Menu

Mode Gelap
GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang

Music

Teddy Adhitya & White Chorus Lepas “Jaga Nafas”: Lagu Kontemplatif di Tengah Pembabatan Alam

badge-check

Lagu baru Teddy Adhitya, “Jaga Nafas”, hasil kolaborasi dengan White Chorus, mengangkat keresahan soal kerusakan lingkungan. Diproduksi daring dan dirilis lewat TED Records.(Foto: Ist) Perbesar

Lagu baru Teddy Adhitya, “Jaga Nafas”, hasil kolaborasi dengan White Chorus, mengangkat keresahan soal kerusakan lingkungan. Diproduksi daring dan dirilis lewat TED Records.(Foto: Ist)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Setelah melepas “Bayangkan Ku Hilang” pada Juli 2025, Teddy Adhitya balik lagi membawa amunisi baru. Judulnya “Jaga Nafas”. Tapi kali ini Teddy nggak sendirian ia menggandeng duo electro pop asal Bandung, White Chorus, buat ngasih warna lain di lagu yang bernapas gelisah ini.

Gelisah kenapa? Karena Teddy lumayan kesal melihat berita soal perusakan dan eksploitasi lingkungan yang makin hari makin rame kayak notifikasi grup WhatsApp keluarga. Ironisnya, Indonesia yang sering dipuji sebagai “paru-paru dunia”, justru kayak orang yang kecanduan ngerokok: paru-parunya rusak karena tata kelola alam yang, menurut Teddy, lumayan abai.

Keresahan itu langsung ditodongkan Teddy lewat pembuka lagu yang menohok:

“Coba kau lihat pohon-pohon yang berjatuhan, hidup ditanami keuntungan mematikan.”

“Jaga Nafas” bukan lagu yang sok-sokan ceramah. Teddy ingin karya ini jadi momen jeda semacam ajakan buat ngaca bareng, mikir: “Gue sudah berkontribusi apa, ya, soal lingkungan?” Sebelum akhirnya kita semua keburu tinggal di planet yang lebih gerah dari Jakarta tengah hari.

Awalnya, Teddy memproduksi lagu ini sendirian. Tapi dia ngerasa ada sesuatu yang kurang yaitu sentuhan vokal perempuan biar emosinya lebih mekar. Jadilah ia mengajak White Chorus, duo berisi Emir dan Friska, yang suaranya pas banget buat meresapi kegelisahan ekologis ini. Kerja bareng itu kemudian melebar jadi kerja kolaboratif penuh, sampai akhirnya White Chorus ikut memproduseri lagu ini.

Uniknya, proses kreatif dan rekaman “Jaga Nafas” hampir sepenuhnya dilakukan secara daring. Teddy, Emir, dan Friska cuma modal diskusi digital, kirim-kiriman file, dan saling koreksi lewat internet. Jarak bukan halangan; yang penting folder rekamannya nggak korup.

Ketiganya sepakat: lagu ini bukan khutbah. “Jaga Nafas” justru dimaksudkan sebagai pengingat bareng-bareng, bahwa alam itu bukan sekadar latar belakang Instagram. Dampaknya ke manusia nyata, dan kalau nggak dijaga, ya wassalam.

“Jaga Nafas” dirilis lewat TED Records, label independen milik Teddy sendiri. Rilisan ini juga jadi bagian kerja sama TED Records dan KithLabo, divisi Believe Artist Services di Indonesia. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

“Batas Waktu”, Lagu Baru Zhafari yang Mewakili Perasaan Menunggu Tanpa Pernah Dipilih

28 Juli 2026 - 21:26

Claudia Desy Tampil Memikat di Singing Competition Indomaret, Lagu Pilihannya Bikin Penasaran

4 Juli 2026 - 17:41

Swarm Lepas “Amayadori”, Lagu Tentang Berdamai dengan Hidup Setelah Dihantam Badai Kesalahan

14 Juni 2026 - 19:34

The Candle Light Children Comeback Lewat “Mangoes”, Lagu Tentang Lari dari Masalah yang Ujungnya Balik Lagi

25 April 2026 - 10:56

Comeback Setelah 3 Tahun Vakum, GADIS Lepas “Kuingin Mencoba” dan Siap Bangkitkan RnB Indonesia

25 April 2026 - 10:46

Trending di Music