kebersamaan ini tidak berhenti pada perayaan, tetapi terus tumbuh menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan, menghormati leluhur, dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara,” tuturnya.
Proses pengajuan gelar Pahlawan Nasional untuk sang arsitek kawakan memang masih membentang panjang dan harus melewati verifikasi ketat pemerintah. Namun, langkah awal marga Silaban dari Bekasi ini membuktikan satu hal: merawat akar budaya tidak harus berjarak dari penghormatan terhadap sejarah bangsa.








