Menu

Mode Gelap
GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang

News

KAMMI Jakarta Raya Bicara Demokrasi: Supremasi Sipil, Ancaman Digital, dan Dugaan Makar

badge-check

KAMMI Jakarta Raya gelar Dialog Kebangsaan, menegaskan pentingnya supremasi sipil, waspada ancaman digitalisasi terhadap demokrasi, dan mendesak pemerintah usut dugaan makar. (Foto:Istimewa) Perbesar

KAMMI Jakarta Raya gelar Dialog Kebangsaan, menegaskan pentingnya supremasi sipil, waspada ancaman digitalisasi terhadap demokrasi, dan mendesak pemerintah usut dugaan makar. (Foto:Istimewa)

PRABA INSIGHT – Jakarta – Minggu sore (14/9/2025), Aula Asrama Mahasiswa Sunan Giri di Jakarta mendadak ramai. Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jakarta Raya menggelar Dialog Kebangsaan dengan tema “Mengukuhkan Ruang Demokrasi & Supremasi Sipil.” Dua pembicara hadir: Ketua PP KAMMI, M. Amri Akbar, dan akademisi Dr. Abd. Rahmatullah.

Dari awal, suasana diskusi terasa hidup. Mahasiswa dan pemuda memenuhi ruangan, saling berebut mic, seolah takut melewatkan kesempatan jadi bagian sejarah kecil ini. Ketua PW KAMMI Jakarta Raya, Andre, mengingatkan bahwa ruang intelektual semacam ini tidak boleh padam.

“Kita harus belajar banyak dari peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu, khususnya aksi Agustus. Dari sana kita melihat betapa pentingnya mahasiswa dan pemuda terus meng-upgrade diri, menambah wawasan, serta memperkuat pemahaman tentang kondisi kebangsaan kita,” ujar Andre.

Sipil Jangan Tergusur

Dr. Abd. Rahmatullah, yang kebagian giliran pertama, langsung menyoroti isu serius: supremasi sipil. Menurutnya, posisi sipil dan militer harus tegas dipisahkan.

“Salah satu batasan mendasar yang harus kita pahami bersama adalah bahwa jabatan publik strategis seharusnya diisi oleh masyarakat sipil. Sementara militer fokus pada fungsi pertahanan negara. Jika fungsi ini dicampuradukkan, misalnya ketika TNI memegang posisi-posisi sipil yang strategis, maka hal itu berpotensi mereduksi peran masyarakat sipil dan melemahkan demokrasi,” tegas Rahmatullah.

Pesannya jelas: sipil jangan sampai jadi tamu di rumahnya sendiri.

Demokrasi di Era Timeline

Sementara itu, M. Amri Akbar bicara soal tantangan lain: digitalisasi. Menurutnya, ruang demokrasi kini banyak bergeser ke dunia digital. Sayangnya, alih-alih memperkuat kualitas demokrasi, ruang digital kadang justru bikin substansi diskusi tercerabut.

“Hari ini demokrasi kita tereduksi oleh sistem digitalisasi. Ruang diskursus bergeser, bahkan sering kali sporadis hingga merongrong esensi demokrasi. Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa dan pemuda harus tetap solid. Organisasi kepemudaan (OKP) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) harus mengambil peran penting untuk menjaga agar demokrasi tidak kehilangan arah,” ujar Amri.

Ia menekankan bahwa teknologi tidak bisa dihindari. Namun, digitalisasi sebaiknya diarahkan untuk memperkuat, bukan melemahkan, demokrasi. “Digitalisasi harus kita kelola agar menjadi instrumen penguatan demokrasi. Pemuda, khususnya mahasiswa, harus hadir sebagai garda terdepan dalam memastikan bahwa bangsa ini tetap tegak di atas nilai-nilai demokrasi yang sehat,” tambahnya.

Pernyataan Sikap

Sebagai penutup, PW KAMMI Jakarta Raya menyampaikan dua poin sikap:

  1. Supremasi sipil harus ditegakkan untuk menjaga ruang demokrasi dan kedaulatan rakyat.
  2. Pemerintah didesak membentuk tim investigasi independen untuk mengusut dugaan makar.

Dialog kebangsaan ini menunjukkan, bagi KAMMI, mahasiswa bukan sekadar “penonton tribun” politik nasional. Mereka merasa perlu ikut bicara, bahkan mengambil sikap, di tengah hiruk-pikuk demokrasi yang kian kompleks. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Trending di News