Menu

Mode Gelap
Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan iOS 26.4 Hadir, Fitur Keamanan iPhone Kini Bikin Maling Ketar-ketir Diduga Hendak Bunuh Diri di Depan Istana, Perempuan Diamankan usai Lepas Sepatu

Kolom Angker

Urban Legend Anang Ajar: Kutukan Sungai Berdarah di Mahakam

badge-check


					Urban Legend Anang Ajar: Kutukan Sungai Berdarah di Mahakam Perbesar

PRABA INSIGHT – Hujan mengguyur deras di sepanjang bantaran Sungai Mahakam malam itu. Kabut tipis mengambang di permukaan air, menyelimuti desa-desa kecil yang berbaris di tepiannya. Aroma tanah basah dan gemerisik dedaunan menambah kesan muram.

Di antara riak-riak sungai, sesosok bayangan hitam tampak berdiri di bawah pohon besar, matanya menatap lurus ke arah perkampungan.

Warga menyebutnya Anang Ajar, sosok penunggu sungai yang dipercaya membawa kutukan bagi siapa saja yang berani melintasi Mahakam pada malam Jumat Kliwon.

Cerita itu sudah beredar turun-temurun, dianggap tak lebih dari sekadar mitos oleh sebagian orang. Namun, bagi mereka yang pernah melihatnya, Anang Ajar adalah kenyataan yang tak bisa disangkal.

Kisah bermula puluhan tahun lalu, ketika seorang lelaki paruh baya bernama Tupa menemukan tubuh anaknya mengambang di sungai dengan luka-luka aneh di sekujur tubuh. Tidak ada tanda perlawanan, seolah-olah bocah itu menyerahkan dirinya tanpa suara.

Warga mengatakan itu ulah buaya atau arus sungai yang deras, tapi Tupa yakin ada sesuatu yang lebih gelap mengintai di dasar sungai. Sesuatu yang menuntut tumbal.

Sejak kematian anaknya, Tupa menjadi sosok yang pendiam. Ia kerap terlihat duduk di tepi sungai saat senja, berbicara sendiri seakan tengah berdialog dengan seseorang yang tak kasatmata.

“Anak itu sudah kembali,” katanya suatu hari, wajahnya pucat dengan mata yang kosong. Warga menganggapnya gila, sampai suatu malam suara tangis terdengar dari arah sungai.

Suara itu tak menyerupai manusia, terlalu dalam dan serak. Beberapa warga yang nekat mencari sumber suara berakhir tak kembali.

Mereka yang selamat menggambarkan sosok besar dengan tubuh bersisik, mata merah menyala, dan tangan yang panjang menjulur dari permukaan air.

Anang Ajar, begitu warga menamainya. Sosok yang dipercaya sebagai jelmaan roh penasaran yang haus akan nyawa. Sejak saat itu, tidak ada yang berani menyeberangi sungai saat malam tiba.

Anang Ajar adalah penunggu yang sabar, menanti langkah kaki manusia yang lengah di bibir sungai.

Namun, tidak semua orang percaya. Hingga suatu malam, seorang pemuda bernama Danu menantang kutukan itu. Ia menyeberangi sungai dengan perahu kecilnya saat kabut turun tebal.

Tidak ada yang melihatnya kembali, kecuali perahu kosong yang hanyut esok paginya, dengan jejak tangan panjang mencengkeram sisi-sisinya.

Duka melingkupi keluarga Danu, dan ketakutan menyebar di antara penduduk desa. Orang-orang mulai memasang sesajen di tepi sungai, membakar dupa dan melemparkan bunga-bunga ke dalam air yang hitam pekat. Mereka berbisik dalam doa, berharap Anang Ajar tak lagi mengambil nyawa orang terkasih.

Tetua adat memutuskan mengadakan ritual pembersihan. Para pemangku adat, lengkap dengan pakaian tradisional, berdiri di tepian sungai, mengucapkan mantra-mantra kuno yang dipelajari turun-temurun.

Asap kemenyan mengepul tebal, bercampur dengan aroma dupa yang menyengat. Air sungai tampak beriak, seolah berbisik mengikuti alunan mantra.

Namun, sesuatu yang tak diharapkan terjadi. Riak kecil di permukaan berubah menjadi gelombang. Para tetua saling pandang dengan wajah penuh tanya. Seketika, suara erangan panjang menggema dari dasar sungai. Semua orang tercekat, beberapa jatuh bersimpuh, menangis histeris.

Di antara gemuruh air yang mengamuk, sesosok tubuh bersisik muncul perlahan, matanya merah menyala. Tangan panjangnya menjulur, seakan mencari seseorang di antara kerumunan.

Sejak saat itu, ritual pembersihan tak pernah dilakukan lagi. Sungai Mahakam tetap menjadi misteri yang diselimuti kabut dan bisik-bisik ketakutan. Anang Ajar tetap menunggu, sabar dan abadi, di antara riak-riak air yang tak pernah tenang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Malam di Kampung Setan: Aku Melihat Mereka Menari Tanpa Kepala

19 Maret 2026 - 15:35 WIB

“Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu”

5 Maret 2026 - 15:57 WIB

Teror Kuburan Mawar Biru: Sosok Perempuan Kelaparan yang Menggali Mayat Anak

5 Maret 2026 - 15:44 WIB

Teror Mencekam Lantai 15 Sudirman–Thamrin: Sosok Pria Melayang dan Wanita di Plafon Menghantui Shift Malam

26 Februari 2026 - 14:25 WIB

Teror Erangan Babi di Ujung Senja: Ritual Terlarang yang Membuka Pintu Kegelapan di Sebuah Kampung Sunyi

26 Februari 2026 - 14:08 WIB

Trending di Kolom Angker