PRABA INSIGHT – Jakarta – Ada yang menarik dari komentar Sandri Rumanama, Wakil Ketua Umum PB SEMMI. Menurutnya, reformasi Polri itu jangan cuma berhenti di level “ayo kita berubah ya, guys”. Katanya, pekerjaan rumahnya jauh lebih besar dari sekadar merapikan etika dan budaya kerja. Reformasi itu, menurut Sandri, harus masuk sampai ke jeroan struktural dan organisatoris.
“Tuntutan kebutuhan negara dan kasus kriminal berjalan berdasarkan era dan zaman. Tim reformasi harus melek pada persoalan ini. Kebutuhan dasarnya adalah ranah kultural etika, sistem, dan budaya kerja namun upgrade pada ranah struktural dan organisatoris juga penting,” ujar Sandri, yang juga Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institut.
Bukan tanpa alasan Sandri ngomong begitu. Ia menyebut ada beberapa posisi penting di Polri yang menurutnya sudah waktunya dikawal perwira tinggi minimal berpangkat Brigjen Polisi. Bukan sekadar demi gaya-gayaan bintang di pundak, tapi karena jabatan itu memang vital. Yang ia maksud antara lain: Spripim Polri, Yanma Polri, dan Setum Polri.
“Tiga unsur ini sangat memiliki peran vital. Harus di-upgrade sesegera mungkin agar bisa prima dalam menjalankan tugas-tugas kepolisian,” katanya.
Menurut Sandri, struktur Polri agak timpang. Tiga posisi vital itu berada persis di bawah Kapolri bintang empat, tapi dari segi golongan kedinasan seharusnya sudah setara level III (d) atau V (a). Singkatnya: struktur organisasi Polri perlu disetabilkan ulang biar nggak pincang sebelah.
Belum cukup sampai di situ, Sandri juga mengangkat isu klasik yang sering bikin netizen geleng-geleng kepala: mutasi, rotasi, dan promosi dalam tubuh Polri.
“Reward and punishment harus adil juga. Banyak personel bermasalah justru mendapatkan promosi, yang punya kinerja bagus justru tidak dilirik. Ini budaya yang harus dirombak total,” ujar Sandri.
Ia bahkan menyentil contoh yang sudah jadi rahasia umum: enam perwira tinggi yang terseret kasus Ferdy Sambo tapi kariernya malah ngebut sampai pecah bintang. Menurut Sandri, ini catatan buram yang harus dibersihkan kalau Polri mau benar-benar berubah.
“Ini harus berani diubah. Budaya ini justru membuat kinerja personel jadi buruk. Mereka yang berprestasi jadi malas bekerja karena tidak diberikan reward and punishment yang semestinya,” tegasnya.
Reformasi Polri, menurut Sandri, rupanya tidak cukup cuma digembar-gemborkan. Harus dibedah sampai ke akar kalau perlu sampai ke baut-baut organisasinya supaya nanti tidak ada lagi personel yang merasa kerja kerasnya cuma jadi dekorasi.






