Menu

Mode Gelap
Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

Sport

Spanyol Juara Piala Dunia 2026! Ferran Torres Tutup Kisah Indah La Furia Roja, Argentina Pulang dengan Luka

badge-check

Spanyol resmi menjadi juara Piala Dunia FIFA 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak extra time. Kartu merah Enzo Fernández menjadi titik balik yang mengubah jalannya final di Stadion MetLife. Perbesar

Spanyol resmi menjadi juara Piala Dunia FIFA 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak extra time. Kartu merah Enzo Fernández menjadi titik balik yang mengubah jalannya final di Stadion MetLife.

PRABAINSIGHT.COM – Ada dua cara kalah di final Piala Dunia. Pertama, kalah karena memang lawan lebih hebat. Kedua, kalah karena nasib tiba-tiba memutuskan berpihak ke orang lain. Argentina, dini hari tadi, seperti merasakan keduanya sekaligus.

Di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, ribuan pasang mata menunggu satu momen yang bisa dikenang puluhan tahun. Yang datang justru pertandingan yang bikin jantung naik turun, penuh ketegangan, minim gol, tetapi kaya drama.

Dan ketika semua orang mulai membayangkan adu penalti, Ferran Torres memilih menulis akhir cerita dengan caranya sendiri.

Satu gol pada menit ke-105 sudah cukup. Spanyol menang 1-0 atas Argentina dan resmi menjadi Juara Piala Dunia FIFA 2026.

Kalau sepak bola memang permainan yang ditentukan oleh gol, maka pertandingan ini adalah bukti bahwa kesabaran kadang lebih mematikan daripada serangan yang membabi buta.

Sejak peluit pertama berbunyi, Spanyol seolah tidak memberi Argentina ruang untuk bernapas. Bola lebih sering berwarna merah ketimbang biru-putih. Penguasaan bola mencapai 68 persen menjadi bukti bagaimana La Furia Roja mengendalikan tempo pertandingan.

Namun dominasi tidak otomatis berubah menjadi gol.

Argentina masih memiliki Emiliano Martínez. Kiper yang sudah berkali-kali menjadi penyelamat negaranya itu kembali menunjukkan kelasnya. Peluang demi peluang dari Lamine Yamal hingga Dani Olmo berhasil dimentahkan. Berkali-kali pendukung Spanyol berdiri dari kursinya, lalu kembali duduk sambil menghela napas karena bola tak kunjung bersarang di gawang.

Di sisi lain, Argentina lebih memilih bertahan dan sesekali melancarkan serangan balik. Strategi itu sebenarnya berjalan cukup baik. Sampai akhirnya datang satu momen yang mengubah seluruh arah pertandingan.

Menit ke-90+4.

Enzo Fernández melakukan pelanggaran terhadap Pau Cubarsí. Wasit tak ragu mengeluarkan kartu kuning kedua yang otomatis berubah menjadi kartu merah.

Di titik itulah pertandingan seperti bergeser porosnya.

Bermain dengan 10 orang saat menghadapi Spanyol sama rasanya seperti mencoba menahan ombak dengan kedua tangan. Bisa dilakukan sesaat, tetapi pada akhirnya akan jebol juga.

Memasuki babak tambahan, Spanyol semakin percaya diri. Serangan datang bergelombang, sementara Argentina mulai kehilangan tenaga dan ruang.

Lalu, pada menit ke-105, Ferran Torres muncul sebagai tokoh utama.

Sebuah penyelesaian tenang mengakhiri kebuntuan yang sudah bertahan lebih dari satu setengah jam. Stadion MetLife meledak. Bangku cadangan Spanyol berhamburan ke tepi lapangan. Ferran Torres tak hanya mencetak gol, tetapi juga memastikan satu negara kembali duduk di singgasana sepak bola dunia.

Argentina masih mencoba membalas pada sisa waktu pertandingan. Namun, dengan satu pemain lebih sedikit dan tekanan yang terus datang, upaya itu tak pernah benar-benar mengancam.

Peluit panjang akhirnya berbunyi.

Spanyol berpesta.

Argentina harus menerima kenyataan bahwa mahkota juara dunia lepas dari genggaman.

Yang menarik, kemenangan Spanyol bukan sekadar soal skor. Statistik pertandingan menunjukkan betapa dominannya mereka sepanjang laga. La Furia Roja menguasai bola hingga 68 persen, melepaskan 20 tembakan dengan 11 mengarah ke gawang. Sebaliknya, Argentina hanya mampu mencatatkan dua tembakan sepanjang pertandingan tanpa satu pun yang tepat sasaran.

Final ini pada akhirnya menjadi cerita tentang kesabaran yang dibayar lunas. Spanyol tidak menang dengan pesta gol, tetapi dengan kemampuan terus mengetuk pintu hingga akhirnya terbuka.

Dan ketika pintu itu terbuka, nama Ferran Torres akan selalu dikenang sebagai sosok yang mengantarkan La Furia Roja kembali menjadi raja sepak bola dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1

7 Agustus 2026 - 22:23

Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan

7 Agustus 2026 - 20:50

Persija Disingkirkan Persib di Piala Presiden 2026, Shin Tae-yong: Saya Tidak Puas, tapi Ini Baru Pemanasan

4 Agustus 2026 - 21:43

Bukan Cuma Turnamen, ASICS Community Slam 2026 Bangun Ekosistem Tenis dan Padel Indonesia

4 Agustus 2026 - 19:34

Gianni Infantino Dilaporkan Hadapi Tudingan “Suap” Terkait Rencana Penjualan Saham Piala Dunia FIFA

30 Juli 2026 - 16:12

Trending di Internasional