PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Jakarta selalu punya cerita yang agak “nyeleneh”: di satu sisi gedung tinggi menjulang, di sisi lain masih ada warga yang hidup berdampingan dengan rel kereta. Tapi belakangan, cerita itu mulai diutak-atik ulang.
Sabtu (25/4/2026), Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya datang langsung mengecek progres pembangunan hunian baru untuk warga di sekitar Stasiun Pasar Senen. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, tapi tindak lanjut dari instruksi Prabowo Subianto yang sebelumnya sempat blusukan mendadak ke lokasi pada 26 Maret 2026.
“Pagi tadi, saya bersama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Bapak Bobby Rasyidin, mengecek kembali perkembangan pembangunan hunian untuk tempat tinggal warga di pinggiran rel sekitar Stasiun Pasar Senen ini,” kata Teddy.
“Bapak Presiden sendiri sempat mendadak mengunjungi lokasi pemukiman warga tersebut, tepat 1 bulan lalu, pada 26 Maret 2026,” sambungnya.
Dulu: Hidup di Pinggir Rel, Sekarang: Digeser 500 Meter Lebih Manusiawi
Kalau selama ini kita sering melihat rumah-rumah yang nyaris “nempel” ke rel dengan suara kereta jadi alarm alami setiap hari pemerintah tampaknya mulai merasa ini bukan lagi cerita yang bisa dibiarkan.
Menurut Teddy, kondisi warga selama puluhan tahun memang jauh dari kata ideal.
“Sejak puluhan tahun lalu, masih banyak warga yang tinggal di pinggir rel kereta, tanpa atap yang layak, tidak memiliki fasilitas air bersih dan fasilitas MCK,” tuturnya.
Solusi yang ditawarkan? Bukan sekadar menggusur lalu selesai, tapi memindahkan warga ke hunian baru yang jaraknya sekitar 500 meter dari rel. Masih dekat, tapi tidak lagi “terancam tiap kereta lewat”.
Hunian ini dilengkapi fasilitas yang jujur saja terdengar sederhana, tapi selama ini justru jadi kemewahan bagi sebagian warga: MCK, air bersih, tempat ibadah, sampai ruang bermain anak.
“Lokasi hunian yang baru ini, terletak sekitar 500 meter dari lokasi rel kereta Pasar Senen. Dengan fasilitas hunian, MCK, air bersih, tempat ibadah dan arena bermain anak dan fasilitas lainnya,” jelas Teddy.
Proyek Ngebut: Kolaborasi Pemerintah dan BUMN
Yang menarik, proyek ini tidak jalan santai ala birokrasi klasik. Teddy menyebut pembangunan dilakukan relatif cepat berkat kerja bareng antara Kementerian Perumahan dan sejumlah BUMN.
Dan ini baru permulaan.
“Penataan pemukiman menjadi lebih layak juga akan dilakukan di tempat lain secara bertahap dan berkala,” pungkas Teddy.
Artinya, Senen bisa jadi “pilot project” untuk kawasan bantaran rel lain yang punya cerita serupa.
Peran KAI: Bukan Cuma Ngurus Kereta, Tapi Juga Warganya
Di sisi lain, PT Kereta Api Indonesia juga ikut bergerak. Direktur Utamanya, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa pihaknya sedang menjalankan instruksi Presiden untuk mendata sekaligus menata kawasan sekitar rel.
“KAI mendukung instruksi Presiden melalui inventarisasi permukiman warga udi sekitar jalur rel dan pengamanan area. Kami berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk solusi jangka pendek, serta dengan kementerian dan pihak lainnya untuk langkah jangka panjang,” ujar Bobby.
Langkah ini dimulai dari kawasan Pasar Senen, tapi tidak berhenti di sana. Targetnya: seluruh jalur rel dengan kondisi serupa.
Presiden juga menekankan pentingnya solusi yang tidak tambal sulam alias harus ada rencana jangka pendek dan panjang sekaligus.
Bukan Sekadar Relokasi, Tapi Penataan Hidup
Penataan ini bukan cuma soal memindahkan rumah. Ada agenda yang lebih besar: menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan terhubung dengan pusat ekonomi.
KAI sendiri mengelola lebih dari 327 juta meter persegi lahan. Di wilayah Jabodetabek saja, potensi pengembangan hunian mencapai sekitar 131 ribu unit di sekitar simpul transportasi.
“Penataan permukiman di sekitar jalur rel menjadi bagian penting untuk menghadirkan lingkungan yang lebih layak bagi masyarakat sekaligus memperkuat keselamatan perjalanan kereta api,” kata Bobby menambahkan.
Antara Harapan dan Realita
Program ini terdengar ideal: warga dapat hunian layak, rel jadi lebih aman, kota lebih tertata. Tapi seperti biasa, ujian sebenarnya bukan di rencana, melainkan di konsistensi pelaksanaan.
Apakah semua warga akan benar-benar mendapat hunian yang dijanjikan? Apakah fasilitasnya akan terus terawat, bukan sekadar bagus di awal?
Yang jelas, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kehidupan di pinggir rel tidak lagi dianggap “takdir kota”, tapi masalah yang mulai serius dibereskan.







