KOLOM ANGKER – Tahun 1990.
Aku masih ingat jelas langkah pertama masuk ke rumah besar bercat putih di Mertoyudan, Magelang. Dari luar, rumah itu terlihat tenang di antara kebun rambutan yang basah oleh embun dan sawah yang mengeluarkan aroma tanah basah. Tapi begitu melangkah masuk, aku tersedak udara terasa berat, sejuk, tapi seperti menekan paru-paruku. Ada sesuatu yang diam, mengamati, tapi tak terlihat.
Namaku Wahyu Inayah, 23 tahun. Aku pengasuh baru untuk keluarga muda: Pak Sasmitha, Bu Yayuk, dan putri mereka Ajeng, hampir dua tahun. Aku tidur sekamar dengan Ajeng di lantai dua, di kamar remang dengan cahaya lampu minyak kecil yang bergetar di angin malam.
Di lantai bawah, Evi, asisten rumah tangga, sibuk sendiri. Pak Wito, tukang kebun, datang tiap pagi, tapi kadang angin malam membawa bau rumput basah dari kebun yang menusuk hidungku hingga kepala terasa ringan. Kadang, Nenek Nafilah datang. Orangnya lembut, tapi ada sesuatu di aura tubuhnya yang membuat udara di sekitarnya dingin, menusuk kulit, dan membuat bulu kuduk berdiri.
Pertemuan Malam Pertama
Sekitar jam sepuluh malam, aku terbangun. Ada rasa berat di pinggir ranjang, seperti seseorang duduk di sana. Aku membuka mata perlahan… dan Nenek Nafilah duduk di tepi ranjang Ajeng, memegang lilin yang menyala di atas cawan. Cahaya lilin menari-nari di wajahnya, membuat bayangan panjang menempel di dinding.
Udara di kamar tiba-tiba harum, campur aroma dupa pekat. Tapi aroma itu… menusuk, membuat tiap napasku terasa tegang.
Beliau tersenyum padaku. Ajeng mulai menggeliat, menggerutu kecil. Nenek Nafilah mengusap kepala Ajeng dan mulai menyenandungkan kidung Jawa:
“Tak lelo, lelo, lelo ledung…
Cep meneng aja pijer nangis…
Anakku sing ayu rupane…
Yen nangis ndak ilang ayune…”
Suaranya lembut, merdu, tapi… ada getaran aneh dalam nadanya. Seolah kidung itu bukan hanya untuk menidurkan Ajeng, tapi juga memanggil sesuatu dari sudut gelap kamar.
Aku menekuk tubuh, menahan napas. Bau dupa, wangi kayu terbakar, dan udara malam dingin seperti menusuk tulang-tulangku. Detik demi detik terasa seperti berjam-jam. Aku tertidur akhirnya… tapi malam itu meninggalkan rasa tekanan di dadaku, seolah ada mata yang terus menatap dari sudut kamar.
Rahasia Evi
Lima bulan bekerja di rumah itu membuatku nyaman tapi kadang rasa penasaran muncul. Suatu sore, kami duduk di halaman belakang, udara hangat bercampur aroma tanah basah karena hujan semalam.
“Kamu betah, Vi?” tanyaku.
Evi diam sejenak, menunduk, suara lembut tapi ada nada gelisah:
“Betah… tapi dua pengasuh sebelum kamu gak lama. Katanya gak kuat.”
Aku menelan ludah, menatap jalan setapak basah yang berembun. Ada ketegangan samar di wajahnya, seperti ingin berkata sesuatu tapi menahan. Aku berpikir sejenak, menatap daun-daun basah yang bergetar pelan diterpa angin… seakan menyembunyikan rahasia.
Penampakan di Hujan Pagi
Keesokan harinya hujan turun rintik-rintik, udara menusuk kulit, membuat pakaian menempel. Aku membawa Ajeng ke teras depan.
Seorang wanita muncul di pagar rambut putih, sanggul rapi, batik gelap Nenek Nafilah. Langkahnya hening, tapi setiap jejak seolah meninggalkan hawa dingin yang menusuk kaki.
“Nak Ajeng turu, ya?”
Aku mengangguk. Ia tersenyum, mengelus pipi Ajeng, lalu menyenandungkan kidung yang sama. Angin malam masuk dari celah jendela, menggoyangkan gorden, membawa aroma tanah basah dan embun. Udara terasa lebih dingin, bergetar, seperti napas halus yang menyapu kulitku.
Ketika aku menyiapkan teh untuknya, Bu Yayuk pulang. Matanya membulat:
“Wahyu… Nenek gak datang, Nak. Nenek… sudah meninggal.”
Tubuhku mendadak kaku. Semua malam-malam aneh, semua kidung… ternyata bukan dari manusia yang masih hidup.
Malam yang Tak Pernah Tenang
Malam itu, jam hampir sebelas. Aku tidur di samping Ajeng. Angin masuk dari jendela, meniup gorden tipis—suara desis seperti bisikan halus.
Tiba-tiba terdengar langkah perlahan dari lantai atas:
Tok… tok… tok…
Tiga ketukan di pintu, diikuti bunyi engsel terbuka pelan: krekkk…
Aku menahan napas. Kidung itu terdengar lagi, lebih dekat, lebih berat:
“Tak lelo, lelo, lelo ledung…”
Aku merasakan hembusan napas dingin di tengkukku. Dari pantulan kaca lemari, kulihat bayangan sosok: wajah Nenek Nafilah yang mengerikan, kulitnya keriput membusuk, mata cekung hitam, bibir sobek tersenyum, tubuh membungkuk menidurkan Ajeng.
Kidungnya berganti menjadi rintihan panjang, bergema di kamar, meresap ke tulang.
Ketika aku membuka mata… sosok itu berdiri di samping ranjangku. Bau busuk menusuk, tapi seketika berubah menjadi wangi kantil segar. Ia menatapku diam, lalu menghilang seiring hembusan angin dingin yang memadamkan lilin.
Takut untuk Tidur Sendirian
Sejak malam itu, aku tak pernah berani tidur di kamar atas. Ajeng dipindahkan ke kamar bawah. Aku pamit dari rumah, pindah ke Surabaya karena menikah.
Tapi sampai hari ini, kalau mendengar kidung “tak lelo lelo ledung”, bulu kudukku selalu berdiri. Karena aku tahu… kadang lagu peniduran bukan hanya untuk anak kecil. Tapi untuk arwah yang masih ingin menidurkan cinta terakhirnya.
Penulis : Ristanto | Editor : Ivan
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











