PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau ada perusahaan yang hidupnya kayak orang selalu bilang “aku baik-baik saja kok”, padahal tiap bulan gali lubang tutup lubang, mungkin namanya adalah PT PLN (Persero). Perusahaan listrik kesayangan negara ini yang monopoli sudah di tangan, pelanggan nggak punya pilihan lain—ternyata kondisi keuangannya justru lagi ngos-ngosan.
Data dari Center for Budget Analysis (CBA) bikin alis ikut naik. Sepanjang 2024, utang PLN tembus Rp711,2 triliun. Iya, betul. Triliun. Angka yang kalau dituliskan di papan tulis, gurunya capek duluan sebelum selesai.
Kenaikannya pun bukan kaleng-kaleng: ada tambahan sekitar Rp56,2 triliun dibanding 2023. Katanya sih, sebagian besar disumbang dari dua jenis utang:
- Utang jangka pendek naik jadi Rp172 triliun
- Utang jangka panjang membengkak sampai Rp539,1 triliun
Ibarat orang yang kredit motor, mobil, rumah, dan kos-kosan sekaligus, PLN seperti sedang mencoba mode financial survivor tingkat dewa.
Masalahnya, di saat utang naik kaya grafik perekonomian negara tetangga, laba bersih PLN malah turun drastis. Jadi ini seperti bekerja lebih keras, tapi gaji malah menciut. Bedanya, kalau kita masih bisa pindah kerja, PLN? Ya tetap harus nyalain listrik se-Indonesia.
Menurut CBA, posisi utang di level segini sudah masuk kategori:
“Yang sabar ya, semoga kuat.”
Alias: mengkhawatirkan.
Tekanan keuangan PLN kelihatan makin berat, meski statusnya perusahaan negara yang memonopoli listrik dari Sabang sampai Merauke. Ironisnya, pelanggan tetap terima SMS tagihan tiap bulan dengan penuh keteguhan iman, sementara perusahaannya sendiri sedang megap-megap mengatur napas.
Singkatnya, listrik memang tetap nyala.
Tapi laporan keuangannya… kayaknya butuh charger juga.






