PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di Jakarta, siomai itu makanan rakyat murah, mengenyangkan, dan kadang jadi penolong di tanggal tua. Tapi belakangan, ada cerita yang bikin kita harus sedikit curiga sebelum menggigit.
Soalnya, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta alias DKPKP menemukan perbedaan mencolok antara siomai berbahan ikan konsumsi normal seperti ikan tenggiri dan yang diduga memakai ikan sapu-sapu.
Dan ini bukan cuma soal rasa. Ini soal kesehatan juga.
Ciri-Ciri Siomai: Antara yang Layak Makan dan yang Bikin Merinding
Kepala Bidang Perikanan DKPKP DKI Jakarta, Eny Suparyani, mengingatkan kalau masyarakat harus mulai lebih jeli.
“Siomai dari ikan yang layak konsumsi seperti tenggiri umumnya berwarna putih atau abu-abu terang, teksturnya halus dan padat, serta memiliki aroma gurih yang tidak amis menyengat,” kata Eny.
Sebaliknya, kalau kamu menemukan siomai dengan tampilan agak “murung”, ada baiknya mulai waspada.
“Warna cenderung lebih gelap dan kusam, berbau amis kuat bahkan seperti lumpur, serta teksturnya bisa lebih keras dan tidak lembut. Harganya pun sering kali jauh lebih murah dan tidak wajar,” jelas Eny.
Kalimat terakhir itu penting: murah boleh, tapi kalau terlalu murah patut dicurigai.
Masalahnya Bukan Sekadar Jijik, Tapi Bisa Bahaya
Kalau cuma soal rasa, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi hasil uji laboratorium menunjukkan cerita yang jauh lebih serius.
Daging ikan sapu-sapu diketahui mengandung logam berat timbal (Pb) sekitar 0,365 mg/kg melewati ambang batas aman <0,3 mg/kg. Belum cukup, ditemukan juga bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana tapi mengkhawatirkan: habitat.
“Ikan ini hidup di lingkungan dengan kualitas air yang tidak baik, sehingga berisiko tinggi terpapar kontaminan,” kata Eny.
Dan kalau kita bicara Jakarta, salah satu habitatnya ya bukan kolam jernih ala iklan air mineral, melainkan sungai seperti Sungai Ciliwung yang kualitas airnya masih jadi pekerjaan rumah panjang.
Dampaknya: Dari Mual Sampai Gangguan Saraf
Mengonsumsi ikan dari lingkungan tercemar bukan cuma soal perut mulas sebentar.
Paparan logam berat seperti timbal bisa memicu gangguan saraf, kerusakan ginjal, gangguan pencernaan, bahkan masalah pertumbuhan pada anak. Sementara bakteri seperti E. coli dan Salmonella bisa bikin diare, muntah, demam, sampai dehidrasi.
Dengan kata lain: ini bukan sekadar salah pilih jajanan, tapi bisa jadi investasi penyakit.
“Yuk lebih bijak dalam memilih konsumsi ikan. Utamakan yang aman, sehat, dan bernilai gizi tinggi demi kesehatan kita bersama,” ucap Eny.
Tips Biar Nggak Ketipu Siomai “Abal-Abal”
Supaya tidak terjebak siomai misterius, ada beberapa hal sederhana yang bisa diperhatikan:
- Pilih warna yang wajar: putih atau abu terang
- Hindari aroma amis berlebihan apalagi bau lumpur
- Tekstur harus kenyal dan halus, bukan keras aneh
- Jangan tergoda harga yang terlalu murah
- Pastikan produk punya izin seperti PIRT, BPOM, dan label halal
DKPKP sendiri juga tidak tinggal diam. Mereka membina ratusan pelaku usaha olahan ikan di Jakarta agar produk yang beredar tetap aman.
“Berdasarkan data, binaan perikanan yang aman di konsumsi di DKI Jakarta total ada 525 pelaku usaha. Rinciannya 59 pelaku usaha siomai, 23 pelaku usaha tekwan, 37 pelaku usaha otak-otak, 139 pelaku usaha pempek, 326 pelaku usaha bakso,” katanya.
Antara Hemat dan Sehat
Di kota yang serba mahal, wajar kalau kita tergoda makanan murah. Tapi ada satu hal yang sering lupa: yang murah belum tentu murah kalau ujung-ujungnya bayar di rumah sakit.
Jadi lain kali beli siomai, mungkin bukan cuma sambalnya yang perlu dicek. Tapi juga ikan apa yang diam-diam ikut tergiling di dalamnya.







